Ketika Kau Genggam Terlalu Erat - Semburat Sastra

Jumat, 30 Mei 2014

Ketika Kau Genggam Terlalu Erat

Terik matahari terasa begitu panas dari biasanya bak raja yang sedang didera demam tinggi. Sinarnya yang menerangi hiruk-pikuk kota ini nyaris membuat kulitku mengeluarkan asap. Keringat bercucuran membasahi kening dan pelipisku.
Dari pintu ke pintu, sudah hampir empat jam lamanya aku pergi kesana - kemari mencari instansi yang membutuhkanku. Aku masih terus berjalan menyusuri padatnya ibu kota sembari menenteng map yang berisi sertifikat - sertifikat berhargaku. Layaknya segerombolan semut, mobil - mobil itu berjajar begitu banyak menjulur ke belakang.
Tidak ada alasan kuat untuk aku bekerja selain agar bisa menghidupi adik - adikku. Hidup kami benar - benar berubah ketika abi dan umi tak lagi bersama kami. Mereka telah kembali ke tempat yang begitu suci.
Takdir mengharuskanku untuk menjadi seseorang yang lebih kuat. Peranku yang sebelumnya hanya sebagai seorang kakak tertua kini beralih menjadi orang-tua bagi adik - adikku. Aku begitu menyayangi mereka. Sempat aku berjualan kue keliling untuk mendapatkan beberapa lembar rupiah. Bukan aku tak mampu mencari pekerjaan lain, namun memang sulit adanya mencari pekerjaan di zaman sekarang. Jadi kupikir mengapa tidak aku salurkan hobiku menjadi suatu pekerjaan. Lagi pula aku tidak terlalu suka menjadi seorang wanita karir.
Namun, kini pikiranku berubah, aku harus bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik karena biaya yang harus kukeluarkan untuk kedua adikku pun semakin besar.
Adzan Dzuhur menggema dengan gagahnya tanda panggilan bagi setiap muslim untuk segera menghadapkan dirinya pada Sang Illahi dan sejenak menghentikan segala urusan dunianya. Segera aku beranjak menuju masjid terdekat.
Rakaat demi rakaat telah kulalui hingga duduk mengucap dua kali salam. Ku lanjutkan bermunajat kepada-Nya, tak terasa air mata membasahi pipi. Sejenak menghela nafas panjang aku kembali melanjutkan perjalananku. Perjalanan menggapai tujuan dengan ridha Illahi.
Betapa ironisnya hidup di zaman sekarang ini. Yang kaya semakin serakah dan yang miskin semakin merana. Tetapi manusia senantiasa dihadapkan oleh pilihan, berjuang atau terpuruk. Aku berusaha untuk senantiasa menjadi insan yang lebih baik lagi di setiap waktunya. Islam –agamaku– mengajarkanku untuk senantiasa berjuang dan pantang menyerah dalam segala hal kebaikan. Mungkin saat ini Sang Maha Penyayang sedang memberiku suatu ujian. Ujian tanda kasih sayang-Nya kepadaku.
***
Kakiku tepat mendarat di depan sebuah pintu HRD di salahsatu perusahaan yang cukup besar. Bacaan basmalah kulantunkan untuk mengawalinya. Kupanjatkan juga doa - doa penenang hati dan kelancaran ujian.
Dua minggu berlalu, akhirnya kudapati kabar baik yang telah lama kunanti. Alhamdulillah aku diterima sebagai salah satu staf di perusahaan itu. Kuhembuskan nafas lega nan gembira. Sama halnya denganku, kedua adikku pun merasakan kegembiraan yang teramat. Senyum di bibir pertanda kebahagiaan menaungi.
Bumi terus berotasi pada porosnya. Tak terasa hampir satu tahun lamanya aku mengabdi di perusahaan ini. Sebuah perusahaan industri makanan. Atasan dan pegawai lain juga sangat puas dengan kinerjaku selama ini. Aku berhasil membawa perubahan - perubahan yang lebih baik, katanya. Alhamdulillah ternyata dedikasiku tidak sia - sia.
Namun semakin hari aku merasakan pekerjaanku semakin banyak. Terkadang aku harus sampai lembur untuk menyelesaikannya.
Senja merah di ufuk barat, matahari mulai enggan memunculkan dirinya. Langit tampak jingga. Dengan langkah kaki yang terburu - buru aku berjalan menyusuri jalan kecil menuju rumahku ditemani dinginnya menjelang malam.
Sejenak langkahku terputus ketika aku berpapasan dengan seseorang yang menyapaku.
"Baru pulang?" tanya pria berkopiah dan memakai baju koko ini.
"Ya ... begitulah," jawabku sedikit malu.
"Sudah lama saya tidak pernah melihatmu ke masjid. Ya .. Untuk sekedar pengajian dan berkumpul dengan santri dan santriwati yang ada di pesantren."
"Oh iya.. kebetulan aku selalu dipenuhi dengan pekerjaan kantor setiap harinya. Bahkan tidak jarang aku lembur."
Sejenak ia terdiam mendengar jawabanku.
"Kamu banyak berubah ya.." ucapnya hati - hati.
"Ya sudah.. Saya duluan ya, sebentar lagi waktu magribh. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam," jawabku tanpa menghiraukan perkataannya tadi.
Kurebahkan tubuh yang lemas ini di atas tempat tidur empukku. Betapa lelahnya hari ini. Tetapi walaupun begitu aku tetap semangat menjalaninya. Aku harus bisa menjadi wanita karir yang sukses. Ini kulakukan untuk kehidupan masa depanku dan kedua adikku kelak.
Kucoba memejamkan mata. Tiba - tiba seketika aku teringat dengan perkataannya tadi. Yusuf, seorang pria yang memiliki nama seperti nabi yang dikenal dengan keshalehan dan ketampanannya. Adalah ia salah satu santri yang tak aneh lagi mendapat juara umum di pesantren saat angkatan kami dulu. Setelah lulus, banyak santri dan santriwati yang merantau kuliah ke universitas islam juga umum, termasuk aku dan Yusuf. Namun, jalan kami berbeda. Setelah meraih strata satu Yusuf kembali ke pesantren dan mengabdi menjadi pengurus sekaligus pengajar disana.
Apa benar pernyataan yang dikatakannya tadi? Apa yang berubah dari diriku?
***
Kembali aku berada dalam suasana penat dan hirupan udara yang tak bersih lagi. Tak dipungkiri lagi –ibu kota– memang banyak mengalami perubahan dari masa ke masa. Ratusan gedung menjulang tinggi ke langit, ribuan kilometer jalan raya melayang di udara, ratusan ribu kendaraan hilir-mudik menambah polusi setiap harinya, seolah mereka berada dalam kemewahan semata. Gaya hidup sederhana telah hilang menjadi lebih glamor. Di samping itu, jutaan jiwa masih berada dalam keterpurukan, mencari seribu satu cara untuk mendapatkan rupiah. Halal atau haram bukan lagi pertimbangan, yang terpenting hanyalah pendamping hidup dan sang buah hatinya dapat makan. Entah mereka masih mengenal agama dan Tuhan-nya atau tidak.
Krisis moral semakin melanda umat manusia. Materi telah menjadi sesuatu yang penting dalam hidup, aku pun menyadari itu.
***
"Zahwa, tolong cepat uruskan proposal mengenai penggusuran tanah yang akan dipakai untuk pembangunan pabrik baru kita!" ucap pria gagah setengah sipit ini. Ia Pak Rama, atasanku.
Sebenarnya beberapa hari ini aku begitu gundah-gulana. Aku bingung bagaimana hal terbaik yang harus kulakukan untuk menghadapi ini. Perusahaan yang menampungku ini akan melakukan cara apapun untuk mendapatkan aset tanah Kampung Damai, itu daerah dimana aku tinggal selama hampir 22 tahun. Sebenarnya kampung yang cukup luas nan asri ini bukan pertama kalinya diminati oleh perusahaan - perusahaan besar untuk dijadikan lahan industri.
Sungai mengalir jernih, udara segar nan bersih, bangunan kokoh rumah Allah, bangungan tempat diajarkannya kebaikan ilmu juga agama, tanaman hijau terbentang luas, rumah - rumah mungil yang nyaman, semuanya akan hilang jikalau sertifikat berharga berpindah-tangan.
Atasanku tahu bahwa aku tinggal disana, maka aku turut diberi peran yang penting dalam hal itu.
***
Suara lirih dan getar handphone-ku memutus langkah pulangku sejenak. Kulihat di layarnya tertera sebuah nama yang sangat kukenal, Annisa.
"Kak, aku sedang di Rumah Sakit yang waktu itu Kak. Cepat kesini!" ucapnya penuh kepanikan.
"Rumah Sakit? Siapa yang sakit Nisa?"
"Kak Azam Kak, nanti kuceritakan jelasnya."
Segera kukejar Annisa dan Azam, kedua adikku yang pasti sedang membutuhkanku. Aku merasakan betapa lambannya taksi yang sedang kutumpangi. Waktu seakan sedang memburuku.
Aku berlari kecil menuju koridor Rumah Sakit. Guyuran tangisan langit amat lebat diiringi gemuruh yang sesekali menghentikan detak jantungku. Langkahku tepat terhenti dan menjejakkan kaki di depan sebuah pintu rawat inap nomor 010. Kudapati adikku –Azam– sedang terkulai lemah di atas kasur putih dengan selang oksigen melekat di indera penciumannya.
Tanpa diminta –Annisa– langsung menceritakan apa sebenarnya yang terjadi pada Azam.
"Kak Azam mencoba balapan liar, tetapi ternyata temannya yang menjadi lawannya itu berbuat curang, sebelumnya ia telah merusaki mesin dan rem motor yang Kak Azam tumpangi tanpa sepengetahuan orang lain. Dan akhirnya Kak Azam kecelakaan. Begitu yang diceritakan temannya padaku tadi Kak," jelas Annisa.
"Astagfirullah..." Seketika hatiku bergetar mendengarnya.
Hari berganti. Kaca - kaca jendela membiaskan sinarnya seolah mempersilahkan sang matahari untuk masuk menerangi juga menghangatkan seisi ruangan. Kulihat Azam yang telah merasa baikan. Walau aku tak kuasa menanyakan hal ini, namun rasanya lebih tak kuasa lagi jika aku menahannya dalam hati.
"Sejak kapan kamu berani ikut bermain hal yang tak ada gunanya?" tanyaku tegas.
"Aku hanya mencoba sekali Kak. Sungguh... Itu pun terpaksa, karena aku tak mungkin mengalah terus pada temanku itu. Ia dan teman-temannya sering mem-bully-ku. Seolah mereka iri terhadap setiap apa yang aku alami dan miliki. Kesabaran aku habis Kak," jelasnya mencoba meyakinkan.
"Bukan sabar namanya jikalau masih ada batasnya. Kamu salah! Bukan begitu caranya untuk menghadapi orang yang seperti itu! Apakah pernah kakak mengajarimu untuk berlaku sok jagoan? Menyelesaikan sesuatu dengan otot? Kamu sudah mahasiswa harusnya bisa berfikir lebih dewasa!"
Sejenak ia terdiam dan menatapku dalam. Matanya mulai berkaca - kaca.
"Kakak memang tidak pernah mengajariku seperti itu. Tapi bahkan.. Kakak juga tidak pernah mengajari apa - apa kepadaku.. sejak Kakak sibuk dengan urusan Kakak sendiri! Bagaimana bisa aku menceritakan semua masalahku dan meminta solusinya kepada Kakak jika Kakak sendiri tidak pernah meluangkan waktunya untukku dan Nisa? Kakak yang sekarang bukan yang kukenal seperti dulu!"
Seketika lidahku kelu membisu. Hingga bulir-bulir air mata pun mengalir tak terbendung. Suasana bergeming.

Ya Allah.. Aku benar menyadari bahwa diriku telah berubah. Apa iya aku telah terjebak dalam fananya dunia ini? Teganya aku menelantarkan sesuatu yang lebih berharga di atas kesibukkanku. Aku juga rela meninggalkan semua kebiasaan baikku di rumah-Mu demi karirku. Sebenarnya aku kerja banting tulang seperti ini karena apa? Karena mereka alasanku untuk berjuang. Tapi mengapa akhirnya seperti ini? Aku terlalu buta... Sampai akhirnya keistiqamahanku tergoyahkan.
***
Aku belum bisa memutuskan untuk berhenti bekerja selama aku masih ada dalam masa kontrak. Lagi pula aku belum terpikir untuk memulai pekerjaan yang baru.
Tak sengaja kudengar percakapan Pak Rama bersama seseorang di telepon, sepertinya ia rekan kerjanya. Tersentak aku kaget ketika Pak Rama mengatakan bahwa ia akan mengimpor mesin - mesin canggih untuk dipakai di pabriknya dalam jumlah yang cukup banyak. Padahal yang kuketahui selama ini, perusahaan kami tidak terlalu banyak menggunakan mesin karena lebih memprioritaskan tenaga kerja manusia. Aku tak mengerti. Bagaimana nasib para pekerja itu nanti jika semua pekerjaan mereka diambil-alih oleh mesin?
