tentang dia - Semburat Sastra

Sabtu, 03 November 2012

tentang dia

Sudah satu jam aku berbaring di atas tempat tidurku untuk mengisi waktu luang hari ini. Sambil sesekali aku tersenyum ketika melihat wallpaper di handphone-ku. Dan tak hentinya kamu melayang-layang berkeliling di atas kepalaku hingga akhirnya kau mendarat tepat di otakku. Teringat. Segala tentangmu telah merasuk dalam benakku. Sudah lebih dari satu tahun kita berteman. Bahkan aku lupa kapan mulai mempercayakan semua masalahku padamu. Dan kapan kita mulai saling bertukar cerita. Belakangan ini aku merasakan sikapmu menjadi lebih manis.. aku sadar itu. Tapi aku takut salah menyimpulkan. Kamu bersikap baik pada semua orang. Lagi pula, kita memang lebih sering bercanda. Tapi.. malam itu, kamu mengatakan hal yang tak pernah aku sangka. Kamu bilang kamu sayang padaku. Aku kaget. Saking kagetnya, aku lupa bahwa aku menceritakan hal itu pada sahabatku. Jadi, jika sekarang ini banyak yang asyik dengan cie-cienya, mungkin itu salahku. Setiap kularang kau untuk melontarkan panggilan sayang untukku karena ku pikir kau bercanda, kau bilang “Apa ini kelihatan bercanda?” aku terdiam, dalam hati ku berkata “Sejujurnya sama sekali tidak.” Sampai pada suatu saat, bahkan aku masih ingat bulan itu. Kamu mengatakannya lagi. Kamu rela mengayuh sepeda menuju rumahku padahal itu sudah larut malam demi setangkai bunga mawar sebagai tanda sayangmu untukku. Bunga mawar ini sangat indah, seindah malam yang kulewati bersamamu. Kamu bilang bahwa perasaanmu telah begitu jauh masuk ke dalam lubuk hatimu. Kau meminta jawaban. Dan aku memintamu menunggu. Setelah hari itu, sebenarnya aku ingin menghindarimu. Bukan aku tak sayang. Tapi banyak alasan yang membuatku seperti itu. Mungkin kau tak akan mengerti dan memandangku hanya sebelah mata. Tetapi dari sekian banyak alasan itu pasti ada yang kamu mengerti, kau tahu betul apa yang terjadi pada hubunganku sebelumnya. Pengalaman yang hingga akhirnya aku merasa kau adalah Guardian Angel yang Tuhan kirimkan untukku pada saat itu. Sejujurnya aku belum bisa mempercayai siapa pun sepenuhnya. Aku tak bisa percaya begitu saja kepadamu hanya karena apa yang kamu katakan. Lagipula, aku masih ragu dengan perasaan ini. Aku tak tahu perasaan apakah ini sebenarnya. Aku takut ini hanya perasaan sepi saja, yang membutuhkan seseorang untuk tak menjadi sendiri. Rasanya aku ingin menghindarimu saja. Tapi bagaimana bisa jika apa yang kamu lakukan adalah hal yang membuatku senang? Kamu seperti mengenalku lebih dari apa yang aku kenali. Semua itu cukup mengurungkan niatku untuk menghindarimu. Tahu tidak, baru pada kamu aku memasang nada pesan khusus agar aku langsung tahu itu kamu. Baru dengan kamu aku terbangun di pagi hari dengan senyuman yang sama seperti saat menerima telepon darimu malam harinya. Baru dengan kamu. Kamu dan aku sama-sama tak tahu kapan perasaan lebih ini muncul. Tapi, aku selalu ingat kapan pertaman kali aku merasa begitu nyaman berada dekatmu, itu ketika kamu menghiburku dengan leluconmu dan memberiku semangat ketika aku bersedih dan mengeluh. Namun, aku pun selalu ingat kapan pertama kali aku merasakan kekecewaan itu. Kamu bilang “Bagaimana bila aku tak mau menunggumu lebih lama lagi?” ku bilang “aku takkan memaksamu menunggu.” Padahal yang ingin ku katakan adalah harusnya kamu menunggu.. beberapa hari saja, sampai tiba saatnya yang tepat. Karena jawabannya pasti iya. Sejak awal pun memang iya. Hanya saja aku ingin diyakinkan dulu olehmu. Sekarang kamu tahu kan jawabannya? Tinggal kau yakinkan, lalu jawaban ini menjadi milikmu. Lalu kapan kau akan meyakinkanku? Lamunanku terpecah seketika seseorang memanggilku. Seseorang yang tak asing lagi...

Tidak ada komentar:

@way2themes