belum tentu - Semburat Sastra

Senin, 16 Mei 2011

belum tentu


Tak tersadar gadis mungil ini telah tergeletak di kasur empuknya sejak pulang sekolah tadi. Maklum setiap harinya dia memang selalu melewati hari-harinya itu dengan berada di sekolah. Bangun, mandi, sarapan, berangkat sekolah, sekolah, pulang sekolah, mandi, makan, ngerjain tugas, tidur. Begitulah kesehariannya selama 6 hari (yaa kecuali Minggu).
Tapi meski begitu, anak SMA yang satu ini tidak tertinggal dengan masa remajanya. Bagaimana pun juga masa remaja adalah masa yang paling indah dan menyenangkan (kata orangtua jaman dulu sih).
Drreett.. dreett.. Terlihat jelas di layar hpnya “2 message Receive”.
Sms Pertama
“Dinda? Lg apa nih? :)” dari Dani.
Sms Kedua
“Hey ga ada kabarnya nih :D” dari Ka Dion.
Dua cowo dengan inisial nama yang sama dengan gadis ini seringkali meng-sms seperti ini. Yaa ini nih yang dimaksud dengan masa remaja yang tak Dinda lewati. Ahir-ahir ini dia sedang di bingungkan oleh 2 makhluk Tuhan dari Mars, sebutlah Dani dan Dion.
Tak lama Dinda pun langsung membalas sms dari 2 cowo itu. Ya malam itu ahirnya mereka pun sms-an. Tapi terlihat dari raut wajahnya, sepertinya Dinda lebih senang mendapat sms dari kakak kelasnya itu dibanding teman sekelasnya. 1 jam berlalu mereka sms-an dengan berbagai macam obrolan yang padahal sangat sering di obrolkan berulang-ulang. Lama – lama ada yang berbeda di sms ini, smsan terasa lebih serius.. dan...
Message 1 (from : Ka Dion)
“Dinda.. jujur, slama ini yg kk suka itu kamu. Sbenernya udh lma kk mau blg ini. Tapi kk malu. Hehe :D”
Message 2 (from : Dani)
“Dinda.. I don’t know since when I have this feel. To do point, gue suka sama lo.,”
Message 3 (from : Dani)
“Wanna be my girl?”
“No.. no.. no! Ko bisa? Ko bisa? Mereka janjian gitu maksudnya? Gila gila gila! Hahh..” kagetnya gadis ini.
Entah ada hal apa, tiba-tiba mereka mengatakan hal yang sama dalam waktu yang sama pula. Tapi memang ada bedanya. Kak Dion bilang kalau dia suka sama Dinda, sedangkan Dani bilang kalau dia suka sama Dinda juga dia langsung nembak !
Message 4 (from : Ka Dion)
“Dinda? Ko ga bls? Skrng giliran kmu yg jujur. Klo org yg kmu suka slama ini siapa? :)”
Dinda pun belum bisa membalas sms mereka secepat itu. Sebenarnya yang Dinda suka selama ini adalah Ka Dion. Melalui kedekatan mereka selama ini membuat Dinda merasa nyaman dekat dengan kaka kelasnya itu. Lalu bagaimana dengan Dani? Sayangnya, cowo baik ini belum bisa mendapat balasan perasaan dari Dinda. Dinda hanya menganggapnya teman, ya boleh lah di bilang teman dekat juga. Tapi kalau untuk selebihnya, Dinda benar-benar tak bisa karena dia pun punya seseorang di hatinya. ♥
Esoknya..
“Ca.. gimana nih? Semalem Dani nembak gue.”
“Hah? Serius lo? Terus gimana gimana?”
“Ya iyalah serius. Gimana apanya? Gue bingung. Ka Dion juga ngungkapin perasaannya ke gue. Haduh”
“Wah gilaaa.. Hahahaha. Ya itu terserah lo sih. Lo mau pilih yang mana? Ka Dion yaaa? Hahaha”
“Ya, gue bakalan nolak Dani. Lo juga tau kan perasaan gue gimana.”
“Kasian dia. Tapi ya emang itu yang terbaik sih. Trus otomatis lo nerima Ka Dion dong? Hahaha”
“Sayangnya.. dia ga nembak gue -_-“
“Hah? Ko bisa siih?? Tapi yakin deh, ga bakal lama lagi dia pasti nembak lo :D”
“Tau deh..” jawabnya singkat
Begitulah kutipan pembicaraan 2 gadis berseragam putih abu di pagi itu. Dinda langsung menceritakan pada sahabatnya, Ocha. Dua anak manusia ini memang sering curhat-curhatan mengenai masalah apapun.
Sepulang sekolah Dinda yang tepat berada di gerbang sekolah menunggu Ocha tiba-tiba di kagetkan oleh seseorang yang tidak asing lagi baginya. Dani langsung mengajaknya untuk berbicara empat mata, Dinda pun tidak bisa menolaknya. Pasti dia akan menanyakan hal yang tadi malam, pikir Dinda. Ternyata dugaannya tak salah, Dani to do point meminta jawaban dari Dinda atas pengakuannya tadi malam. To do point juga Dinda bilang... “Sorry, gue ga bisa Dan. Gue udah nyaman temenan sama lo J”
Singkat cerita, sejak kejadian itu Dani berusaha terus untuk mendekati gadis pujaannya, meski memang dia sempat sakit hati. Tapi dia benar-benar tidak peduli dengan apapun, dia tidak menyerah. Sayangnya, Dinda malah sebaliknya. Dia selalu berusaha untuk menjauhi Dani, dia gak mau kalo Dani berharap terus. Dan Dinda pun semakin dekat dengan Ka Dion. Karena mereka sudah tahu bahwa mereka itu saling menyukai, walau aneh sampai sekarang Ka Dion belum juga nembak Dinda.
Suatu sore saat pulang sekolah Dinda melihat Ka Dion sedang berjalan berdua dengan mantannya. Aneh sekali, padahal Ka Dion sempat cerita kalau cewek itu adalah salahsatu mantannya yang mutusin dia secara ga baik. Malamnya, seperti biasa Dinda smsan dengan Ka Dion. Tak sungkan lagi Dinda menanyakan tentang kejadian tadi sore. Ka Dion bilang mereka hanya mau kerja kelompok. Tentu Dinda mempercayainya.
Satu hari, dua hari, tiga hari, tiba-tiba Ka Dion hilang dari peredaran. Mungkin dia habis pulsa, pikir Dinda. Tapi suatu pagi Dinda mendapat kabar bahwa Ka Dion itu sekarang sudah punya pacar, teman sekelasnya katanya. Dinda tidak langsung percaya mendengar kabar itu. Tapi saat pulang sekolah, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Ka Dion sedang bergandengan tangan dengan mantannya itu, ya mungkin sekarang telah kembali menjadi pacarnya. Sungguh kesalnya hati Dinda. Dia langsung bergegas pulang tanpa mau melihat lagi mereka secara jelas.
“Ca, gossip itu ternyata bener.” Curhat Dinda pada sahabatnya.
“Maksud lo Din? Ka dion udah punya pacar?”
“Iya. Kemarin pulang sekolah gue liat mereka berdua pulang bareng sambil pegangan tangan.”
“Hahh??? Serius lo ga salah liat? Emang ceweknya tuh siapa sih?”
“Mantannya itu.”
“Sialan banget tuh dia. Seenaknya aja! Mulutnya so manis gitu, tapi … aaahhh kesel gue ngedengernya. Sabar yaa Din..”
“Iya Ca. Gue juga ga nyangka. Dia bener-bener tega kaya gitu.”
“Jangan sampai air mata lo abis Cuma buat nangisin dia. Udah ah jangan nangis segala!”
“Keceeeeewaaaa bangeeett gueeeee.”
Dinda benar-benar kesal dengan ini. Dia gak pernah nyangka kalo kakak kelas yang selama ini dia anggap baik itu gak lebih baik dari Dani yang udah dia tolak. Sejak saat itu, Dinda gak pernah mau lagi berhubungan dengan Ka Dion.
Mengetahui hal itu Dani serasa mendapat berkah. Ia terus saja mendekati Dinda. Hingga pada suatu hari dia mencoba untuk mengungkapkan lagi perasaannya ke Dinda alias nembak, tetapi tetap hasilnya ZONK. Dinda tidak bisa menerima Dani. Dinda sudah benar-benar menganggap Dani hanya teman, dia tidak punya perasaan lebih pada cowok manis ini.
Dan sekarang… Dinda pun kembali menjalani hidupnya seperti biasa. Kembali Bangun, mandi, sarapan, berangkat sekolah, sekolah, pulang sekolah, mandi, makan, ngerjain tugas, tidur. Begitulah kesehariannya selama 6 hari (yaa kecuali Minggu). Dan mungkin tanpa ada hal yang mengganggunya dulu. Mungkin dia menunggu seorang yang benar-benar bisa ia percayai. Bukan hanya mulut manis, tapi hati yang tulus dan bisa menanggungjawabkan atas apa yang telah di ucapkannya.
Seseorang saat telah di kecewakan, pasti akan berkurang rasa kepercayaannya kepada orang itu.

Tidak ada komentar:

@way2themes