Bukan Hanya Pemimpi, Tapi Pemimpin - Semburat Sastra

Jumat, 30 Mei 2014

Bukan Hanya Pemimpi, Tapi Pemimpin


Bukan Hanya Pemimpi, Tapi Pemimpin
Karya: Windi Ariesti A.

Suara dentuman keras menghentikan detak jantung
Bulatan tembaga meluncur kilat menuju sasaran
Ricuh memecah kesunyian
Sekeliling nampak hitam diselimuti asap
Penghuni hilir-mudik mencari perlindungan
Tak peduli kehilangan nyawa
Hanya berupaya untuk saling melindungi
Rasa aman terbesit di dada tak terhitung detik
Setiap detik menjadi perjuangan
Perjuangan hidup
Hidupkan diri
Hidupkan tanah yang ia pijak
Tapi itu dahulu
Zamannya para pejuang yang tak pernah mengatakan bahwa dirinya pahlawan
Masa demi masa
Selalu berevolusi
Mengemudikan bahtera untuk bermuara di tempat yang lebih baik
Harapan dan harapan
Hanya harapan
Lisan tak terealisasikan
Segerombolan peliharaannya ditebaskan keluar dari bahtera
Dibiarkan berakit-rakit
Entah kemudian berenang-renang atau malah tenggelam
Tertanam obsesi dalam asa
Tuk memposisikan diri menjadi yang paling berjasa
Bukan jadi nahkoda tapi sang penguasa
Memberi lembaran kertas guna diberi coblosan paku
Memberi  perhatian guna diberi pemilihan
Memberi surat cinta guna diberi dukungan
Pikirnya sedang menjalani hukum aksi-reaksi
Lantas hukum apa yang kau terapkan pada dirimu?
Hanya cakap angin
Mengaku diri sebagai negarawan
Masihkah memikirkan tebalnya lembaran bergambar pahlawan dalam sakumu?
Topeng yang bernyawa namun tak berjiwa untuk Negara
Lantas mau dibawa kemana?
Seperti menghanyutkan perahu kertas satin pada derasnya aliran sungai
Tenggelam bahkan hancur sebelum sampai ke pelabuhan
Berhenti bergurau karena ini bukan hanya mimpi
Mimpi hanya berangan namun perwujudan butuh perjuangan
Ia perlu perlindungan
Entah itu botol kaca atau plastik
Tampilan tak menjamin
Pentingnya ia punya isi harapan pasti
Banyak cakap juga banyak gerak
Hentakan kaki dan kepalan tangan semangat membara
Membawa angan berlayar bahkan sampai mengudara
Timbangan tak selalu seimbang
Walau hanya selisih satu mili
Nyaris menjadikan penghuni sebagai penonton
Disini pentingnya persatuan jiwa dan badan
Jiwa untuk bangkit bersama
Badan untuk merangkul dan melindungi sesama
Kita sama
Sama – sama dilahirkan di tanah air ibu pertiwi
Berdarah merah
Bertulang putih
Memegang teguh keberanian dan kesucian
Aku, kamu, dia, atau mereka
Sama – sama pemimpi
Tapi ibu pertiwi tidak hanya butuh pemimpi
Tapi juga Pemimpin
Cakap menggerakan ratusan juta jiwa dan badan
Membangkitkan pikiran - pikiran
Tuk membentuk bangunan kokoh sejati
Indonesia Raya pasti


Tidak ada komentar:

@way2themes