Lagi lagi, air mata ini jatuh karenamu.
Aku tak bisa membayangkan, berapa banyak air mata yang telah jatuh.
Ku kira kau hanya masa lalu. Namun ternyata, tidak semudah itu menjadikan kau hanya sebagai masa laluku. Aku terlalu berat untuk melupakanmu. Melupakan semua kenangan kita. Kau masih saja ada dalam masa kini, masa dimana aku telah melewati beberapa insan lainnya, namun akhirnya kembali padamu. Aku tak tahu harus memulai darimana untuk melupakan segala kenangan kita. Ingatan ini terlalu kuat. Tidak seperti saat mengingat pelajaran, rasanya beberapa jam pun ingatan itu akan mudah hilang. Andai saja, mengingatmu seperti mengingat pelajaran. Mudah untuk lupa. Tapi ini tidak.
Dalam diam, aku masih sering mengkhawatirkanmu. Memperdulikanmu. Memperhatikanmu. Mendukungmu. Mendo'akanmu... Semua data yang memperlihatkan kebahagiaan kita dulu membuatku semakin sulit untuk melupakanmu.
Aku masih ingat, kapan pertama kali kamu membuatku tersenyum bahagia. Dan.. pertama kali kamu membuatku kecewa. Ah.
Aku rindu. Rindu ketika melihat beberapa benda yang dapat mengingatkanku padamu. Entah itu barang yang pernah kau berikan untukku, atau hanya sekedar kertas bertuliskan iseng-isengan, atau mungkin foto kita berdua. Rasanya ingin ku bakar semua barang-barang itu, namun ku takut percuma. Dengan membakar semua benda itu, belum tentu kenangan kita pun terbakar, bukan? Betapa sulitnya membakar kenangan kita~ Mungkin karena kenangan kita telah menjadi abu yang tak lagi takut dengan api. Mengapa melupakanmu tidak semudah saat aku jatuh cinta padamu?
Aku tak tahu harus menyalahkan siapa. Musuh terbesarku adalah diriku sendiri. Ku coba untuk melawan hati, namun terlalu sulit.
Terkadang, kau seringkali menjadi inspirasiku. Setiap kisah cerita kita kutuangkan dalam sebuah tulisan dengan untaian kata yang indah. Hanya dengan kamu, aku merasakan semuanya berbeda. Perasaan yang sebelumnya belum pernah aku rasakan.
Sulit untuk aku membenci dirimu. Sekalipun orang-orang tidak menyukaimu, aku masih saja mencoba membelamu dalam bisuku. Walau aku tidak menyukai sikap keegoisanmu, namun seringkali hati ini memaafkan. Rasanya tak bisa lama-lama aku memendam rasa benci padamu.
Tuhan.. perasaan apakah ini? :'

Tidak ada komentar: