Menjaga Hati - Semburat Sastra

Minggu, 11 November 2012

Menjaga Hati

                Lelahnya hari ini membuat mataku terkantuk saat mendengarkan ceramah Pak Ustadz di acara pengajian rutin malam ini. Rasanya badanku terasa lemas sekali bak besi yang di lelehkan. Mataku rasanya seperti diolesi perekat super yang membuat mataku sulit untuk terbuka lebar. Sebelum aku pingsan di Mesjid At-Taqwa ini, aku bergegas menemui Ustadzah Anna untuk meminta izin beristirahat di asrama dengan alasan sakit.
            Tiba-tiba saja malam ini aku merasakan kerinduan yang amat menyiksa batinku. Aku rindu Ibu. Aku rindu Ayah. Andai saja dulu aku bisa bersikap lebih baik mungkin Ayah dan Ibu sekarang masih ada di dunia ini. “Berhenti menyalahkan diri sendiri! Ini adalah kuasa-Nya.” Itu yang sering diucapkan ustadzah Anna kepadaku. Aku menyesal sekali atas segala perbuatanku dulu.
Ingatan itu tidak pernah hilang dari otakku, ketika malam itu aku tidak pulang ke rumah karena aku marah pada Ayah dan Ibu yang tidak mau membelikan aku mobil baru sebagai hadiah ulang tahunku. Mungkin bukan ‘tidak mau’ tetapi lebih tepatnya mereka ‘belum bisa’ memberikannya untukku sekarang. Aku benar-benar tidak mengabari mereka di atas kesenanganku bersama teman-teman. Hingga suatu saat penyakit jantung Ibu kambuh, lalu ketika Ayah bergegas mengantarnya ke Rumah Sakit, mereka mengalami kecelakaan. Hal itu terjadi ketika mobil Ayah berusaha menghindari mobil yang oleng di depannya hingga keluar dari jalan raya dan menabrak pohon. Dan ironisnya, mobil yang Ayah hindari itu adalah mobil temanku, yang aku tumpangi. Itu yang membuatku selalu merasa bersalah atas semua ini.
            Hingga akhirnya aku dapat berada di rumahku yang kedua ini. Pesantren Darul Hikmah. Aku disekolahkan disini oleh Nenekku. Awalnya aku memberontak tidak mau, tapi lama-lama akhirnya aku menyerah. Aku berpikir, apa aku bisa bertahan hidup hanya sebatang kara menjadi anak yatim piatu ? Dari sinilah hidupku mulai banyak mengalami perubahan.
            Lamunanku berakhir membawaku ke alam mimpi. 6 jam lamanya. Hingga aku mendengar suara adzan berkumandang yang menandakan subuh telah tiba. Seperti biasa aku melakukan aktifitas seperti halnya santri lain lakukan. Senang sekali, hari ini adalah hari terakhirku melaksanakan ujian semester.
            Bel berbunyi diikuti suara canda tawa anak-anak menandakan waktunya pulang dan ujian telah berakhir. Sebelum kembali ke asrama seperti biasa aku menaruh bukuku di loker. Ada benda yang menarik pandanganku di dalam loker. Sebuah surat. Aku heran dan langsung mengambil surat itu. Karena takut ada yang melihat akhirnya aku berniat membawa surat itu ke asrama. Setelah mendarat di kasur empukku, aku segera membuka isi surat tersebut. Satu, dua dan tiga, aku mulai membaca. Ternyata surat itu dari seorang lelaki! Seketika aku tersenyum membacanya. Lucu sekali. Yusuf, teman di pesantrenku mengirimi surat untukku.
Aku tidak tahu kapan perasaan ini muncul
Aku tidak tahu apa sebenarnya perasaan ini
Aku tidak tahu mengapa bisa ada perasaan seperti ini
Kita bertemu hanya pada moment tertentu
Kita dibatasi oleh kepercayaan dan aturan
Aku tahu perasaan ini tidak ada yang melarang
Perasaan adalah hak semua orang
Tapi.. kini perasaan ini harusku jaga
Hingga nanti tiba suatu saat yang tepat
Untuk kita bertemu dalam suatu ikatan
Karena cinta tidak boleh mendua
Dan kini cintaku harus ku lebih dulukan untuk-Nya Sang Maha Pencipta
            Mungkin aku mulai mengerti isi surat ini setelah ku baca berulang-ulang. Yusuf menyimpan perasaan lebih terhadapku. Tapi ia tidak memintaku untuk membentuk suatu ikatan dengannya. Aku tahu, seperti apa yang telah sering Ustadz Zaenal katakan bahwa dalam agama kita tidak dikenal istilah pacaran. Hal tersebut harus aku garis bawahi dan aku ingat. Yusuf, namamu yang seperti nama Nabi yang terkenal dengan keshalehan dan ketampanannya itu sudah ku anggap seperti kakakku. Aku mulai merasakannya ketika kita sering sama-sama menjadi panitia di acara-acara yang diadakan di pesantren ini. Dia begitu baik dan pengertian. Bisa ku bilang dia lebih dewasa dibandingkan teman-temannya. Terlebih, dia itu adalah cucu dari teman nenekku, jadi sebenarnya aku pernah dekat dengannya semasa kecil. Sewaktu kecil dan saat aku masih tinggal di rumah nenek, kami sering bermain bersama. Cowok tampan ini mungkin hampir sempurna dimata santriwati yang lain. Namun sayangnya, aku tidak menaruh perasaan lebih terhadapnya. Entah mengapa.
            “Renaldiiiiiiiii!” tiba-tiba terdengar teriakan itu dari luar asrama. Aku melihat keluar jendela kamarku dan kudapati Renaldi sedang berlari dengan kencangnya diikuti Ustadz Atto, pemilik asrama ini. Aku tersentak kaget dan langsung bergegas keluar menemui Ustadzah Anna.
“Ada apa Ustadzah? Ko kelihatannya ribut sekali?”
“Itu si Renaldi berbuat ulah lagi.”
“Kalo boleh tau, emang dia melakukan apa Ustadzah?”
“Mungkin mencuri sepeda orang lalu pergi keluar asrama tanpa bilang. Atau memanjat genting asrama. Atau.. Entahlah tidak usah dipikirkan. Tidur sana.”
Aku hanya tersenyum dan tanpa menjawab aku bergegas kembali ke kamar. Renaldi.. Renaldi.. tentu aku tidak bisa berhenti bertanya-tanya dengan apa yang terjadi. Dia itu salahsatu santri teraneh sekaligus teman pertama yang kudapati di pesantren ini. Dulu ketika aku baru pertama kali menginjakan kaki di pesantren ini, dia sudah berbuat ulah. Dia melaporkan aku kepada Ustadz Atto bahwa aku membawa handphone ke pesantren ini juga sering menggunakan jejaring social di internet. Aku kesal sekali padanya waktu itu, hingga aku berani mengajaknya untuk bertengkar secara terang-terangan. Karena dulu aku masih menjadi perempuan yang berani dan emosional. Tapi dari pertengkaran itulah kami menjadi saling kenal. Ternyata dia juga belum lama berada di pesantren ini. Dulu saat aku masih merasakan tidak betah berada di pesantren ini, kami pernah bertekad kabur bersama. Aku tidak tahu apa jadinya sekarang kalau saja dulu kami berhasil kabur tanpa sepengetahuan Ustadz dan Ustadzah disini.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai berubah. Yang kupikir itu adalah perubahan yang lebih baik. Begitu juga dengan Renaldi. Tapi aku rasa belum banyak yang berubah dari dirinya. Dia masih suka melakukan hal-hal konyol yang katanya sih itu untuk menyegarkan sensasi.
Tok.. Tok.. Tok.. terdengar suara ketukan dari arah jendela kamarku. Ternyata Renaldi! Ya Tuhan… Aku tidak berani membukakan jendela untuknya, tapi dia memohon. Dengan terpaksa, akhirnya ku buka jendela itu.
“Ada apa sih Re malem-malem gini? Terus tadi ngapain lari-larian?”
“Ceritanya panjang. Pokoknya intinya tadi gue pergi sama Rian. Nah terus kebetulan mampir ke toko buku. Nih buat lo.”
“Hah apaan nih?”
“Coba lo baca aja. Mudah-mudahan suka, gue tau lo suka novel kan.”
“Wah thankyouuu banget ya Re. Lo baik banget sama gue.”
“Iya dong. Apasih yang ngga buat lo. Oh iya, gue kangen nih.”
Tanpa sempat aku menjawab, dia bergegas pergi meninggalkan jendela kamarku. Mungkin firasatnya sudah tak enak, takut ketahuan.
Aku terdiam dan masih heran atas ucapan terakhir yang dia lontarkan tadi. Seperti kemasukkan aktor sinetron rupanya. Sebelumnya ia tidak pernah mengatakan itu. Tapi kenapa rasanya hati ini senang ya. Tak hentinya aku senyum-senyum sendiri. Tuhan.. apa ini yang dinamakan perasaan aneh itu? Perasaan yang tidak mengenal kapan, dimana, kepada siapa, dan apa penyebab datangnya. Dia seorang Renaldi yang terkenal dengan kenakalannya diantara santri-santri lain ini sukses membuat hatiku merasa deg-degan saat dekat dengannya. Sepertinya aku harus banyak mengucap istigfar seperti apa yang sering Ustadzah katakan bahwa ketika kita bertemu dengan seseorang yang kita cintai tapi bukan muhrimnya.
 Tak terasa. Kurang lebih dua tahun telah ku lewati hidup di pesatren ini. Sekarang sudah saatnya aku kembali ke kehidupan yang kuinginkan. Aku ingin mengejar cita-cita besarku. Nenek jelas tidak mengijinkanku untuk kembali ke Jakarta, ia tidak mau aku jauh-jauh darinya dengan berada di kota metropolitan itu. Namun aku terus berusaha memohon kepadanya dan mengatakan bahwa dulu aku juga pernah melaksanakan permintaannya untuk tinggal di pesantren, sekarang tidak adil rasanya jika nenek tidak mewujudkan permintaanku. Akhirnya aku berhasil meyakinkan nenek.
Hari ini hari perpisahanku dengan pesantren tercintaku ini. Aku banyak mendapatkan hal-hal berharga disini. Aku mulai belajar mengerti apa artinya hidup di dunia, apa yang sebenarnya kita ingin capai di akhir hari nanti, banyak yang ku pelajari tentang indahnya agama. Dan.. Aku juga belajar bagaimana sulitnya menjaga hatiku, mempertahankan perasaanku agar tidak sampai terjerumus pada hal yang tidak seharusnya.
 “Lo beneran mau kuliah di Jakarta?” tanya Renal yang sengaja datang ke rumah untuk melihat kepergianku.
“Iya lah, orang gue udah di terima di Al-Azhar.”
“Sombong nih ya.” candanya.
Seketika hening…
“Cepet lulus ya. Soalnya bakal banyak yang kangen sama lo disini….
Khususnya gue.”
Dengan agak malu aku menjawab “Haha apaan sih lo. Astagfirullahalazim.”
Sebelum aku berangkat. Ternyata masih ada satu orang yang sengaja datang ingin melihat keberangkatanku.
“Hati-hati ya. Insyaallah disini aku akan setia menunggu.” ucap lelaki tampan ini.
Aku hanya tersenyum karena bingung harus menjawab apa. Terlebih lagi disitu ada Renaldi. Aku berharap bahwa Renaldi tidak mendengar pembicaraan kami.
“Oh iya. Ini.” Yusuf memberikanku sebuah buku dan surat lagi. Rasanya sudah tidak bisa ku hitung berapa surat yang telah dia berikan untukku.
Yusuf dan Renaldi memang dua insan yang benar-benar berbeda. Yusuf itu lebih lembut, pengertian, dan bisa terbilang puitis. Sedangkan Renaldi itu konyol, ketus, tapi juga ada sisi baik yang membuat aku tertarik padanya.
Entah siapa yang akan menjadi jodohku nanti. Yang pasti aku mengharapkan jodoh yang memang aku cintai. Aku berkata dalam hati, siapa yang akan kutemui lagi nanti pertama kali itu adalah jodohku.
Hanya salam perpisahan yang tersisa pagi itu. Mobilku telah beranjak jauh dari desa tempat tinggal Nenek.
Hari ini aku harus sudah memulai aktifitas di kampusku yang baru. Ya, sekarang aku telah resmi menjadi mahasiswa Al-Azhar. Ini adalah langkah pertamaku untuk menuju cita-cita besarku.
Hari ini udara terasa begitu panas. Aku bergegas ke kantin untuk membeli sebotol minuman teh dingin dan membawanya mendarat hingga ke kursi taman di taman kampusku. Ketika aku sedang membuka laptopku, tiba-tiba saja pandanganku tertarik ke arah lelaki yang sedang berjalan di depanku, sepertinya ia menuju ke arahku. Ternyata benar, dengan gelagatnya yang khas dia menghampiriku.
“Haiii Ra.. Kita bakal sering ketemu lagi nih.”
Tersentak aku kaget. Ternyata Renaldi meneruskan sekolah disini juga. Apa jadinya ?
Tiba-tiba saja udara menjadi sejuk dan sesekali angin bertiup membuat tubuhku merasa dingin dan merinding. Hatiku deg-degan. “Astagfirullahalazim…”

Tidak ada komentar:

@way2themes