Menata Kisah (2) - Semburat Sastra

Kamis, 19 Desember 2019

Menata Kisah (2)



Pagi itu adalah awal sejarah baru bagiku. Kenapa sejarah? Karena dia adalah momen berharga yang tak akan pernah terlupakan hingga kapanpun nanti semasa hidupku.
Mengalami langsung fase yang sejatinya mesti dilewati oleh setiap perempuan, adalah hal yang luar biasa. Baru kusadari setelahnya, perempuan adalah makhluk yang Tuhan ciptakan untuk mengemban amanah yang begitu besar.

Mulai dari menikah, seorang wanita harus merelakan dirinya untuk ikut dan menurut pada suami. Dan banyak juga yang harus meninggalkan kedua orang tuanya. Dalam artian, meninggalkan karena menjalankan perintah-Nya, bukan benar-benar meninggalkan dalam konotasi negatif.

Fase selanjutnya, Allah beri amanah kepada wanita untuk mengandung. 9 bulan lamanya. Merasakan ketidaknyamanan, bahkan kesakitan. Yang mana, lelaki tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya. Dan mereka harus tahu, bahwa kehadiran mereka adalah salah satu hal yang bisa menjadi penguat bagi wanita-wanita yang sedang berjuang ini. Bagaimana tidak, darah dagingnya sedang dititipkan di rahim wanita yang ia cintai.

Setelah itu, datanglah hari di mana fase ini begitu menyadarkan setiap perempuan untuk senantiasa mengingat pengorbanan dan perjuangan Ibunya dahulu. Ya, melahirkan. Itu yang hari itu sedang aku alami.

Luar biasa.

Hari itu, hari yang agung, hari penuh keberkahan. Jumat. Di luar prediksi. Jadi, pukul 2 dini hari, aku terbangun dari tidur dan hendak ke kamar mandi, seperti malam2 sebelumnya. Namun, kala itu ada yang berbeda, saat aku menyadari ada sesuatu yg lain yg keluar saat aku buang air kecil. Seperti lendir berwarna merah. Di situ aku tidak merasakan kontraksi atau apa pun, tapi aku sedikit bertanya-tanya. Apakah ini tanda2 bahwa hari-H itu telah tiba?
Lantas saat itu aku hanya melanjutkan tidur.
Sebelum adzan subuh, aku kembali terbangun. Dan aku mengeceknya lagi, ternyata keluar darah  seperti darah haid hari pertama. Merah kecoklatan.
Masih tidak terasa ada apa-apa. Aku melaksanakan shalat subuh. Lalu.. saat selesai shalat, aku berbaring di kasur. Ada sesuatu di dalam perutku yang seolah memancing untuk buang air besar. Aku ke kamar mandi.
Mulailah terasa ada mules. Tapi kupikir itu mules sakit perut. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Bulak balik wc semakin sering. Dan yg ketiga kali, tidak ada bab yang keluar. Tapi rasa mulesnya, muncul terus. Luar biasa. Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya.
Sakit haid pun tidak seperti ini.
Dari situ aku bilang pada mamaku, apa ini yang dinamakan kontraksi?
Mama segera menghubungi kakakku, untuk minta tolong mengantar kami ke rs. Karena posisinya  saat itu suamiku masih di Jakarta. Aku sudah mengabarinya, tapi bukan mengabari bahwa aku akan melahirkan. Hanya, aku mengabari tentang masalah perutku yang mules ini.
Pukul 6 sampai setengah 8 aku di rumah, merasakan mules yang continue. Berkala. Tiap 5 menit sekali. Semakin sering. Rasanya tak tahan. Tapi kulantunkan terus asma-asma Allah. Dzikirullah. MasyaaAllah... subhanallah.. laillaha illallah. Teringat kembali momen itu.
Sekitar pukul setengah 8, akhirnya kakakku datang menjemput dengan mobil. Berangkatlah kami bertiga (aku, kakakku, dan mama) ke rs tni. Dengan keadaan perutku yang sudah tidak karuan rasanya.




Selamat hari ibu!♡






Tidak ada komentar:

@way2themes