Ku lihat sekumpulan burung pipit sedang bersenda-gurau ceria seolah menandakan pagi ini adalah hari yang menyenangkan untuk mereka. Aku hanya bisa melihat kebahagiaan mereka melalui jendela kamarku. Sayang sekali aku hanyalah seorang penghuni rumah yang setiap paginya selalu iri melihat keharmonisan sebuah keluarga burung pipit.
Waktu menunjukan pukul 06.45, aku masih mengunyah sarapan pagiku di meja makan seorang diri. Aku cepat bergegas ketika melihat jam dinding rumahku sekali lagi. Oh ya ada yang beda dari penampilanku hari ini, aku tampil lebih muslimah. Aku memakai sehelai kain putih yang bisa menutupi kepala dan rambut juga leherku, ya sering kita sebut “kerudung”. Setelah semuanya siap, tanpa pikir panjang lagi aku langsung menuju ke sekolah, SMA yang tidak begitu jauh dari rumahku.
Tiga menit sebelum bel masuk berbunyi aku tepat mendarat di seberang jalan sekolahku.
“Nisa..” terdengar jelas suara orang memanggilku, aku pun berhenti dan menoleh ke arah pusat suara itu.
“Akbar?” tanyaku.
“Cie yang sukses pertahanin beasiswanya. Selamet ya. Lo bisa trus dapet beasiswa itu sampe lulus nanti.” godanya.
“Hehe iya nih. Syukur banget ya.”
“Iya, hebat deh! Oh iya, kalo butuh bantuan gue, inget ya jangan pernah sungkan :)”
Akbar, yang biasa di panggil Abay olehku itu memang temanku dari SMP. Kita memang sudah begitu dekat, sudah ku anggap Abay seperti saudara kandungku sendiri. Dia begitu baik, sangat perhatian terhadap teman, tulus untuk menolong orang, walau ia kaya raya tapi dia tak pernah pamrih. Itu salahsatu alasan mengapa aku bisa terus berteman dengannya sampai saat ini. Tapi jujur aku benar-benar tidak mau menjadi teman yang akan memanfaatkan kesempatan itu.
Pulang sekolah telah ku tunggu sejak dari pagi tadi. Aku cepat bergegas ke Rumah Sakit. Ya.. tempat ibuku menginap, di rawat disana. Ibuku memang sering sakit-sakitan sejak aku masuk SMP. Sejak kami hanya tinggal berdua. Tetapi beberapa hari kemarin sakit ibu sudah benar-benar parah, sehingga terpaksa harus di bawa ke Rumah Sakit. Dan terpaksa pula aku harus meminta bantuan sahabatku, Akbar.
Aku dan Akbar telah berada di depan pintu dimana ibuku menginap. Tadinya aku akan pergi sendiri, tapi Akbar memaksaku untuk mengizinkannya ikut. Setelah berada di hadapan ibu yang sedang tidur aku hanya memperhatikannya, aku tidak berani membangunkannya. Ibu terlihat sangat cantik hari ini, wajahnya sungguh suci di mataku. Mendengar kata-kata dokter yang mengatakan bahwa ibu belum mengalami perkembangan, hati ini rasanya benar-benar menangis, tetapi bagaimanapun juga aku harus tetap kuat. Seperti yang pernah ibu sering bilang padaku “Kita itu harus selalu berani menghadapi masalah, masalah itu jangan di hindari. Janganlah kita banyak mengeluh. Walau kita hanya sendiri.”
Sebari menanti ibu bangun, aku dan Akbar hendak melaksanakan sholat di mesjid yang ada di Rumah Sakit tersebut. Tak lupa kami pun mendo’akan Ibu. Betapa aku merasa ini semua mimpi karena aku mempunyai Akbar yang senantiasa berada di sampingku ketika aku kesulitan. Meskipun aku sering menolak kebaikannya, aku tak mau menggatungkan diri pada orang lain, tapi dia bisa selalu mengerti keadaanku.
Saat kami menuju ke ruangan tempat Ibu, kami jelas melihat ada seorang lelaki yang masuk ke ruangan tersebut, jelas sekali bukan dokter atau pun perawat rumah sakit. Aku sangat kaget dan spontan langsung mempercepat langkah jalanku. Aku dan Akbar bertekad untuk tidak langsung masuk, kami melihat dan memperhatikan seorang lelaki yang sedang menghampiriIbu. Sempat aku sangat kaget saat itu terhadap apa yang aku lihat. Aku sangat mengenali laki-laki itu ! Laki – laki itu yang telah membuat hidupku dan Ibu seperti ini ! Siapa lagi kalo bukan ayah, Dia ayahku !! Ah tidaakk .. aku masih tak percaya melihatnya. Aku pikir ini mimpi, dan aku ingin segera bangun dari mimpi ini.
Tapi ini jelas bukan mimpi. Beberapa saat, entah ada apa tiba-tiba pintu terbuka dan laki-laki itu melihatku. Dia langsung menghampiriku, dengan wajah yang sangat kagetseperti wajah kagetku juga mungkin. Dia langsung memelukku, tapi aku berhasil menolak pelukannya mentah-mentah. Dia menatapku, aku pun juga begitu. Aku tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Yang jelas saat itu aku hanya ingin berteriak tak karuan !
“Maafkan ayah Nak” ucapnya penuh rasa bersalah.
“Maaf?” jawabku pelan lagi sinis.
“Ayah meninggalkan kalian karena untuk kebaikan kalian.”
“Kebaikan? Kebaikan apa? Meninggalkan istri dan anaknya tanpa berpamitan dan tanpa memberi kabar selama 6 tahun apakah itu kebaikan?”
“Biar ayah jelaskan dulu Nak.”
“Semua telah terjadi. Tidak ada yang perlu di jelaskan.”
“Nis, nis, ibu kamu kenapa?” tiba-tiba Akbar memotong perdebatanku dengan ayah.
“Panggilkan dokter. Ayo panggilkan!” aku sangat panik sekali melihat ibu yang tiba-tiba kejang.
“Ibu .. ibu kenapa? Ibu bertahan ya.” berharap ibu bisa mendengarku.
Dokter langsung memberikan tindakan pada ibu. Dan kami pun di minta untuk menunggu di luar. Saat di luar ruangan aku tidak menghiraukan ayah, aku seolah-olah menganggapnya tidak ada.
Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruangan . dan ia sukses membuat kami berdiam seolah tak menerima dengan kabar yang di sampaikannya. Dokter mengatakan bahwa Ibuku tidak dapat tertolong lagi. Satu persatu, sedikit demi sedikit, setetes demi setetes air mataku jatuh tak tertahan lagi.
Beberapa minggu setelah itu . .
Aku menjalankan hidupku seperti biasa. Namun memang, banyak sekali perubahan yang ku alami. Sosok seorang Ibu kini telah tiada di hadapanku, tetapi masih tetap selalu ada di hatiku. Dan hidupku kini telah di lengkapi lagi oleh seorang ayah. Sebesar apapun kesalahan ayah, dia tetaplah ayahku. Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki semua. Jadilah aku anak durhaka jika tidak mau mengakuinya. Tetapi untuk bulan ini kami tidak tinggal serumah, karena ayah mempunyai pekerjaan di luar kota dan aku harus mengikuti ujian dulu di sekolah.
“Segalanya akan terasa ringan jika kita berani menghadapinya. Berusaha sendiri sebelum meminta pertolongan orang lain. Be Strong !!”
“Kamu bener-bener hebat Nis!”
Sepenggal pembicaraanku dengan Akbar.

Tidak ada komentar: