Semburat Sastra

Kamis, 09 April 2020

Hari Berganti
April 09, 20200 Comments
25 tahun sudah kulalui hidup ini.
Penuh kasih dariNya. Betapa Maha Baik-Nya Sang pemilik semesta menganugerahi segala nikmat yang terkadang masih sering diri alpa untuk bersyukur.

Seperempat abad berlalu... menguntai kisah. Mengukir jejak. Menyisakan kenangan. 
Tak ada yg berlalu begitu saja... semua telah terekam rapi dalam sebuah catatan..
Semoga.. kelak dapat membawa ke singgasanaNya yg indah. Bukan malah sebaliknya..
Lembaran catatan belum jua usai.. tebalnya halaman sudah ada yang merancang. Kita hanya miliki tugas, untuk terus memenuhi isinya... dengan kebaikan...
kebaikan..
kebaikan..
sampai cerita berhenti.. pada akhir waktunya.
Reading Time:

Kamis, 23 Januari 2020

kebahagiaan tersendiri
Januari 23, 20200 Comments
Ada kebahagiaan tersendiri
Saat bisa bersamanya seharian
Menggenggam jemarinya yang mungil
Memeluk tubuhnya yang kecil
Menggendong badannya yang makin hari kian bertambah berat
MengASIhinya
Memandikannya
Mengeloninya
Rasanya...
Ada bahagia
Cape? Pegal2 sih iya
Tapi... nikmat
Dan tak pernah ada sesal
Ingin terus bisa seperti ini
Setiap waktu
Setiap ada kesempatan

Kesempatan yang Allah beri
Melalui amanahnya
Kita bisa memupuk pahala
Asal ikhlas
Sabar
Semata-mata untuk meraih ridho-Nya
Reading Time:

Senin, 20 Januari 2020

terselesaikan
Januari 20, 20200 Comments
Alhamdulillah wa syukurillah.
La hawla wala kuwata illa billah.
Tiada daya upaya selain dgn pertolongan Allah.

Bukan tentang gelar, kelulusan, atau penobatan.
Tetapi tentang proses pencapaian, perjuangan, pengorbanan.
Kali ini betul2 merasakan hal yang berbeda, salah satunya; menempuh perjalanan sebagai mahasiswa sekaligus sebagai seorang istri, calon ibu yg sedang mengandung, sampai menjadi seorang ibu baru.

3 fase itu dilalui persis saat sedang menyusun tesis yg dimulai dari awal taun lalu. Alhamdulillah.. banyak belajar. Bukan ttg ilmu pengetahuannya. Tapi lebih daripada itu; Ilmu kehidupan.
Belajar sabar, syukur
Belajar tegar, kuat
Belajar menghadapi macam2 karakter manusia, belajar lebih menghargai
Belajar tawadhu, qanaah
Belajar
Belajar
Belajar

Sekali lagi. Tiada daya upaya.
Bukan diri ini yg hebat.
Tapi Allah yg mampukan.
Bukan diri ini yg pandai.
Tapi Allah yg berikan jalan.
.
.
"Asa bucat bisul" hehehe
Mungkin bagi yang lain, ini hal biasa. Sangat biasa.
Namun diri ini hanya ingin curhat. Betapa bersyukurnya. Betapa leganya.

Mungkin bagi org-org jarak grt-bdg terlalu dekat.
Tapi bagi ibu hamil 7bln yg naik bus untuk ngejar bimbingan, agak was2 juga di jalan.
Bagi ibu yg baru operasi melahirkan, ngejar bimbingan, keliling cari responden, agak linu juga di bekas jahitan.
Bagi busui yg harus ninggalin seharian bayi gemesnya, betapa sedih di lubuk hatinya yg terdalam.
Dan kisah lika-liku lainnya. #Balada emak muda.

Lagi2, pertolongan Allah itu nyata.
Saat kita merasa berada di titik terendah, bahkan Allah mengangkatnya dgn mengabulkan doa-doa kita.
Kuncinya; berserah. Pada Allah semata. Sang Maha Pemilik Segalanya.
.
.
#Eitt.. tapi jangan santai dulu. Masih ada revisi yg menanti✌😅
Reading Time:
1st Anniv
Januari 20, 20200 Comments
Happy 1st anniv..

Satu tahun telah kita lewati
Tanpa terasa
Maupun terasa
Penuh lika liku
Hikmah
Dan pembelajaran

Terima kasih atas selama ini
Atas kasihmu
Kesabaranmu
Nasihatmu
Being my support system
Best partner
My inspiration..

Semoga kita bisa terus saling mengasihi
Menyayangi
Mengingatkan
Menciptakan rumah tangga yg harmonis
Keluarga yg hangat
Menjadi suami-istri yg visioner dlm menjalani kehidupan
Menjadi orgtua yg tauladan untuk anak2 dan keturunannya

Hingga kelak kita sama2 bisa menjadi alasan untuk kita dimasukkan ke surgaNya
Amin
Reading Time:

Kamis, 19 Desember 2019

Menata Kisah (2)
Desember 19, 20190 Comments


Pagi itu adalah awal sejarah baru bagiku. Kenapa sejarah? Karena dia adalah momen berharga yang tak akan pernah terlupakan hingga kapanpun nanti semasa hidupku.
Mengalami langsung fase yang sejatinya mesti dilewati oleh setiap perempuan, adalah hal yang luar biasa. Baru kusadari setelahnya, perempuan adalah makhluk yang Tuhan ciptakan untuk mengemban amanah yang begitu besar.

Mulai dari menikah, seorang wanita harus merelakan dirinya untuk ikut dan menurut pada suami. Dan banyak juga yang harus meninggalkan kedua orang tuanya. Dalam artian, meninggalkan karena menjalankan perintah-Nya, bukan benar-benar meninggalkan dalam konotasi negatif.

Fase selanjutnya, Allah beri amanah kepada wanita untuk mengandung. 9 bulan lamanya. Merasakan ketidaknyamanan, bahkan kesakitan. Yang mana, lelaki tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya. Dan mereka harus tahu, bahwa kehadiran mereka adalah salah satu hal yang bisa menjadi penguat bagi wanita-wanita yang sedang berjuang ini. Bagaimana tidak, darah dagingnya sedang dititipkan di rahim wanita yang ia cintai.

Setelah itu, datanglah hari di mana fase ini begitu menyadarkan setiap perempuan untuk senantiasa mengingat pengorbanan dan perjuangan Ibunya dahulu. Ya, melahirkan. Itu yang hari itu sedang aku alami.

Luar biasa.

Hari itu, hari yang agung, hari penuh keberkahan. Jumat. Di luar prediksi. Jadi, pukul 2 dini hari, aku terbangun dari tidur dan hendak ke kamar mandi, seperti malam2 sebelumnya. Namun, kala itu ada yang berbeda, saat aku menyadari ada sesuatu yg lain yg keluar saat aku buang air kecil. Seperti lendir berwarna merah. Di situ aku tidak merasakan kontraksi atau apa pun, tapi aku sedikit bertanya-tanya. Apakah ini tanda2 bahwa hari-H itu telah tiba?
Lantas saat itu aku hanya melanjutkan tidur.
Sebelum adzan subuh, aku kembali terbangun. Dan aku mengeceknya lagi, ternyata keluar darah  seperti darah haid hari pertama. Merah kecoklatan.
Masih tidak terasa ada apa-apa. Aku melaksanakan shalat subuh. Lalu.. saat selesai shalat, aku berbaring di kasur. Ada sesuatu di dalam perutku yang seolah memancing untuk buang air besar. Aku ke kamar mandi.
Mulailah terasa ada mules. Tapi kupikir itu mules sakit perut. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Bulak balik wc semakin sering. Dan yg ketiga kali, tidak ada bab yang keluar. Tapi rasa mulesnya, muncul terus. Luar biasa. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya.
Sakit haid pun tidak seperti ini.
Dari situ aku bilang pada mamaku, apa ini yang dinamakan kontraksi?
Mama segera menghubungi kakakku, untuk minta tolong mengantar kami ke rs. Karena posisinya  saat itu suamiku masih di Jakarta. Aku sudah mengabarinya, tapi bukan mengabari bahwa aku akan melahirkan. Hanya, aku mengabari tentang masalah perutku yang mules ini.
Pukul 6 sampai setengah 8 aku di rumah, merasakan mules yang continue. Berkala. Tiap 5 menit sekali. Semakin sering. Rasanya tak tahan. Tapi kulantunkan terus asma-asma Allah. Dzikirullah. MasyaaAllah... subhanallah.. laillaha illallah. Teringat kembali momen itu.
Sekitar pukul setengah 8, akhirnya kakakku datang menjemput dengan mobil. Berangkatlah kami bertiga (aku, kakakku, dan mama) ke rs tni. Dengan keadaan perutku yang sudah tidak karuan rasanya.




Selamat hari ibu!♡






Reading Time:

Jumat, 30 Agustus 2019

Dear Suamiku
Agustus 30, 20190 Comments
 

Dear Suamiku..
Sudah makan siang belum? Jaga kesehatan selalu, ya :)
Di tengah kesibukan dan hiruk-pikuknya ibu kota. Kuharap kau selalu baik-baik saja.
Aku di sini senantiasa mendoakanmu.

Suamiku..
Aku tak tahu mengapa rasanya rindu tak pernah berkurang meski kita telah bertemu
Ia malah terus bertambah
Dan membuatku tidak ingin melepas genggaman tanganmu tiap kali kau pamit untuk kembali ke perantauan

Suamiku..
Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat
Itu yang sering orang katakan
Kita pun tentu sama merasakannya

Sudah delapan bulan kita lalui bersama
Meski jarak seringkali memisahkan raga
Tapi cinta selalu melekat dalam sukma
Halnya tempurung pada kura-kura

Suamiku..
Semakin hari aku menyadari betapa beruntungnya aku
Allah telah mengirimkan seseorang sepertimu dalam hidupku
Kau bukan hanya sosok yang kini aku cintai
Tetapi juga kukagumi

Aku seringkali merasa malu
Atas segala keterbatasan yang kumiliki
Engkau telah berperan begitu layak sebagai seorang imam
Sementara aku belum bisa menjadi sebaik-baiknya perhiasan

Suamiku..
Maafkan si pendamping hidupmu ini
Yang tak pernah luput dari kealpaan
Maafkan lisan yang tak sengaja pernah menggoreskan luka di dadamu
Maafkan laku yang sering tak berkenan di hatimu
Maafkan perangai yang masih jauh dari harapan

Aku yang masih belum bisa sabar
Aku yang masih tak bisa menahan keluhan
Aku yang masih sulit membendung tangisan
Aku yang masih lalai dalam belajar

Suamiku..
Kuharap kau tak pernah bosan menjadi pandu jalanku
Menjadi nakhoda untuk kapal layar kita
Hingga sampai di pelabuhan mimpi-mimpi kita berada
Menggapai visi dan misi bersama

Suamiku..
Bimbinglah aku bagaimanapun keadaanku
Tuntunlah aku bersamamu
Juga tidak lupa ada si junior yang kini sedang kita nantikan kehadirannya bersama

Doakan aku..
Menjadi wanita yang kuat..
Istri yang taat..
Ibu yang hebat..
Sebagaimana ibunda-ibunda radhiyallahu‘anhum yang dijaminkan surga untuknya

Aku berjanji akan terus berusaha
Menciptakan rumah tangga yang bukan hanya sekadar bahagia
Tapi juga mampu mencapai surga bersama
Sebagaimana yang sering engkau kata

Dan terakhir,
terima kasih suamiku..
Untuk segalanya.

Aku mencintaimu. Lillahi ta'ala.









Reading Time:

Rabu, 31 Juli 2019

Menata Kisah (1)
Juli 31, 20190 Comments


Sebuah THREAD tentang perjalanan yang baru saja dimulai.
Sengaja ditulis hanya untuk arsip bila suatu saat rindu dan ingin mengenang masa-masa bahagia itu 😄
Jadi, ini secruit kisahku dan seseorang yang kini namanya selalu kusebut dalam doa (ceilah) hehe, dialah sang pujaan hati, ya suamiku.

Banyak yang bertanya alias kepo banget sebenarnya dengan kisah kita, mulai dari keluarga, sahabat sampai teman-teman. Bagaimana tidak, perkenalan kami memang terbilang singkat.
Dan bisa dibilang.. memang tak terduga. Kenal dari mana? Dari teman. Tapi... unik juga😅 dan sulit kalo untuk diceritakan secara detail. Karena bukan teman yang begitu dekat, tapi bisa menjadi penyambung jodoh kami. Entahlah.. intinya memang ini sudah menjadi ketetapan Allah dan jalan yang Allah takdirkan😊 Alhamdulillah...

Singkat cerita. Aku dan suami, 'hari itu' bertemu untuk pertama kalinya (setelah sebelumnya saling mengenal dulu profil satu sama lain). Awal bulan ke-9 tahun 2018.
Nggak tiba-tiba 'hari itu' sebenarnya.. Jadi, perkenalan pertama kami adalah pada akhir bulan ke-10 tahun 2017, hanya lewat pesan singkat. Yang betul-betul hanya singkat. Waktu itu posisinya aku sedang dalam masa transisi (mahasiswa sudah bukan lagi, tapi kerja juga belum), dan dia sedang dinas di Bandung (awalnya kupikir dia dinas di Bandung, ternyata bukan, itu saat sedang kebetulan ada pendidikan saja). Doi langsung to the point, ingin bertemu. Karena niatnya memang mencari jodoh (taunya sekarang, haha). Tapi aku dengan santainya menolak pertemuan itu, karena berbagai hal. Lantas... Tidak ada kabar lagi setelah itu. Tidak pernah komunikasi sama sekali. Aku berpikir, mungkin ia juga sedikit kecewa, karena tidak mendapat respon serius dariku😅

Namun... Qodarullah... Hampir setahun berlalu. Pada pertengahan 2018, tiba2 ada pesan singkat yang masuk ke gawaiku. Ya, doi menyapa. Biasa, seperti layaknya teman lama yang sudah lama tidak bertegur sapa. Dan disitulah aku baru tau, bahwa ternyata selama ini doi bukan dinas di kota kembang, melainkan di ujung Indonesia sana. Jadi, kami terpisah jarak ribuan kilometer.  
(Dan saat telah menikah, kami juga tidak bisa menjelaskan satu sama lain kenapa waktu itu dia bisa tiba-tiba menyapaku lagi, dan aku pun mau meresponnya, padahal saat itu nomornya pun belum sempat aku save hehe tapi aku tipe orang yang jarang menghapus history chat)

Singkat cerita lagi. Akhirnya untuk memastikan masa depan, doi bertekad ambil cuti untuk pulang ke sini. Ke kota kelahiran kami. Ya, untuk meminang ceritanya, wkwk padahal posisinya saat itu kami juga tidak tahu akan bagaimana jadinya kalo ternyata setelah bertemu kami memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang apapun. Tapi, itulah risiko yang harus ia ambil, katanya. Apapun yang terjadi, dia hanya berserah pada Allah.

Tibalah hari itu. Hari di mana yang merupakan pertemuan kedua kami, dia datang ke rumah (Pertemuan pertama itu kemarinnya). Dan... ini betul-betul seperti kisah romansa yang mengada-ngada sih. Hari itu ia langsung menghadap bapak negara 😂 dan ibu negara beserta antek-anteknya (read: kaka2).
Respon pertama mereka? Ya kagetlah. Anak bungsu yang gak pernah bawa teman lawan jenis secara 'spesial' ke rumah, tiba-tiba bilang ada yang mau dateng untuk menghadap bapak. Hihi.

Tapi.. itulah yang berkesannya. Sebenarnya, beberapa hari sebelum aku telah lebih dahulu cerita ke mamah (mengantisipasi agar rumah tidak terlalu heboh dengan kabar berita nanti haha) itu pun dengan tekad dan keberanian yang aku kumpulkan.

Entah mengapa. Semua berjalan lancar.
Hatiku kian mantap. Begitupun ianya.
Terlebih, keluarga pun.
Padahal sempat ragu, karena ia kerja di tempat yang nun jauh di sana.
Qodarullah... sungguh ini sudah menjadi jalan cerita-Nya.

Mungkin sang pangeran bermotor putih itu berhasil memberi kesan pertama yang baik di hadapan keluarga. Hari itu pun di luar rencana kami. Aku tidak pernah membayangkan bahwa pertemuan pertama ia dengan keluarga hari itu, akan menciptakan sebuah "lamaran".
Setelah perkenalan, basa basi, sampai ngalor ngidul. Akhirnya kakak tertua memanggilku untuk memastikan "Jadi gimana, Win. Maksud kedatangannya ke sini hari ini cuma untuk kenalan aja dulu, atau mau ada maksud? Kalo mau ada maksud, ntar si Papah dipanggil ke atas lagi." Posisinya saat itu kakak2ku bagaikan anggota parlemen sedang rapat, di basement/ lantai bawah. Sementara doi entah sedang deg2an atau biasa saja, masih di ruang tamu, lantai utama.

Lantas aku pun langsung menemuinya dan menyampaikan apa yang dikatakan kakakku. Doi cuma jawab, "Kalo Aa mah udah yakin, bahkan kalo mau disebutin, lebih dari 100%, sekarang Aa mah tergantung Windinya. Udah yakin belum?"
Guyssss. Entah gejolak apa yang ada dalam hati saat itu. Secara, aku sebelumnya tidak pernah membukakan pintu lebar2 untuk orang2 yang menurut aku, hanya akan membuat dia kecewa saja (ya, jadi sebelumnya ada yang mau berniat serius dan datang ke rumah, tapi aku menolaknya halus). Tapi berbeda sama si doi yang satu ini, aku mempersilakannya menerobos pintu rumah, apa mungkin aku tidak mempersilakannya untuk menerobos pintu hatiku juga? Wkekekek.

Akhirnya, sang ayah datang kembali dan..... ya kalian bayangkan saja percakapan di antara mereka. Mirip2 lagu Marry Your Daughter lah. Haha.
Aku hanya bisa diam. Menyimak. Dan malu2 meong. Wkwk
Ya sudah.. kalian tau kan dengan diamnya perempuan, katanya, berarti 'lamaran' itu pun diterima. Hihi.

Selanjutnya, kami merencanakan untuk mengadakan lamaran resmi (membawa rombongan keluarga), sekitar dua minggu berikutnya, ya sebelum doi kembali ke ujung Indonesia sana. Resmilah dikhitbah.
Meskipun sebenernya, lamaran yg betul2 bikin degdegan sih saat doi sendiri menghadap bapak negara. Disitu lamaran yang sebenernya. Kalo yang acara khitbahan bawa rombongan keluarga, rasanya itu peresmian saja. Yang aku rasakan gitu sih.

Beberapa hari dari acara khitbahan, doi harus kembali terbang ke ujung timur Indonesia sana. Mengemban tugas sebagai abdi negara. Dan kami, tentunya tidak bisa bertemu. Sampai kapan? Saat itu, belum tau sampai kapan. Yang pasti, doi akan pulang, saat kami akan melangsungkan pernikahan.
Selama berjauhan, dengan segala problematika dan pertimbangan yg matang, kami mendiskusikan tanggal tepatnya untuk menikah, bersama keluarga. LDR saat itu cukup menjadi tantangan bagi kami. Tapi kami tak gentar (apasih) hhh

Tanggal masih terombang-ambing, jangankan tanggal, bulannya pun. Karena saat itu posisinya aku masih kuliah (fyi aku melanjutkan kuliah s2), dan bapa negara berharap kuliah diberesin dulu. Saat itu.. Yasudahlah.. Toh kami pun berjauhan.

Namun, singkat cerita, udah takdir Allah juga. Keluarga tiba2 berubah pikiran, terutama bapa negara (setelah diberi doktrin oleh kaka tercinta wkwk), kami putuskan menikah pada bulan pertama di awal tahun.

Wah, dua bulan dari saat itu.. Sebenarnya masih bisa kalo untuk cari vendor.. Tapi... Ternyata.. Menikah dengan anggota militer, tidak semudah itu, Marimar.
Banyak sekali prosedur yang harus dilalui. Persyaratan yang mesti dipenuhi. Mulai dari pemberkasan, bikin SKCK kayak mau lamar kerja, tes kesehatan, dan sgala macemnya. Berjelajahlah daku ke kapolsek, koramil, kodim, korem, rs tni, dll.

Di bulan itu, rasanya inginku ngarenghap panjang😂 Di saat tugas kuliah lagi numpuk2nya (tiap minggu presentasi individu, paper individu, dll). Ditambah mesti ngurusin berkas nikah. Plus nyari vendor yg cukup membuat pusing pala barbie.

Tapi, ngga juga sih sebenernya. Dibawa santai aja😅 Tapi mungkin cuma baper. Karena merasa sendiri. Kan doinya jauh di sana. Tapi alhamdulillah masih punya mama dan kakak yg sedia membantu. Mereka berjasa bangett.

Karena doi ngambil cuti udah gak mungkin (jatahnya udah habis guys), maka ya pulang saat menjelang akad nikah saja. Heu kebayang gak.
Eh tapi ternyata... Lagi-lagi Qodarullah..
Allah berkehendak lain. Kalo kata orang2 mah, doaku kelewat kuat katanya. Alhamdulillah doi dipindahtugaskan, ke pusat. Tepat sebelum bulan pernikahan. Kalo jodoh mah. Bener. Segalanya akan Allah mudahkan.

Akhirnya, datanglah hari pernikahan. Jeng-jeng😄... Ya... Dengan segala kejutannya.. Gak pernah nyangka. Dan gak pernah berencana sebelumnya, bahwa akan merubah status di awal tahun ini. Dengan orang yang bahkan tdk pernah ada di cerita2 kehidupanku sebelumnya.

Ko bisa sih? Jadi ketemu cuma sekali, terus langsung menghadap ortu, lamaran, nikah?
Allah yg punya rencana, guys. Kita hanya melakukan apa yg kita bisa. Dan ikhlasin segala apa yg terjadi pd kita. Yakinlah, pahit asemnya hidup yg kita lewati, itu hanyalah mendung dan kilat yang datangnya saat hujan, dan pada akhirnya, akan menciptakan pelangi.

Jangan meratapi kejombloan (eh kesedihan maksudnya). Tapi fokuslah memperbaiki diri, memantaskan diri. Kalo kita gak aneh2, yakinlah yang datengnya juga gak akan yg aneh2 kok. Yang baik, untuk yang baik. Dan sebaliknya..

Gimana bisa semantep itu? Sekali lagi, itu campur tangan Allah. Allah yang Maha Membolakbalikkan hati. Allah yg berikan rasa cenderung. Tiba-tiba bisa klik gitu, melalui proses, istikharah, dan ya setidaknya kita mesti tahu persis backgroundnya. Terutama, agamanya.

Kemantapan hati... Yang diikuti dengan jatuh hati. Awalnya dulu gak ngerti sama istilah lebih baik "bangun cinta" daripada "jatuh cinta" katanya.. Tapi ternyata, itu bener loh.. Asal kita memang punya prinsip dan visi hidup yang sama. Maka, ada saja jalannya. Untuk kita akhirnya saling.

Jadi intinya, berbahagialah dan jangan banyak khawatir. Kalo hari ini kamu kehilangan sesuatu, yakinlah bahwa Allah tidak akan pernah mengambil sesuatu darimu melainkan Ia akan menggantinya dengan yang lebih baik ❤
Reading Time:

@way2themes