indah pada waktunya (part 1) - Semburat Sastra

Senin, 01 April 2013

indah pada waktunya (part 1)


                Sepi sekali. Sunyi. Aku masih berjalan menyusuri koridor kelas demi kelas. “Seperti di rumah sakit..” gumamku. Memang, saat itu ku lihat angka di jam tanganku menunjukan pukul 17.45. Bukan karena apa-apa, aku harus mengambil handphoneku yang tertinggal di laci meja belajar keduaku, di kelas. Setelah meminjam kunci pada Abang Penjaga Sekolah aku langsung menuju kelasku. Setelah mendarat di depan pintu kelas, aku teringat sesuatu. Sial, aku lupa menanyakan kunci mana yang merupakan kunci pintu kelasku. Terpaksa aku mencoba memasukkan kunci yang ada di tanganku satu-persatu. Setelah sembilan kunci terlewati, aku yakin kunci ke sepuluh pasti kunci yang kucari, karena itu merupakan kunci terakhir yang ku pegang. Suasana semakin mencekam saja. Aku bergegas membuka pintu, ternyata di dalam gelap, langsung aku menekan tombol yang kurasa itu pasti stop kontak untuk menyalakan lampu. Lampu menyala.. dan...
Beautiful girl wherever you are
I knew when I saw you you had opened the door
I knew that I’d love again after a long long while
I’d love again.
You said hello and I turned to go
But something in your eyes left my heart beating so
I just knew that I’d love again after a long long while
I’d love again.....”
               Aku hanya terdiam dan terperangah melihat lelaki yang sedang bernyanyi sambil memainkan gitar itu. Seketika itu...
“SURPRISE!!!! HAPPY BIRTHDAY TO YOU HAPPY BIRTHDAY TO YOU HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY TO YOUUUUUUU!” teman-temanku menyanyikan lagu khas itu untukku sambil membawakan sebuah kue yang cantik. Tiba-tiba saja mereka semua muncul dari balik tubuhku.
Setelah tiup lilin. Tiba-tiba lelaki itu menghampiri dan mendekatiku. Dekat sekali.
“You wanna be my girl?” satu kalimat indah itu terlontarkan dari bibir manisnya, ditemani bunga indah merah merona yang ada pada genggamannya. Tersentak aku kaget dan bingung entah harus menjawab apa. Ini seperti di film-film dan aku adalah pemeran utamanya. Ah! Lelaki itu memang lelaki yang sukses membuat waktuku banyak tersita karena memikirkannya. Tetapi di sisi lain, aku pun takut.. takut akan masa lalu itu.. sesuatu yang pernah terjadi antara aku dengannya..
“Kesempatan gak akan dateng dua kali loh. Lo mau nyesel seumur hidup?” bisik salahsatu sahabatku.
Tekadku bulat. Aku berniat menjawab pertanyaan itu. Tetapi, tiba-tiba saja semua menjadi gelap dan bising.
Kriiiinggg... Kriiinnggg!!! Suara jam wekerku sukses membuyarkan semua mimpi indah itu. Aku terbangun dari tidurku! Ya. Semua itu hanya mimpi.
***
                “Gak kerasa ya... Udah mau ujian aja nih.” celoteh Bella sambil membuka-buka buku pelajaran eksak yang ada di tangannya, tanpa membacanya.
                “Iya. Dan gak kerasa, kita semua bakalan pisah.” ucapku datar.
                “Aaaaah. Syediiiihhh!!!” keluh Bella dengan nada so’ manja.
                “Asli Bel. Terlalu banyak kenangan kita disini.”
                “Ah elu mah yang di inget kenangan sama dia kali bukan sama gue!”
                “Hahaha dia siapa sih? Dih nggak ko cantiiik, just you in my life. Hahaha” candaku dengan gaya menggoda.
                “Siapa? Perlu gue perjelas? Eh sebelum perpisahan.. Mending lo ungkap aja deh semuanya. Daripada lo nyesel seumur hidup!”
                Seketika aku ingat mimpiku semalam, persis ada kata-kata yang dilontarkan Bella padaku.
                “Ah apaan sih lo! Yuk ah masuk kelas! Perpus bukan tempat curcol yang pas deh kayaknya.” ucapku berusaha menghindari pembicaraan.
                Sepanjang jalan menuju kelas aku terpikirkan ucapan Bella tadi, sampai-sampai aku tak tersadar telah menabrak orang yang berjalan berpapasan di depanku.
                “Eh sori dit sori!” ucapku gugup sembari mengambil buku-bukuku yang berserakan di lantai.
                “Payah!” jawabnya datar.
                “Ya kan gue udah minta maaf. Bantuin beresin buku gue kek napa.”
                “Ogah!” dia pergi begitu saja.
Euuhhh. Dasaaaarrr! Dia memang ketus. Ketus sekali. Tapi, aku tak pernah bisa memungkiri atas apa yang ada di hati ini. Dia. Lelaki yang ada di mimpiku dan sering menjadi topik pembicaraan curhatku.
“Sini gue bantu!” seseorang menawarkan bantuan. Aku hanya tersenyum.
***
                Sebenarnya, dulu dia pernah menjadi orang yang paling perhatian. Yang selalu ada setiap aku membutuhkannya. Yang selalu siap menjadi pendengarku ketika aku mendapati masalah. Yang bisa menjadi pahlawan ketika tidak ada satu pun orang yang bisa menolongku. Tapi sayangnya, aku merasa biasa saja. Hingga sampai suatu saat dia menyerah, tak pernah memanjakanku lagi.
                Mungkin kini, aku hanya serpihan baginya... Masa lalu yang membuat dia tidak ingin pernah mencobanya lagi.. Terlintas di benakku, akankah yang ada dimimpiku itu benar-benar terjadi? Ah. Mungkin untuk mengingatnya saja dia sudah malas...
****
                “Halaaah.. Berapa minggu lagi nih kita sekolah?” celoteh Gian sembari membuka-buka buku yang ada ditangannya.
                “Tiga. Sebentar lagi, kita semua bakalan pisah.” jawab Adit datar.
                “Aaaah lo sedih ya pisah sama gue? Tenang, gue bakal sering ngingetin lo makan ko Dit! Whahaha” goda Gian.
                “Apaan sih lo! Gue masih normal kali! Gak kaya lo.”
                “Hahaha. Eh Dit, lo gak ada rencana buat nyata’in perasaan sama ... ?”
                “Sama siapa? Udahlah, kayaknya gue udah cukup bikin dia bete mulu.” keluh Adit.
                “Ya lagian lo sih, perasaan kalian tuh kalo ketemu gak pernah akur. Kenapa sih? Tadi aja lo datar gitu pas nabrak dia. Bukannya bantuin gitu. Pdkt lagi ga ada salahnya kan!”
                “Lah tadi gue udah mau bantuin, tapi tiba-tiba ada si Reno so’ pahlawan. Ya gue cabut aja.”
                “Haha. Jangan mau kalah dong! Oke kalau lo anggep si Reno itu pengahalang. Kita abisin aja dia!” Gian mempraktekkan gayanya memukul orang.
“Eh sori ya, gue tuh gak suka main fisik. Sayang energi dipake yang gak penting!”
Sebenernya bukan cuma Reno yang jadi penghalang. Entah kenapa, gue rasa terlalu banyak penghalang setiap kali gue mau berbuat baik sama lo. Jujur, sebenernya mungkin karena hati ini yang gak selalu yakin untuk jatuh lagi. Gue takut. Tapi, gue juga gak pernah bisa memungkiri perasaan ini.
“Sebentar lagi dia ulang taun lohh...”
“Iya, gue tau.” Jawab Adit seolah tak memperdulikannya.
****
Betapa nyenyaknya tidurku tadi malam. Hingga aku bisa merasakan betapa segarnya pagi ini. Pagi di hari yang spesial tentunya. Ya, hari dimana usiaku bertambah. Aku harap ini awal yang baik. Semoga.
Papa, Mama, dan kakak-kakakku memberikanku ucapan dan sebuah kue yang cantik tadi malam, tepat pukul 00.00. aku yakin, kue itu pasti buatan Ibuku tersayang. Senang sekali rasanya, aku kira mereka tidak mengingatnya sama sekali karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tapi ternyata, indah.
Berbeda dengan pagiku di sekolah, semua terasa sepi. Sepertinya mereka tidak memperdulikanku. Apalagi.. dia. Terlebih lagi, sudah 4 hari dan hari itu Bella tidak sekolah karena ada keperluan keluarga yang mendesak. Sedih sekali rasanya, di hari spesial ini tanpa seorang sahabat. Yaa... setidaknya aku bisa merayakannya berdua dengan menghabiskan isi dompetku di kantin. Tapi rencanaku itu gagal.
Saat pulang sekolah... Masih saja sepi. Nothing special. Sengaja aku memperlambat waktu untuk pulang, karena aku masih berharap barangkali Adit tiba-tiba datang menghampiriku bersama Bella sembari membawa cheese cake kesukaanku. Sekaligus bunga merah merona perlambang cinta. Aiih.
Ketika sedang duduk di koridor depan kelas sembari memainkan laptopku, tiba-tiba mataku tertuju pada seseorang yang tak asing lagi sedang berjalan di depanku. Ahh senangnya, aku benar-benar bertemu dengannya. Dia menghampiriku.
“Eh Sa, minta nomor Bella dong!” suara Adit membuat jantungku berhenti berdegup.
“Sa sa, lo kira bumbu masakan apa? Nama gue Sa-Sya!”
“Emang masalah ya? Udah cepet mana sini nomornya?”
Tanpa menjawab lagi, aku bergegas memberikan nomor Bella.
“Gak ada yang lain nomornya?”
“Gak.” Jawabku ketus.
“Oh, yaudah thanks!”
Ia beranjak pergi. Prakkk.. prakkk, mungkin kurang lebih seperti itu suara hatiku yang patah.
Tiba-tiba air langit membasahi tempatku berpijak. Seperti mewakili hatiku yang ingin menangis karena menanti harapan yang tak kunjung datang. Aku pun akhirnya pulang...
***
“SURPRISEEEEE!!!!!” tiba-tiba teman-temanku bermunculan dari balik kursi di ruang tamu ketika aku membuka pintu. Mereka menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dengan gaya khas mereka. Dan senangnya, ada Bella disitu. Ia menghampiriku sembari memberikan caramel cake kesukaannya, bukan kesukaanku. Tak apa lah, yang penting dia mengingat ulang tahunku. Setelah meniup lilin, tiba-tiba saja terdengar dentingan suara petikan gitar di telingaku. Seorang lelaki menyanyikan sebuah lagu, salahsatu dari deretan lagu kesukaanku, sembari memainkan gitar. Aku hanya terdiam sampai lagu itu selesai dinyanyikan.
“Sya.. Sejak pertama gue kenal lo, gue gak tau perasaan apa yang gue rasa. Gue gak bisa definisikan itu. Bayangan lo selalu ada dimana pun gue berada. Gue rasa, gue tlah jatuh cinta...” satu-persatu kata itu terlontarkan dari bibir manisnya. Dia menatapku dalam.
“ Wanna be my girl?” persis seperti dalam mimpi! Tapi.........
Lelaki yang ada didepanku sekarang itu bukan seseorang yang ku harapkan. Aku tidak punya perasaan apa-apa kepada lelaki yang sedang berada depanku saat ini.
“Andai lo itu Adit...” bisikku dalam hati.
****
                Kenapa sih. Ini semua selalu tak sejalan dengan apa yang ingin gue lakukan..
                “Shit!!” ucap Adit penuh kesal.
                “Lo tadi kenapa pulang sih Dit? Padahal lo maju ajaaaa!” Gian ikut-ikutan kesal.
                “Maju? Gue males kalo udah ngeliat si Reno!!”
                “Terus mau sampai kapan lo kaya gini? Cinta tuh kalo gak diperjuangin bener-bener, lo gak akan pernah dapetin itu sob!”
Andai lo tau Sya. Gue tadi udah ada di depan rumah lo!! Dengan penuh perjuangan, motor gue yang mogok memaksa gue untuk naik sepedanya si Gian untuk bisa sampe ke rumah lo. Dan saat gue sampe.. ternyata gue kalah cepet, ada anak-anak kelas plus Reno disitu.
Dari awal gue emang udah gak yakin bisa ngasih surprise ini. Padahal gue pengen banget ngasih sesuatu yang paling spesial di hari yang paling spesial buat lo. Ya, kayak apa yang dulu pernah lo lakuin buat gue. Tapi, gimana coba kalo jalannya harus kayak gini? Ditambah lagi, Bella bener-bener sulit untuk dihubungi. Selama dia gak sekolah, gue coba ngehubungi dia buat bikin rencana surprise ulang tahun lo. Gue gak tau harus minta tolong sama siapa lagi, yang gue tau temen deket lo itu cuma Bella. Dan ternyata, gue liat tadi dia ada sama Reno. Gue langsung nyerah, mundur, daripada gue cuma jadi pengganggu aja disana, di acara ulang tahun lo. Mungkin, lo juga sama sekali gak ngeharapin adanya gue.
Kayaknya, kita emang gak pernah ditakdirin untuk bahagia bersama.

Tidak ada komentar:

@way2themes