Bukan Hanya Pemimpi, Tapi Pemimpin
Karya: Windi Ariesti A.
Suara
dentuman keras menghentikan detak jantung
Bulatan
tembaga meluncur kilat menuju sasaran
Ricuh
memecah kesunyian
Sekeliling
nampak hitam diselimuti asap
Penghuni
hilir-mudik mencari perlindungan
Tak
peduli kehilangan nyawa
Hanya berupaya untuk saling melindungi
Rasa
aman terbesit di dada tak terhitung detik
Setiap
detik menjadi perjuangan
Perjuangan
hidup
Hidupkan
diri
Hidupkan
tanah yang ia pijak
Tapi itu dahulu
Zamannya
para pejuang yang tak pernah mengatakan bahwa dirinya pahlawan
Masa
demi masa
Selalu
berevolusi
Mengemudikan
bahtera untuk bermuara di tempat yang lebih baik
Harapan
dan harapan
Hanya
harapan
Lisan
tak terealisasikan
Segerombolan
peliharaannya ditebaskan keluar dari bahtera
Dibiarkan
berakit-rakit
Entah
kemudian berenang-renang atau malah tenggelam
Tertanam
obsesi dalam asa
Tuk
memposisikan diri menjadi yang paling berjasa
Bukan jadi nahkoda tapi sang
penguasa
Memberi
lembaran kertas guna diberi coblosan paku
Memberi perhatian guna diberi pemilihan
Memberi
surat cinta guna diberi dukungan
Pikirnya
sedang menjalani hukum aksi-reaksi
Lantas
hukum apa yang kau terapkan pada dirimu?
Hanya cakap angin
Mengaku
diri sebagai negarawan
Masihkah
memikirkan tebalnya lembaran bergambar pahlawan dalam sakumu?
Topeng yang bernyawa namun tak berjiwa untuk Negara
Lantas mau dibawa kemana?
Seperti menghanyutkan perahu kertas satin pada derasnya aliran sungai
Tenggelam bahkan hancur sebelum sampai ke pelabuhan
Berhenti bergurau karena ini bukan hanya mimpi
Mimpi hanya berangan namun perwujudan butuh perjuangan
Ia perlu perlindungan
Entah itu botol kaca atau plastik
Tampilan tak menjamin
Pentingnya ia punya isi harapan pasti
Banyak cakap juga banyak gerak
Hentakan kaki dan kepalan tangan semangat membara
Membawa angan berlayar bahkan sampai mengudara
Timbangan
tak selalu seimbang
Walau
hanya selisih satu mili
Nyaris menjadikan penghuni sebagai penonton
Disini pentingnya persatuan jiwa dan badan
Jiwa untuk bangkit bersama
Badan untuk merangkul dan melindungi sesama
Kita sama
Sama – sama dilahirkan di tanah air ibu pertiwi
Berdarah merah
Bertulang putih
Memegang teguh keberanian dan kesucian
Aku, kamu, dia, atau mereka
Sama – sama pemimpi
Tapi ibu pertiwi tidak hanya butuh pemimpi
Tapi juga Pemimpin
Cakap menggerakan ratusan juta jiwa dan badan
Membangkitkan pikiran - pikiran
Tuk membentuk bangunan kokoh sejati
Indonesia Raya pasti

Tidak ada komentar: