Sepi sekali. Sunyi. Aku masih
berjalan menyusuri koridor kelas demi kelas. “Seperti di rumah sakit..”
gumamku. Memang, saat itu ku lihat angka di jam tanganku menunjukan pukul
17.45. Bukan karena apa-apa, aku harus mengambil handphoneku yang tertinggal
di laci meja belajar keduaku, di kelas. Setelah meminjam kunci pada Abang
Penjaga Sekolah aku langsung menuju kelasku. Setelah mendarat di depan pintu
kelas, aku teringat sesuatu. Sial, aku lupa menanyakan kunci mana yang
merupakan kunci pintu kelasku. Terpaksa aku mencoba memasukkan kunci yang ada
di tanganku satu-persatu. Setelah sembilan kunci terlewati, aku yakin kunci ke
sepuluh pasti kunci yang kucari, karena itu merupakan kunci terakhir yang ku
pegang. Suasana semakin mencekam saja. Aku bergegas membuka pintu, ternyata di
dalam gelap, langsung aku menekan tombol yang kurasa itu pasti stop kontak
untuk menyalakan lampu. Lampu menyala.. dan...
“Beautiful
girl wherever you are
I
knew when I saw you you had opened the door
I
knew that I’d love again after a long long while
I’d
love again.
You
said hello and I turned to go
But
something in your eyes left my heart beating so
I
just knew that I’d love again after a long long while
I’d
love again.....”
Aku hanya terdiam dan terperangah
melihat lelaki yang sedang bernyanyi sambil memainkan gitar itu. Seketika
itu...
“SURPRISE!!!! HAPPY BIRTHDAY TO YOU HAPPY BIRTHDAY TO YOU
HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY TO YOUUUUUUU!” teman-temanku menyanyikan lagu
khas itu untukku sambil membawakan sebuah kue yang cantik. Tiba-tiba saja
mereka semua muncul dari balik tubuhku.
Setelah tiup lilin. Tiba-tiba lelaki itu menghampiri dan
mendekatiku. Dekat sekali.
“You wanna be my girl?” satu kalimat indah itu terlontarkan
dari bibir manisnya, ditemani bunga indah merah merona yang ada pada
genggamannya. Tersentak aku kaget dan bingung entah harus menjawab apa. Ini
seperti di film-film dan aku adalah pemeran utamanya. Ah! Lelaki itu memang
lelaki yang sukses membuat waktuku banyak tersita karena memikirkannya. Tetapi
di sisi lain, aku pun takut.. takut akan masa lalu itu.. sesuatu yang pernah
terjadi antara aku dengannya..
“Kesempatan gak akan dateng dua kali loh. Lo mau nyesel
seumur hidup?” bisik salahsatu sahabatku.
Tekadku bulat. Aku berniat menjawab pertanyaan itu. Tetapi,
tiba-tiba saja semua menjadi gelap dan bising.
Kriiiinggg... Kriiinnggg!!! Suara jam wekerku sukses
membuyarkan semua mimpi indah itu. Aku terbangun dari tidurku! Ya. Semua itu
hanya mimpi.
***
“Gak kerasa ya... Udah mau ujian
aja nih.” celoteh Bella sambil membuka-buka buku pelajaran eksak yang ada di
tangannya, tanpa membacanya.
“Iya. Dan gak kerasa, kita semua
bakalan pisah.” ucapku datar.
“Aaaaah. Syediiiihhh!!!” keluh
Bella dengan nada so’ manja.
“Asli Bel. Terlalu banyak
kenangan kita disini.”
“Ah elu mah yang di inget
kenangan sama dia kali bukan sama gue!”
“Hahaha dia siapa sih? Dih nggak
ko cantiiik, just you in my life. Hahaha” candaku dengan gaya menggoda.
“Siapa? Perlu gue perjelas? Eh
sebelum perpisahan.. Mending lo ungkap aja deh semuanya. Daripada lo nyesel
seumur hidup!”
Seketika aku ingat mimpiku
semalam, persis ada kata-kata yang dilontarkan Bella padaku.
“Ah apaan sih lo! Yuk ah masuk
kelas! Perpus bukan tempat curcol yang pas deh kayaknya.” ucapku berusaha
menghindari pembicaraan.
Sepanjang jalan menuju kelas aku
terpikirkan ucapan Bella tadi, sampai-sampai aku tak tersadar telah menabrak
orang yang berjalan berpapasan di depanku.
“Eh sori dit sori!” ucapku gugup
sembari mengambil buku-bukuku yang berserakan di lantai.
“Payah!” jawabnya datar.
“Ya kan gue udah minta maaf.
Bantuin beresin buku gue kek napa.”
“Ogah!” dia pergi begitu saja.
Euuhhh. Dasaaaarrr! Dia memang ketus. Ketus sekali. Tapi,
aku tak pernah bisa memungkiri atas apa yang ada di hati ini. Dia. Lelaki yang
ada di mimpiku dan sering menjadi topik pembicaraan curhatku.
“Sini gue bantu!” seseorang menawarkan bantuan. Aku hanya
tersenyum.
***
Sebenarnya, dulu dia pernah
menjadi orang yang paling perhatian. Yang selalu ada setiap aku membutuhkannya.
Yang selalu siap menjadi pendengarku ketika aku mendapati masalah. Yang bisa
menjadi pahlawan ketika tidak ada satu pun orang yang bisa menolongku. Tapi
sayangnya, aku merasa biasa saja. Hingga sampai suatu saat dia menyerah, tak
pernah memanjakanku lagi.
Mungkin kini, aku hanya serpihan
baginya... Masa lalu yang membuat dia tidak ingin pernah mencobanya lagi..
Terlintas di benakku, akankah yang ada dimimpiku itu benar-benar terjadi? Ah.
Mungkin untuk mengingatnya saja dia sudah malas...
****
“Halaaah.. Berapa minggu lagi
nih kita sekolah?” celoteh Gian sembari membuka-buka buku yang ada ditangannya.
“Tiga. Sebentar lagi, kita semua
bakalan pisah.” jawab Adit datar.
“Aaaah lo sedih ya pisah sama
gue? Tenang, gue bakal sering ngingetin lo makan ko Dit! Whahaha” goda Gian.
“Apaan sih lo! Gue masih normal
kali! Gak kaya lo.”
“Hahaha. Eh Dit, lo gak ada
rencana buat nyata’in perasaan sama ... ?”
“Sama siapa? Udahlah, kayaknya
gue udah cukup bikin dia bete mulu.” keluh Adit.
“Ya lagian lo sih, perasaan
kalian tuh kalo ketemu gak pernah akur. Kenapa sih? Tadi aja lo datar gitu pas
nabrak dia. Bukannya bantuin gitu. Pdkt lagi ga ada salahnya kan!”
“Lah tadi gue udah mau bantuin,
tapi tiba-tiba ada si Reno so’ pahlawan. Ya gue cabut aja.”
“Haha. Jangan mau kalah dong!
Oke kalau lo anggep si Reno itu pengahalang. Kita abisin aja dia!” Gian
mempraktekkan gayanya memukul orang.
“Eh sori ya, gue tuh gak suka main fisik. Sayang energi dipake
yang gak penting!”
Sebenernya bukan cuma Reno yang jadi penghalang. Entah
kenapa, gue rasa terlalu banyak penghalang setiap kali gue mau berbuat baik
sama lo. Jujur, sebenernya mungkin karena hati ini yang gak selalu yakin untuk
jatuh lagi. Gue takut. Tapi, gue juga gak pernah bisa memungkiri perasaan ini.
“Sebentar lagi dia ulang taun lohh...”
“Iya, gue tau.” Jawab Adit seolah tak memperdulikannya.
****
Betapa nyenyaknya tidurku tadi malam. Hingga aku bisa
merasakan betapa segarnya pagi ini. Pagi di hari yang spesial tentunya. Ya,
hari dimana usiaku bertambah. Aku harap ini awal yang baik. Semoga.
Papa, Mama, dan kakak-kakakku memberikanku ucapan dan
sebuah kue yang cantik tadi malam, tepat pukul 00.00. aku yakin, kue itu pasti
buatan Ibuku tersayang. Senang sekali rasanya, aku kira mereka tidak
mengingatnya sama sekali karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tapi
ternyata, indah.
Berbeda dengan pagiku di sekolah, semua terasa sepi.
Sepertinya mereka tidak memperdulikanku. Apalagi.. dia. Terlebih lagi, sudah 4
hari dan hari itu Bella tidak sekolah karena ada keperluan keluarga yang
mendesak. Sedih sekali rasanya, di hari spesial ini tanpa seorang sahabat.
Yaa... setidaknya aku bisa merayakannya berdua dengan menghabiskan isi dompetku
di kantin. Tapi rencanaku itu gagal.
Saat pulang sekolah... Masih saja sepi. Nothing special.
Sengaja aku memperlambat waktu untuk pulang, karena aku masih berharap
barangkali Adit tiba-tiba datang menghampiriku bersama Bella sembari membawa cheese
cake kesukaanku. Sekaligus bunga merah merona perlambang cinta. Aiih.
Ketika sedang duduk di koridor depan kelas sembari
memainkan laptopku, tiba-tiba mataku tertuju pada seseorang yang tak asing lagi
sedang berjalan di depanku. Ahh senangnya, aku benar-benar bertemu dengannya. Dia
menghampiriku.
“Eh Sa, minta nomor Bella dong!” suara Adit membuat
jantungku berhenti berdegup.
“Sa sa, lo kira bumbu masakan apa? Nama gue Sa-Sya!”
“Emang masalah ya? Udah cepet mana sini nomornya?”
Tanpa menjawab lagi, aku bergegas memberikan nomor Bella.
“Gak ada yang lain nomornya?”
“Gak.” Jawabku ketus.
“Oh, yaudah thanks!”
Ia beranjak pergi. Prakkk.. prakkk, mungkin kurang lebih
seperti itu suara hatiku yang patah.
Tiba-tiba air langit membasahi tempatku berpijak. Seperti
mewakili hatiku yang ingin menangis karena menanti harapan yang tak kunjung
datang. Aku pun akhirnya pulang...
***
“SURPRISEEEEE!!!!!” tiba-tiba teman-temanku bermunculan
dari balik kursi di ruang tamu ketika aku membuka pintu. Mereka menyanyikan
lagu Selamat Ulang Tahun dengan gaya khas mereka. Dan senangnya, ada Bella
disitu. Ia menghampiriku sembari memberikan caramel cake kesukaannya,
bukan kesukaanku. Tak apa lah, yang penting dia mengingat ulang tahunku.
Setelah meniup lilin, tiba-tiba saja terdengar dentingan suara petikan gitar di
telingaku. Seorang lelaki menyanyikan sebuah lagu, salahsatu dari deretan lagu
kesukaanku, sembari memainkan gitar. Aku hanya terdiam sampai lagu itu selesai
dinyanyikan.
“Sya.. Sejak pertama gue kenal lo, gue gak tau perasaan apa
yang gue rasa. Gue gak bisa definisikan itu. Bayangan lo selalu ada dimana pun
gue berada. Gue rasa, gue tlah jatuh cinta...” satu-persatu kata itu
terlontarkan dari bibir manisnya. Dia menatapku dalam.
“ Wanna be my girl?” persis seperti dalam mimpi!
Tapi.........
Lelaki yang ada didepanku sekarang itu bukan seseorang yang
ku harapkan. Aku tidak punya perasaan apa-apa kepada lelaki yang sedang berada
depanku saat ini.
“Andai lo itu Adit...” bisikku dalam hati.
****
Kenapa sih. Ini semua selalu tak
sejalan dengan apa yang ingin gue lakukan..
“Shit!!” ucap Adit penuh kesal.
“Lo tadi kenapa pulang sih Dit?
Padahal lo maju ajaaaa!” Gian ikut-ikutan kesal.
“Maju? Gue males kalo udah
ngeliat si Reno!!”
“Terus mau sampai kapan lo kaya
gini? Cinta tuh kalo gak diperjuangin bener-bener, lo gak akan pernah dapetin
itu sob!”
Andai lo tau Sya. Gue tadi udah ada di depan rumah lo!!
Dengan penuh perjuangan, motor gue yang mogok memaksa gue untuk naik sepedanya
si Gian untuk bisa sampe ke rumah lo. Dan saat gue sampe.. ternyata gue kalah
cepet, ada anak-anak kelas plus Reno disitu.
Dari awal gue emang udah gak yakin bisa ngasih surprise
ini. Padahal gue pengen banget ngasih sesuatu yang paling spesial di hari yang
paling spesial buat lo. Ya, kayak apa yang dulu pernah lo lakuin buat gue.
Tapi, gimana coba kalo jalannya harus kayak gini? Ditambah lagi, Bella
bener-bener sulit untuk dihubungi. Selama dia gak sekolah, gue coba ngehubungi
dia buat bikin rencana surprise ulang tahun lo. Gue gak tau harus minta
tolong sama siapa lagi, yang gue tau temen deket lo itu cuma Bella. Dan
ternyata, gue liat tadi dia ada sama Reno. Gue langsung nyerah, mundur,
daripada gue cuma jadi pengganggu aja disana, di acara ulang tahun lo. Mungkin, lo juga sama sekali gak ngeharapin adanya gue.
Kayaknya, kita emang gak pernah ditakdirin untuk bahagia
bersama.

Tidak ada komentar: