Lelahnya hari ini membuat mataku
terkantuk saat mendengarkan ceramah Pak Ustadz di acara pengajian rutin malam
ini. Rasanya badanku terasa lemas sekali bak besi yang di lelehkan. Mataku
rasanya seperti diolesi perekat super yang membuat mataku sulit untuk terbuka
lebar. Sebelum aku pingsan di Mesjid At-Taqwa ini, aku bergegas menemui
Ustadzah Anna untuk meminta izin beristirahat di asrama dengan alasan sakit.
Tiba-tiba
saja malam ini aku merasakan kerinduan yang amat menyiksa batinku. Aku rindu
Ibu. Aku rindu Ayah. Andai saja dulu aku bisa bersikap lebih baik mungkin Ayah
dan Ibu sekarang masih ada di dunia ini. “Berhenti menyalahkan diri sendiri!
Ini adalah kuasa-Nya.” Itu yang sering diucapkan ustadzah Anna kepadaku. Aku
menyesal sekali atas segala perbuatanku dulu.
Ingatan itu tidak pernah hilang dari otakku, ketika malam itu aku tidak pulang ke rumah karena aku marah pada Ayah dan Ibu yang tidak mau membelikan aku mobil baru sebagai hadiah ulang tahunku. Mungkin bukan ‘tidak mau’ tetapi lebih tepatnya mereka ‘belum bisa’ memberikannya untukku sekarang. Aku benar-benar tidak mengabari mereka di atas kesenanganku bersama teman-teman. Hingga suatu saat penyakit jantung Ibu kambuh, lalu ketika Ayah bergegas mengantarnya ke Rumah Sakit, mereka mengalami kecelakaan. Hal itu terjadi ketika mobil Ayah berusaha menghindari mobil yang oleng di depannya hingga keluar dari jalan raya dan menabrak pohon. Dan ironisnya, mobil yang Ayah hindari itu adalah mobil temanku, yang aku tumpangi. Itu yang membuatku selalu merasa bersalah atas semua ini.
Ingatan itu tidak pernah hilang dari otakku, ketika malam itu aku tidak pulang ke rumah karena aku marah pada Ayah dan Ibu yang tidak mau membelikan aku mobil baru sebagai hadiah ulang tahunku. Mungkin bukan ‘tidak mau’ tetapi lebih tepatnya mereka ‘belum bisa’ memberikannya untukku sekarang. Aku benar-benar tidak mengabari mereka di atas kesenanganku bersama teman-teman. Hingga suatu saat penyakit jantung Ibu kambuh, lalu ketika Ayah bergegas mengantarnya ke Rumah Sakit, mereka mengalami kecelakaan. Hal itu terjadi ketika mobil Ayah berusaha menghindari mobil yang oleng di depannya hingga keluar dari jalan raya dan menabrak pohon. Dan ironisnya, mobil yang Ayah hindari itu adalah mobil temanku, yang aku tumpangi. Itu yang membuatku selalu merasa bersalah atas semua ini.
Hingga
akhirnya aku dapat berada di rumahku yang kedua ini. Pesantren Darul Hikmah.
Aku disekolahkan disini oleh Nenekku. Awalnya aku memberontak tidak mau, tapi
lama-lama akhirnya aku menyerah. Aku berpikir, apa aku bisa bertahan hidup
hanya sebatang kara menjadi anak yatim piatu ? Dari sinilah hidupku mulai
banyak mengalami perubahan.
Lamunanku
berakhir membawaku ke alam mimpi. 6 jam lamanya. Hingga aku mendengar suara
adzan berkumandang yang menandakan subuh telah tiba. Seperti biasa aku
melakukan aktifitas seperti halnya santri lain lakukan. Senang sekali, hari ini
adalah hari terakhirku melaksanakan ujian semester.
Bel berbunyi
diikuti suara canda tawa anak-anak menandakan waktunya pulang dan ujian telah
berakhir. Sebelum kembali ke asrama seperti biasa aku menaruh bukuku di loker.
Ada benda yang menarik pandanganku di dalam loker. Sebuah surat. Aku heran dan
langsung mengambil surat itu. Karena takut ada yang melihat akhirnya aku berniat
membawa surat itu ke asrama. Setelah mendarat di kasur empukku, aku segera
membuka isi surat tersebut. Satu, dua dan tiga, aku mulai membaca. Ternyata
surat itu dari seorang lelaki! Seketika aku tersenyum membacanya. Lucu sekali. Yusuf,
teman di pesantrenku mengirimi surat untukku.
Aku tidak tahu kapan
perasaan ini muncul
Aku tidak tahu apa
sebenarnya perasaan ini
Aku tidak tahu mengapa
bisa ada perasaan seperti ini
Kita bertemu hanya pada
moment tertentu
Kita dibatasi oleh kepercayaan
dan aturan
Aku tahu perasaan ini
tidak ada yang melarang
Perasaan adalah hak
semua orang
Tapi.. kini perasaan
ini harusku jaga
Hingga nanti tiba suatu
saat yang tepat
Untuk kita bertemu
dalam suatu ikatan
Karena cinta tidak
boleh mendua
Dan kini cintaku harus
ku lebih dulukan untuk-Nya Sang Maha Pencipta
Mungkin aku
mulai mengerti isi surat ini setelah ku baca berulang-ulang. Yusuf menyimpan
perasaan lebih terhadapku. Tapi ia tidak memintaku untuk membentuk suatu ikatan
dengannya. Aku tahu, seperti apa yang telah sering Ustadz Zaenal katakan bahwa
dalam agama kita tidak dikenal istilah pacaran. Hal tersebut harus aku garis
bawahi dan aku ingat. Yusuf, namamu yang seperti nama Nabi yang terkenal dengan
keshalehan dan ketampanannya itu sudah ku anggap seperti kakakku. Aku mulai merasakannya
ketika kita sering sama-sama menjadi panitia di acara-acara yang diadakan di pesantren
ini. Dia begitu baik dan pengertian. Bisa ku bilang dia lebih dewasa
dibandingkan teman-temannya. Terlebih, dia itu adalah cucu dari teman nenekku,
jadi sebenarnya aku pernah dekat dengannya semasa kecil. Sewaktu kecil dan saat
aku masih tinggal di rumah nenek, kami sering bermain bersama. Cowok tampan ini
mungkin hampir sempurna dimata santriwati yang lain. Namun sayangnya, aku tidak
menaruh perasaan lebih terhadapnya. Entah mengapa.
“Renaldiiiiiiiii!”
tiba-tiba terdengar teriakan itu dari luar asrama. Aku melihat keluar jendela
kamarku dan kudapati Renaldi sedang berlari dengan kencangnya diikuti Ustadz
Atto, pemilik asrama ini. Aku tersentak kaget dan langsung bergegas keluar
menemui Ustadzah Anna.
“Ada apa Ustadzah? Ko kelihatannya ribut sekali?”
“Itu si Renaldi berbuat ulah lagi.”
“Kalo boleh tau, emang dia melakukan apa Ustadzah?”
“Mungkin mencuri sepeda orang lalu pergi keluar asrama tanpa
bilang. Atau memanjat genting asrama. Atau.. Entahlah tidak usah dipikirkan.
Tidur sana.”
Aku hanya tersenyum dan tanpa
menjawab aku bergegas kembali ke kamar. Renaldi.. Renaldi.. tentu aku tidak
bisa berhenti bertanya-tanya dengan apa yang terjadi. Dia itu salahsatu santri
teraneh sekaligus teman pertama yang kudapati di pesantren ini. Dulu ketika aku
baru pertama kali menginjakan kaki di pesantren ini, dia sudah berbuat ulah.
Dia melaporkan aku kepada Ustadz Atto bahwa aku membawa handphone ke pesantren ini juga sering menggunakan jejaring social
di internet. Aku kesal sekali padanya waktu itu, hingga aku berani mengajaknya untuk
bertengkar secara terang-terangan. Karena dulu aku masih menjadi perempuan yang
berani dan emosional. Tapi dari pertengkaran itulah kami menjadi saling kenal.
Ternyata dia juga belum lama berada di pesantren ini. Dulu saat aku masih
merasakan tidak betah berada di pesantren ini, kami pernah bertekad kabur
bersama. Aku tidak tahu apa jadinya sekarang kalau saja dulu kami berhasil
kabur tanpa sepengetahuan Ustadz dan Ustadzah disini.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai
berubah. Yang kupikir itu adalah perubahan yang lebih baik. Begitu juga dengan
Renaldi. Tapi aku rasa belum banyak yang berubah dari dirinya. Dia masih suka
melakukan hal-hal konyol yang katanya sih itu untuk menyegarkan sensasi.
Tok.. Tok.. Tok.. terdengar suara
ketukan dari arah jendela kamarku. Ternyata Renaldi! Ya Tuhan… Aku tidak berani
membukakan jendela untuknya, tapi dia memohon. Dengan terpaksa, akhirnya ku
buka jendela itu.
“Ada apa sih Re malem-malem gini? Terus
tadi ngapain lari-larian?”
“Ceritanya panjang. Pokoknya intinya
tadi gue pergi sama Rian. Nah terus kebetulan mampir ke toko buku. Nih buat
lo.”
“Hah apaan nih?”
“Coba lo baca aja. Mudah-mudahan
suka, gue tau lo suka novel kan.”
“Wah thankyouuu banget ya Re. Lo baik
banget sama gue.”
“Iya dong. Apasih yang ngga buat
lo. Oh iya, gue kangen nih.”
Tanpa sempat aku menjawab, dia
bergegas pergi meninggalkan jendela kamarku. Mungkin firasatnya sudah tak enak,
takut ketahuan.
Aku terdiam dan masih heran atas ucapan
terakhir yang dia lontarkan tadi. Seperti kemasukkan aktor sinetron rupanya.
Sebelumnya ia tidak pernah mengatakan itu. Tapi kenapa rasanya hati ini senang
ya. Tak hentinya aku senyum-senyum sendiri. Tuhan.. apa ini yang dinamakan
perasaan aneh itu? Perasaan yang tidak mengenal kapan, dimana, kepada siapa,
dan apa penyebab datangnya. Dia seorang Renaldi yang terkenal dengan
kenakalannya diantara santri-santri lain ini sukses membuat hatiku merasa
deg-degan saat dekat dengannya. Sepertinya aku harus banyak mengucap istigfar
seperti apa yang sering Ustadzah katakan bahwa ketika kita bertemu dengan
seseorang yang kita cintai tapi bukan muhrimnya.
Tak terasa. Kurang lebih dua tahun telah ku
lewati hidup di pesatren ini. Sekarang sudah saatnya aku kembali ke kehidupan
yang kuinginkan. Aku ingin mengejar cita-cita besarku. Nenek jelas tidak
mengijinkanku untuk kembali ke Jakarta, ia tidak mau aku jauh-jauh darinya dengan
berada di kota metropolitan itu. Namun aku terus berusaha memohon kepadanya dan
mengatakan bahwa dulu aku juga pernah melaksanakan permintaannya untuk tinggal
di pesantren, sekarang tidak adil rasanya jika nenek tidak mewujudkan permintaanku.
Akhirnya aku berhasil meyakinkan nenek.
Hari ini hari perpisahanku dengan
pesantren tercintaku ini. Aku banyak mendapatkan hal-hal berharga disini. Aku
mulai belajar mengerti apa artinya hidup di dunia, apa yang sebenarnya kita
ingin capai di akhir hari nanti, banyak yang ku pelajari tentang indahnya
agama. Dan.. Aku juga belajar bagaimana sulitnya menjaga hatiku, mempertahankan
perasaanku agar tidak sampai terjerumus pada hal yang tidak seharusnya.
“Lo beneran mau kuliah di Jakarta?” tanya Renal
yang sengaja datang ke rumah untuk melihat kepergianku.
“Iya lah, orang gue udah di terima di
Al-Azhar.”
“Sombong nih ya.” candanya.
Seketika hening…
“Cepet lulus ya. Soalnya bakal banyak
yang kangen sama lo disini….
Khususnya gue.”
Dengan agak malu aku menjawab “Haha
apaan sih lo. Astagfirullahalazim.”
Sebelum aku berangkat. Ternyata masih
ada satu orang yang sengaja datang ingin melihat keberangkatanku.
“Hati-hati ya. Insyaallah disini aku
akan setia menunggu.” ucap lelaki tampan ini.
Aku hanya tersenyum karena bingung
harus menjawab apa. Terlebih lagi disitu ada Renaldi. Aku berharap bahwa
Renaldi tidak mendengar pembicaraan kami.
“Oh iya. Ini.” Yusuf memberikanku
sebuah buku dan surat lagi. Rasanya sudah tidak bisa ku hitung berapa surat
yang telah dia berikan untukku.
Yusuf dan Renaldi memang dua insan
yang benar-benar berbeda. Yusuf itu lebih lembut, pengertian, dan bisa
terbilang puitis. Sedangkan Renaldi itu konyol, ketus, tapi juga ada sisi baik
yang membuat aku tertarik padanya.
Entah siapa yang akan menjadi jodohku
nanti. Yang pasti aku mengharapkan jodoh yang memang aku cintai. Aku berkata
dalam hati, siapa yang akan kutemui lagi nanti pertama kali itu adalah jodohku.
Hanya salam perpisahan yang tersisa
pagi itu. Mobilku telah beranjak jauh dari desa tempat tinggal Nenek.
…
Hari ini aku harus sudah memulai
aktifitas di kampusku yang baru. Ya, sekarang aku telah resmi menjadi mahasiswa
Al-Azhar. Ini adalah langkah pertamaku untuk menuju cita-cita besarku.
Hari ini udara terasa begitu panas.
Aku bergegas ke kantin untuk membeli sebotol minuman teh dingin dan membawanya
mendarat hingga ke kursi taman di taman kampusku. Ketika aku sedang membuka
laptopku, tiba-tiba saja pandanganku tertarik ke arah lelaki yang sedang
berjalan di depanku, sepertinya ia menuju ke arahku. Ternyata benar, dengan
gelagatnya yang khas dia menghampiriku.
“Haiii Ra.. Kita bakal sering ketemu
lagi nih.”
Tersentak aku kaget. Ternyata Renaldi
meneruskan sekolah disini juga. Apa jadinya ?
Tiba-tiba saja udara menjadi sejuk
dan sesekali angin bertiup membuat tubuhku merasa dingin dan merinding. Hatiku
deg-degan. “Astagfirullahalazim…”

Tidak ada komentar: