Ada apaKah gerangan? Gelanggang olahragaku... - Semburat Sastra

Minggu, 18 Mei 2014

Ada apaKah gerangan? Gelanggang olahragaku...

Seperti biasa.. Selamat Malam sobat semua :)
Semoga selalu ada dalam keselamatan, aamiin

Sebenernya hal ini udah pengen writer bahas dan posting dari dulu, cuma entah kenapa, entah so' sibuk atau emang beneran sibuk, rasanya gak pernah sempet buat posting disini :p
Well... Ceritanya tadi pagi writer pergi ke salah satu gelanggang olahraga yang ada di kota writer. Sebutlah K. Sebenarnya ini bukan kali pertama writer datang kesitu, hampir tiap minggu writer bersama ibu tercinta berkunjung kesana.
Rajin olahraga ya? Tentu! Tentu bukan. Eheheh. Kami hanya sekedar jalan - jalan atau cuci mata alias liat - liat belanjaan yang harganya banyak diobral (padahal sih harganya sama aja. Yang kualitasnya bagus, harganya relatif mahal, yang kualitasnya dibawah rata-rata yaaa harganya juga dibawah rata-rata). Nah, ini juga bukan kali pertama writer melihat, menyadari serta merasakan sebuah kejanggalan yang akhirnya memunculkan rasa ingin berkomentar. Yap, berkomentar -mengomentari tanpa memberi solusi- Tetapi... menimbulkan sebuah pertanyaan: Ada apakah gerangan?

Jadi gini, tiap writer berkunjung kesana. Entah itu sama ibu, ayah, kakek, nenek, adik, kakak, sepupu, bibi, paman,&&&& (ini mau pergi ke tempat olahraga atau mau reunian keluarga sih?), tiap writer kesana, nah kan dikasih tiket tuh sebelum masuk, terus writer bayar. Do you know kita mesti bayar berapaaa? Rp 2000 booo Rp 2000!!! *think* Apa yang ada di benak kalian? Jangan-jangan kalian mikir.... "Terus kenapa kalau Rp 2000? Masalah?" Jelas itu masalah! Asal kalian tau aja, dahulu kala saat writer masih SD, harga tiket masuk itu cuma Rp 250,- (kalo ga salah, berarti bener) dan sekarang berapa?? Naik drastis sampai hampir 10 kali lipat tuh. Memang sih kenaikan harganya itu bertahap, sempet Rp 500, terus Rp 1000, terus dan terus naik. Sebenernya harga Rp 2000 zaman sekarang emang beda sih sama zaman dulu, harga gehu dan bala-bala aja udah naik (ini salah satu fenomena yang terlihat oleh kasat mata tentang alangkah semakin rapuhnya keadaan ekonomi di negara kita), well back to topic, tapi titik masalahnya itu bukan di harga, melainkan: ini fasilitas umum, milik negara dong kan ya? Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Ya harusnya semua dibikin gratis dong? Setau writer, di kota lain, gelanggang olahraga yang sifatnya umum itu gak dipungut biaya apapun. Bener gak sih? Kan setiap warga negara udah bayar pbb beserta segala macemnya. Haneh... Yah mendingan sih kalau misalnya dana yang masuk bisa terbukti dan terlihat secara nyata oleh kita, misal dengan adanya pengembangan fasilitas, lah tetapi ini malah sebaliknya. Kebersihan tidak begitu terjaga, mainan (ayunan, perosotan, dsb) masih gitu - gitu aja, malah kondisinya lebih memprihatinkan (rusak) dibanding kondisinya saat zaman writer SD, keamanan gak terjamin (karena semua orang bebas masuk -asalkan bayar tiket-). Kembali lagi keingetan masalah tiket, letak permasalahannya bukan hanya yang di atas tadi, tapi.... Ceritanya kan tiap writer beranjak masuk nih, dicegat dulu buat bayar, terus dikasih tiketnya, tiket tersebut merupakan secarik kertas yang sudah merupakan sobekan (sobekan di batas garis putus-putus itu loh, jadi sisa kertas yang nempel di tumpukan (persegi panjang bentuknya) itu buat bukti penghitungan jumlah tiket yang terjual), nah terus pas mau masuk, ada lagi yang nyegat (penjaga pintu 2 gitu ceritanya), dia minta tiket (sobekan tiket) yang tadi writer dapet dari si penjaga depan 1, bodor gak sih? (bodor=lucu) *bayangin* Kita bayar buat beli tiket ke si penjaga depan 1, eh dapet tiket yang udah disobek *tak apalah*, terus tiket itu diminta lagi sama penjaga pintu 2 (tanpa disobek lagi dan dipungut di sebuah dus) *nahloh. Bentar-bentar, yang baca ngerti gak maksud writer? Haha -_-
Jadi, praduga sementara dari writer: tiket tersebut diniatkan untuk tidak hanya digunakan satu kali, tetapi bisa digunakan berkali-kali setiap minggunya atau jangan-jangan setiap harinya (tapi writer curiga sih cuma setiap hari minggu aja, karena hari-hari biasa pengunjungnya tidak semembludak hari minggu), dan disini bermainlah tangan - tangan cantik para oknum tak tahu diri. Mereka bisa saja membuat anggaran pengeluaran tiket setiap periodenya, padahal tiket yang dipake cuma yang itu-itu aja! Dan pemasukan-pemasukan yang dilaporkan hanya disesuaikan dengan sobekan tiket yang sudah diatur sedemikianrupa! Pintar memang. Memang pintar.
Lantas, harga tiket selumayan mahal itu sebenernya untuk apa? Gaji pegawai? Bukankah sudah masuk anggaran negara? Pengembangan fasilitas? Mana? Buat bayar gaji instruktur senam? Helo mereka juga memungut biaya seikhlasnya dari orang-orang yang ngikutin gerakan senam si instrukturnya loh. Atau.. buat bayar jasa tukang odong-odong?
*Ini hanya versi suudzannya writer* *tidak diniatkan untuk menimbulkan sebuah kontroversi*

Dan yang semakin membuat keyakinan writer terhadap praduga sementara tersebut adalah: penjaga pintu kok tiba-tiba jadi banyak ya? Bukannya satu atau dua orang juga cukup? Zaman writer SD juga cuma satu orang kok yang jaga. Cukup nerima uang dan memberikan tiket. Gak ada hal yang janggal saat itu. Tapi sekarang? Hmm. Oh iya, penemuan baru, malah ada pintu rahasia loh! Bukan pintu ajaibnya doraemon yang cuma ada dalam khayalan, tapi ini nyata! Tadi ceritanya writer mau masuk lewat pintu gerbang yang gak biasanya (kan tempat ini emang punya 3 pintu masuk: 1 pintu utama, 1 pintu yang langsung menuju lapangan basket, 1 pintu spesial yang cuma dibuka saat hari minggu), dan tadi ternyata pintunya nambah lagi, writer dan ibu tercinta berniat masuk lewat pintu utama, tapi tiba-tiba ada yang ngagupayan (bukan say hello, tapi hanya sekedar memberi isyarat kalo pintu dan tiket masuknya "ada disini"), akhirnya writer ngikutin isyarat itu (karena gak ngeuh sebelumnya), dan ternyata lagi-lagi sobekan tiket itu yang muncul, dan writer disuruh masuk lewat arah kanan (padahal pintu utama ada di sebelah kiri writer saat itu), dan lagi-lagi sobekan tiket masuk itu dipungut oleh seorang penjaga pintu rahasia itu.
Niat banget kan? Apa maksudnya?
Setelah masuk ke dalam, writer masih merasa sangat tak enak dan terus memerhatikan arah pintu masuk itu, tetapi seketika pandangan writer terhenti ke arah pintu utama ketika mendapati sesosok orang yang sedang memegang setumpukan kertas dan menyobek-nyobekkannya hingga berterbangan dan berserakan di jalanan, ia memakai pakaian dinas resmi sepertinya, karena di bajunya terdapat tulisan yang memang menandakan itu merupakan pakaian resmi untuk para pegawai di tempat gelanggang olahraga tsb. Nah! Ini nih, ini yang seharusnya dilakukan juga oleh orang - orang yang tadi memungut tiket, harusnya mereka juga menyobek-nyobek sepotong kertas tiket yang sudah terjual itu seperti si bapak berbaju seragam, agar jelas tak bisa digunakan lagi dan tidak menimbulkan kesuudzanan (seperti saya heheh). Tapi ya gak buang sampah sembarang juga kali yaaaa...
However, masih ada anehnya sih, kenapa si bapak berseragam ijo abu (kalo gak salah) membiarkan oknum-oknum lain melakukan hal-hal yang seharusnya tak dilakukan? Writer yakin, dia gak mungkin gak tahu tentang masalah pemungutan tiket itu.
Kesimpulan:
Fasilitas umum saat ini apa harus dijadikan ajang bisnis?

Kembali writer mengatakan bahwa writer hanya ingin menyampaikan sebuah komentar yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan, "Ada apakah gerangan?"
Andai setiap urusan yang ada di Negara ini bisa lebih terbuka terhadap rakyatnya. Apa kemungkinan yang akan terjadi?

Sepertinya postingan kali ini dicukupkan sekian. Masih banyak urusan, hahah :p
Writer berharap, suatu saat nanti writer bisa memposting tulisan yang merupakan jawaban dari postingan kali ini.
Aamiin.

*sangat berharap postingan ini dapat sampai dengan selamat kepada para objek yang dituju dan bersangkutan dengan postingan di atas*

Tidak ada komentar:

@way2themes