Minggu terakhir dari bulan Agustus, aku bangun lebih pagi dari minggu-minggu biasanya. Hari minggu adalah hari yang selalu aku tunggu, karena hanya dengan hari itu aku bisa beristirahat sepanjang hari di rumah. Namun sayangnya, hari minggu kali ini aku tak bisa menikmatinya dengan bersantai di rumah. Hari itu aku ada acara kegiatan PMR. Berhubungan dengan bulan Ramadhan kami anak-anak PMR berniat untuk memberikan sumbangan ke sebuah “Rumah Singgah” hari itu. Pada pukul 09.00 WIB aku bersiap untuk pergi ke sekolah dan tak lupa berpamitan kepada orangtuaku. Sesampainya di sekolah aku melihat sudah banyak anak-anak PMR yang berkumpul di UKS. Sebelum berangkat ke “Rumah Singgah” kami membereskan barang-barang yang akan disumbangkan terlebih dahulu agar kelihatan rapi.
Tak terasa waktu menunjukan pukul 11.00 WIB, kami pun akhirnya berangkat. Sebagian mencharter angkot dan sebagian lainnya memakai motor. Aku memakai motor di bonceng temanku, Ocy. Akhirnya kami pun sampai disana dengan selamat, kami langsung ke tujuan utama yaitu memberikan sumbangan tersebut. Setelah bersalaman, berfoto-foto, sedikit berbincang dengan mereka (penghuni rumah singgah), kami pun pulang. Bukan pulang, tapi lebih tepatnya kembali ke sekolah.
Hari itu masih ada satu acara PMR lagi, yaitu buka bersama. Rencananya buka bersama akan dilaksankan di rumah salahsatu seniorku. Setelah kumpul di sekolah, kami pun bersama-sama berangkat ke rumah seniorku itu. Tadinya aku tak akan ikut buka bersama karena memang sejak awal tak di izinkan orangtuaku. Namun temanku bilang lebih baik aku ikut dulu, sekalian ngerjain tugas bareng. Dan akhirnya aku pun ikut, walau setengah hati. Aku mengantar Ocy ke parkiran untuk mengambil motornya. Dan kebetulan ada 2 seniorku disitu. Karena Ocy dan aku tidak tahu jalan menuju rumah seniorku itu (tempat buber), maka dari itu aku ga jadi di bonceng Ocy. Kita pisah motor. Aku dan Ocy di bonceng kaka senior kami itu. Dan anak PMR lainnya mencharter angkot lagi.
Saat akan berangkat aku merasa tak enak hati, entah mengapa. Saat di tengah perjalanan, aku tak sadar, tiba-tiba aku sudah terlempar ke trotoar. Nyaris masuk selokan. Aku sangat kaget ditambah saat melihat tangan dan kakiku terluka, bukan luka biasa sepertinya. Lengan baju dan celanaku robek. Aah sial.
Teman-temanku juga sama kagetnya dan langsung menolongku, aku dibawa ke rumah salahsatu warga di sekitar jalan tersebut. Tak lupa, kaka senior yang memboncengku juga di tolong. Aku memang tidak pingsan, tapi aku kurang mengerti kronologis kejadiannya. Karena itu terjadi begitu cepat.
Kulihat paniknya teman-temanku, terutama Ocy. Ocy langsung menelpon temanku yang kebetulan rumahnya ada di sekitar daerah itu, Desvi namanya. Aku tak berani menelepon keluargaku karena pasti akan membuat mereka sangat kaget dan khawatir. Tak lama kemudian temanku pun datang bersama orangtuanya naik mobil. Aku dan seniorku pun di bawa ke Puskesmas. Dan yang lainnya pun mengikuti mobil dari belakang. Di Puskesmas kami langsung di tangani, kami diperiksa, di obati, juga di suntik oleh perawat di Puskesmas itu.
Tak kubanyangkan jika kedua sahabatku yang sangat baik itu tidak menolongku. Tak akan pernah kulupakan kebaikan mereka.
Setelah dari Puskesmas aku dan seniorku langsung di antar pulang oleh keluarga Desvi. Pertama kami menuju ke rumah seniorku dulu. Setelah itu baru ke rumahku. Sesampainya di rumah, keluargaku sangat kaget ketika melihat aku sudah memakai perban. Tapi teman-teman dan senior-seniorku langsung menceritakan kronologis kejadiannya.
Aku pun masuk rumah dan beristirahat.
Ini merupakan pengalaman yang takkan pernah bisa ku lupakan. Lukanya pun masih membekas sampai sekarang. Tapi jujur, aku banyak mendapat hikmah dari kejadian ini :)

Tidak ada komentar: