Tuut.. Tuut..
“Halo.. Halo?” suara khasnya itu terdengar jelas di telingaku. Sampai-sampai menggetarkan hati ini, juga membuyarkan apa-apa yang ada di pikiranku. Sebelum dia berlanjut mengucapkan sesuatu aku dengan cepatnya menutup telepon itu. Hati ini sungguh senang bisa mendengar suaranya, walau hanya dalam telepon genggam. Ya.. tapi memang itu cara yang bisa aku lakukan untuk menyenangkan hati ini. Ini bukan pertama kali atau kedua kalinya, tapi ini sudah sering kulakukan. Bahkan mungkin sudah menjadi kebiasaan, kebiasaan yang aneh. Mungkin menelpon orang tanpa bicara sepatah kata pun apalagi memakai privat number agak terdengar aneh, terkesan mencurigakan seperti peneror, misterius.
Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah seperti hari-hari biasanya. Dengan hati yang selalu senang dan penuh harapan untuk bisa bertemu dengan sang pujaan hati. Tujuanku ke sekolah tentunya memang untuk belajar, namun semenjak ada dia sang pujaan hati membuat aku semakin termotivasi untuk selalu bersemangat ke sekolah.
“Hei Na, ko senyum-senyum sendiri gitu sih?” Tanya Cica sahabatku.
“Eh ngga ko. Hehe” jawabku sedikit kaget. Cica hamper saja membuat jantungku terhenti.
“Haha bohong ah. Pasti ada sesuatu. Dari kemaren tingkah kamu aneh, kaya orang lagi kasmaran! Ciee..ciee” godanya kepadaku.
“Ah ngga juga ko. Cica ngaco nih.”
Sahabatku yang satu ini memang selalu ingin tahu urusanku. Namun, rasanya aku belum siap kalau harus bilang ke Cica bahwa aku suka sama seorang cowok di sekolah ini. Aku malu, aku takut Cica akan menertawakanku, apalagi kalau sampai dia tahu kebiasaanku yang suka menelepon seorang cowok itu, telah terbayang olehku bagaimana puasnya Cica menertawakan kekonyolanku itu. Oh tidak .. maka dari itu aku memutuskan untuk tidak menceritakannya ke Cica sekarang.
Seperti biasa, malamnya aku menelepon sag pujaan hatiku itu. Lebih tepatnya menelepon tanpa bicara. Dia adalah kakak kelasku di sekolah, Irgi namanya. Pertama kali aku mengenalnya adalah ketika Ujian Tengah Semester kemarin kelasku satu ruangan dengan kelasnya. Cica yang mempunyai nama lengkap Irsya Cecilia berinisial sama dengan Kak Irgi bertempat duduk dekat atau dalam kata lain sebangku. Sedangkan aku yang berinisial K (Karina) bertempat duduk di belakang Cica. Satu minggu lamanya kami bersama dalam satu ruangan kelas. Dari situlah mulai timbul benih-benih cintaku kepadanya. Dia yang terlihat pintar, terlebih parasnya yang menawan, badannya tegap sering berolahraga, juga ia terlihat baik dan humoris membuat aku benar-benar merasakan hal yang tak biasa.
Sering sekali aku mencari informasi tentangnya di sekolah. Konon katanya, dia udah lama gak pacaran sejak putus sama pacarnya yang katanya bintang sekolah, mereka putus ngga secara baik-baik. Gak ada yang tahu kenapa. Soalnya katanya cowok manis ini memang agak tertutup kalau masalah cinta.
Malam ini aku bertekad untuk mengirim sms kepadanya. Entah ilham dari mana tiba-tiba aku merasa ada keberanian untuk mengirim sms itu. Tak banyak berpikir aku pun langsung mengetik sms di hapeku, isinya “Hello..”, yaa hanya satu kata. Jujur hati ini bener-bener deg-degan menunggu balasan darinya. Eits, jangan kepedean dulu siapa tahu smsku itu gak dihiraukannya, dan mungkin memang tak akan pernah aku dapet sms dari dia. Satu jam lamanya aku menunggu balasan itu sambil sesekali melihat hp. Tapi sayangnya tidak ada satu pun sms masuk. Huh, sedihnya. Tak lama kemudian aku pu tertidur di atas bed cover kesayanganku.
Besoknya kegiatan sekolah pun berlangsung seperti biasanya. Aku yang sedang melamun memikirkan sms yang tadi malam sukses di kagetkan oleh suara yang tidak asing lagi bagiku.
“Anaaa…” dengan riangnya sahabatku itu memanggil namaku.
“Ada apa sih? Kelihatannya girang banget.” Aku pun ikut memberikan ekspresi bahagia karena melihat Cica yang kelihatan begitu senang pagi ini.
“Masih inget gak sama kakak kelas yang sebangku sama aku waktu ujian kemaren?”
Deg! Kagetku spontan.
“Oh iya, inget ko. Kenapa emang?”
“Semalem… dia ng-sms aku loh. Ih gila gak nyangka, ko bisa ya cowok cool kaya dia sms aku? Ada apaan coba ya?” dengan girangnya Cica menceritakan itu, tanpa tahu bahwa sakitnya hati ini.
“Kamu … suka sama dia?” tanyaku sedikit ragu.
“Mmm.. sempet suka sih. Tapi ya Cuma sekedar ngeceng-ngeceng iseng aja. Tapi kalau dia ngerespon kaya gini, kenapa ngga coba? Ahaha”
Aku hanya terdiam. Mungkin tiba-tiba bisu. Tak menyangka aka nada hari seperti ini. Jika hati ini bisa bicara, mungkin ia telah berteriak, menjerit kesakitan. Pagi itu tibatiba hujan turun dengan derasnya seolah-olah mewakili perasaanku. Aku benar-benar tidak tahu lagi harus bilang apa pada Cica. Padahal rencananya hari itu aku akan menceritakan semua tentang perasaanku terhadap Kak Irgi kepada Cica. Karena lama-kelamaan aku merasa sepertinya tak bisa memendam perasaan itu sendiri. Aku harus punya orang yang bisa mendengarkan curahan hatiku, dan tentu Cica orangnya.
Tapi apalah guna aku menangisi semua ini. Toh Cica itu adalah sahabatku, jika ia senang tentu aku pun ikut senang. Mungkin Kak Irgi suka kepada Cica, pikirku. Karena tidak mungkin Kak Irgi tiba-tiba sms Cica jika tidak ada maksud tertentu. Terlebih lagi Cica itu memang cantik, putih, tinggi, cukup pintar, dan lebih dariku deh pkonya, maka tidak menutup kemungkinan untuk Kak Irgi suka pada Cica.
Seminggu telah berlalu, sejak kejadian itu aku tak pernah menelpon seperti peneror lagi ke Kak Irgi. Bahkan aku selalu mencoba untuk melupakannya. Tapi sehari tanpa mendengar suaranya saja rasanya ada yang kurang dalam hariku.
Suatu hari di pagi yang cerah, Cica tiba-tiba menceritakan sesuatu kepadaku. Pasti cerita tentang Kak Irgi, pikirku. Dan ternyata dugaanku tak salah. Tapi cerita Cica ini cukup terdengar aneh di telingaku. Cica mengatakan bahwa Kak Irgi nampak aneh, aneh dalam tingkah laku maksudnya. Awalnya Kak Irgi memang terlihat seperti sedang mendekati Cica alias PDKT. Tapi lama-kelamaan Kak Irgi malah menanyakan orang lain,
bersambung……..

Tidak ada komentar: