Sebuah THREAD tentang perjalanan yang baru saja dimulai.
Sengaja ditulis hanya untuk arsip bila suatu saat rindu dan ingin mengenang masa-masa bahagia itu 😄
Jadi, ini secruit kisahku dan seseorang yang kini namanya selalu kusebut dalam doa (ceilah) hehe, dialah sang pujaan hati, ya suamiku.
Banyak yang bertanya alias kepo banget sebenarnya dengan kisah kita, mulai dari keluarga, sahabat sampai teman-teman. Bagaimana tidak, perkenalan kami memang terbilang singkat.
Dan bisa dibilang.. memang tak terduga. Kenal dari mana? Dari teman. Tapi... unik juga😅 dan sulit kalo untuk diceritakan secara detail. Karena bukan teman yang begitu dekat, tapi bisa menjadi penyambung jodoh kami. Entahlah.. intinya memang ini sudah menjadi ketetapan Allah dan jalan yang Allah takdirkan😊 Alhamdulillah...
Singkat cerita. Aku dan suami, 'hari itu' bertemu untuk pertama kalinya (setelah sebelumnya saling mengenal dulu profil satu sama lain). Awal bulan ke-9 tahun 2018.
Nggak tiba-tiba 'hari itu' sebenarnya.. Jadi, perkenalan pertama kami adalah pada akhir bulan ke-10 tahun 2017, hanya lewat pesan singkat. Yang betul-betul hanya singkat. Waktu itu posisinya aku sedang dalam masa transisi (mahasiswa sudah bukan lagi, tapi kerja juga belum), dan dia sedang dinas di Bandung (awalnya kupikir dia dinas di Bandung, ternyata bukan, itu saat sedang kebetulan ada pendidikan saja). Doi langsung to the point, ingin bertemu. Karena niatnya memang mencari jodoh (taunya sekarang, haha). Tapi aku dengan santainya menolak pertemuan itu, karena berbagai hal. Lantas... Tidak ada kabar lagi setelah itu. Tidak pernah komunikasi sama sekali. Aku berpikir, mungkin ia juga sedikit kecewa, karena tidak mendapat respon serius dariku😅
Namun... Qodarullah... Hampir setahun berlalu. Pada pertengahan 2018, tiba2 ada pesan singkat yang masuk ke gawaiku. Ya, doi menyapa. Biasa, seperti layaknya teman lama yang sudah lama tidak bertegur sapa. Dan disitulah aku baru tau, bahwa ternyata selama ini doi bukan dinas di kota kembang, melainkan di ujung Indonesia sana. Jadi, kami terpisah jarak ribuan kilometer.
(Dan saat telah menikah, kami juga tidak bisa menjelaskan satu sama lain kenapa waktu itu dia bisa tiba-tiba menyapaku lagi, dan aku pun mau meresponnya, padahal saat itu nomornya pun belum sempat aku save hehe tapi aku tipe orang yang jarang menghapus history chat)
Singkat cerita lagi. Akhirnya untuk memastikan masa depan, doi bertekad ambil cuti untuk pulang ke sini. Ke kota kelahiran kami. Ya, untuk meminang ceritanya, wkwk padahal posisinya saat itu kami juga tidak tahu akan bagaimana jadinya kalo ternyata setelah bertemu kami memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang apapun. Tapi, itulah risiko yang harus ia ambil, katanya. Apapun yang terjadi, dia hanya berserah pada Allah.
Tibalah hari itu. Hari di mana yang merupakan pertemuan kedua kami, dia datang ke rumah (Pertemuan pertama itu kemarinnya). Dan... ini betul-betul seperti kisah romansa yang mengada-ngada sih. Hari itu ia langsung menghadap bapak negara 😂 dan ibu negara beserta antek-anteknya (read: kaka2).
Respon pertama mereka? Ya kagetlah. Anak bungsu yang gak pernah bawa teman lawan jenis secara 'spesial' ke rumah, tiba-tiba bilang ada yang mau dateng untuk menghadap bapak. Hihi.
Tapi.. itulah yang berkesannya. Sebenarnya, beberapa hari sebelum aku telah lebih dahulu cerita ke mamah (mengantisipasi agar rumah tidak terlalu heboh dengan kabar berita nanti haha) itu pun dengan tekad dan keberanian yang aku kumpulkan.
Entah mengapa. Semua berjalan lancar.
Hatiku kian mantap. Begitupun ianya.
Terlebih, keluarga pun.
Padahal sempat ragu, karena ia kerja di tempat yang nun jauh di sana.
Qodarullah... sungguh ini sudah menjadi jalan cerita-Nya.
Mungkin sang pangeran bermotor putih itu berhasil memberi kesan pertama yang baik di hadapan keluarga. Hari itu pun di luar rencana kami. Aku tidak pernah membayangkan bahwa pertemuan pertama ia dengan keluarga hari itu, akan menciptakan sebuah "lamaran".
Setelah perkenalan, basa basi, sampai ngalor ngidul. Akhirnya kakak tertua memanggilku untuk memastikan "Jadi gimana, Win. Maksud kedatangannya ke sini hari ini cuma untuk kenalan aja dulu, atau mau ada maksud? Kalo mau ada maksud, ntar si Papah dipanggil ke atas lagi." Posisinya saat itu kakak2ku bagaikan anggota parlemen sedang rapat, di basement/ lantai bawah. Sementara doi entah sedang deg2an atau biasa saja, masih di ruang tamu, lantai utama.
Lantas aku pun langsung menemuinya dan menyampaikan apa yang dikatakan kakakku. Doi cuma jawab, "Kalo Aa mah udah yakin, bahkan kalo mau disebutin, lebih dari 100%, sekarang Aa mah tergantung Windinya. Udah yakin belum?"
Guyssss. Entah gejolak apa yang ada dalam hati saat itu. Secara, aku sebelumnya tidak pernah membukakan pintu lebar2 untuk orang2 yang menurut aku, hanya akan membuat dia kecewa saja (ya, jadi sebelumnya ada yang mau berniat serius dan datang ke rumah, tapi aku menolaknya halus). Tapi berbeda sama si doi yang satu ini, aku mempersilakannya menerobos pintu rumah, apa mungkin aku tidak mempersilakannya untuk menerobos pintu hatiku juga? Wkekekek.
Akhirnya, sang ayah datang kembali dan..... ya kalian bayangkan saja percakapan di antara mereka. Mirip2 lagu Marry Your Daughter lah. Haha.
Aku hanya bisa diam. Menyimak. Dan malu2 meong. Wkwk
Ya sudah.. kalian tau kan dengan diamnya perempuan, katanya, berarti 'lamaran' itu pun diterima. Hihi.
Selanjutnya, kami merencanakan untuk mengadakan lamaran resmi (membawa rombongan keluarga), sekitar dua minggu berikutnya, ya sebelum doi kembali ke ujung Indonesia sana. Resmilah dikhitbah.
Meskipun sebenernya, lamaran yg betul2 bikin degdegan sih saat doi sendiri menghadap bapak negara. Disitu lamaran yang sebenernya. Kalo yang acara khitbahan bawa rombongan keluarga, rasanya itu peresmian saja. Yang aku rasakan gitu sih.
Beberapa hari dari acara khitbahan, doi harus kembali terbang ke ujung timur Indonesia sana. Mengemban tugas sebagai abdi negara. Dan kami, tentunya tidak bisa bertemu. Sampai kapan? Saat itu, belum tau sampai kapan. Yang pasti, doi akan pulang, saat kami akan melangsungkan pernikahan.
Selama berjauhan, dengan segala problematika dan pertimbangan yg matang, kami mendiskusikan tanggal tepatnya untuk menikah, bersama keluarga. LDR saat itu cukup menjadi tantangan bagi kami. Tapi kami tak gentar (apasih) hhh
Tanggal masih terombang-ambing, jangankan tanggal, bulannya pun. Karena saat itu posisinya aku masih kuliah (fyi aku melanjutkan kuliah s2), dan bapa negara berharap kuliah diberesin dulu. Saat itu.. Yasudahlah.. Toh kami pun berjauhan.
Namun, singkat cerita, udah takdir Allah juga. Keluarga tiba2 berubah pikiran, terutama bapa negara (setelah diberi doktrin oleh kaka tercinta wkwk), kami putuskan menikah pada bulan pertama di awal tahun.
Wah, dua bulan dari saat itu.. Sebenarnya masih bisa kalo untuk cari vendor.. Tapi... Ternyata.. Menikah dengan anggota militer, tidak semudah itu, Marimar.
Banyak sekali prosedur yang harus dilalui. Persyaratan yang mesti dipenuhi. Mulai dari pemberkasan, bikin SKCK kayak mau lamar kerja, tes kesehatan, dan sgala macemnya. Berjelajahlah daku ke kapolsek, koramil, kodim, korem, rs tni, dll.
Di bulan itu, rasanya inginku ngarenghap panjang😂 Di saat tugas kuliah lagi numpuk2nya (tiap minggu presentasi individu, paper individu, dll). Ditambah mesti ngurusin berkas nikah. Plus nyari vendor yg cukup membuat pusing pala barbie.
Tapi, ngga juga sih sebenernya. Dibawa santai aja😅 Tapi mungkin cuma baper. Karena merasa sendiri. Kan doinya jauh di sana. Tapi alhamdulillah masih punya mama dan kakak yg sedia membantu. Mereka berjasa bangett.
Karena doi ngambil cuti udah gak mungkin (jatahnya udah habis guys), maka ya pulang saat menjelang akad nikah saja. Heu kebayang gak.
Eh tapi ternyata... Lagi-lagi Qodarullah..
Allah berkehendak lain. Kalo kata orang2 mah, doaku kelewat kuat katanya. Alhamdulillah doi dipindahtugaskan, ke pusat. Tepat sebelum bulan pernikahan. Kalo jodoh mah. Bener. Segalanya akan Allah mudahkan.
Akhirnya, datanglah hari pernikahan. Jeng-jeng😄... Ya... Dengan segala kejutannya.. Gak pernah nyangka. Dan gak pernah berencana sebelumnya, bahwa akan merubah status di awal tahun ini. Dengan orang yang bahkan tdk pernah ada di cerita2 kehidupanku sebelumnya.
Ko bisa sih? Jadi ketemu cuma sekali, terus langsung menghadap ortu, lamaran, nikah?
Allah yg punya rencana, guys. Kita hanya melakukan apa yg kita bisa. Dan ikhlasin segala apa yg terjadi pd kita. Yakinlah, pahit asemnya hidup yg kita lewati, itu hanyalah mendung dan kilat yang datangnya saat hujan, dan pada akhirnya, akan menciptakan pelangi.
Jangan meratapi kejombloan (eh kesedihan maksudnya). Tapi fokuslah memperbaiki diri, memantaskan diri. Kalo kita gak aneh2, yakinlah yang datengnya juga gak akan yg aneh2 kok. Yang baik, untuk yang baik. Dan sebaliknya..
Gimana bisa semantep itu? Sekali lagi, itu campur tangan Allah. Allah yang Maha Membolakbalikkan hati. Allah yg berikan rasa cenderung. Tiba-tiba bisa klik gitu, melalui proses, istikharah, dan ya setidaknya kita mesti tahu persis backgroundnya. Terutama, agamanya.
Kemantapan hati... Yang diikuti dengan jatuh hati. Awalnya dulu gak ngerti sama istilah lebih baik "bangun cinta" daripada "jatuh cinta" katanya.. Tapi ternyata, itu bener loh.. Asal kita memang punya prinsip dan visi hidup yang sama. Maka, ada saja jalannya. Untuk kita akhirnya saling.
Jadi intinya, berbahagialah dan jangan banyak khawatir. Kalo hari ini kamu kehilangan sesuatu, yakinlah bahwa Allah tidak akan pernah mengambil sesuatu darimu melainkan Ia akan menggantinya dengan yang lebih baik ❤