"Saya akan segera mem-PHK mereka," ucapnya tegas dengan wajah tanpa dosa.
"Apa tidak sebaiknya dipikirkan lagi dengan baik, Pak?" tanya Pak Nuh, seorang wakil direktur yang cukup muda.
"Tidak. Keputusan saya sudah bulat. Lagi pula kualitas kerja mereka itu makin lama makin menurun. Hanya bisa merugikan perusahaan nantinya!"
"Tapi Pak.. Menurut saya..."
"Apa lagi sih? Kamu pikir saja, ini zaman modern, sudah saatnya kita menggunakan alat - alat yang modern pula, canggih! Sekarang coba kamu sebutkan apa keuntungan kita memakai tenaga kerja seperti mereka?" tanyanya yang sedikit angkuh.
Sejenak ia terdiam dan sedikit menghela nafas panjang.
"Mesin - mesin itu mungkin memang canggih, bisa bekerja lebih rapi dan instan. Tapi mereka hanya benda mati yang tak punya indera perasa. Berbeda dengan mereka para pekerja yang selama ini selalu bekerja disertai doa. Doa untuk kesuksesan produk kita, kelancaran dalam pembuatannya, keselamatan para pegawai, juga doa - doa kebaikan lainnya. Kalau Bapak tahu, kekuatan doa itu lebih canggih dari kecanggihan apapun!"
Kata demi kata yang terlontarkan dari bibirnya sungguh menggetarkan hati nan membangkitkan jiwa yang mati. Aku benar - benar sependapat dengan ucapan Pak Nuh. Ternyata di samping orang - orang yang telah lupa, masih terdapat seseorang yang senantiasa ingat pada-Nya. Perasaanku agak sedikit tenang ketika mengetahui bahwa Pak Nuh berada di posisi kontra. Aku yakin, beliau pasti tak akan membiarkan para manusia pencari nafkah itu digantikan oleh mesin - mesin impor.
***
Sebelum fajar menyingsing aku telah bergegas membersihkan rumah beserta isinya. Lama aku tak melakukan hal ini sejak disibukkan oleh tugas - tugas kantorku. Namun pekan ini aku sengaja luangkan waktu untuk kedua adikku. Meski hanya sekedar untuk bersenda-gurau dan bertukar cerita. Azam juga telah kembali ke rumah dengan kondisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Sudah tidak ada perang dingin diantara kami. Agamaku mengajarkan kepada umatnya untuk saling memaafkan.
Canda tawa memecah kesunyian. Namun tiba - tiba terdengar suara ricuh orang - orang yang sepertinya berasal dari luar halaman rumah.
"Nak Zahwa, kok bisa - bisanya sih mau mengambil tanah kami? Bahkan masjid serta pesantren!" ucap salah satu warga dengan antusiasnya.
"Maaf Pak, maksud Bapak apa ya?" tatapku heran.
"Jangan pura - pura tidak tahu Nak Zahwa. Pokoknya kami sangat kecewa!"
"Loh? Saya bukan pura - pura tetapi saya memang benar - benar tidak tahu. Memang iya saya bekerja di perusahaan yang menginginkan tanah kalian saat ini, tetapi saya tidak pernah sedikit pun mendukung rencana mereka," ucapku mencoba menjelaskan. Berharap penjelasanku dapat diterima oleh mereka.
"Sudah, sudah! Para warga sekalian bagaimana kalau kita membicarakannya di tempat dan waktu yang lebih terkondisikan? Tidak baik jika berlaku seperti ini. Lebih baik kita ke Pak RT saja," lerai salah seorang warga yang suaranya tak asing lagi bagi indera pendengaranku, Yusuf.
Aku begitu heran dengan sikap warga terhadapku. Mengapa tiba – tiba seperti ini? Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba – tiba badai menerpa membawa batu - batu.
***
Sebagaimanapun ia disembunyikan, kebenaran pasti akan terungkap. Aku hanya berusaha untuk selalu bersikap jujur dan enggan berprasangka atau menduga - duga tanpa bukti nyata. Burung pun memberi kabar bahwa perkataan tak sejalan dengan kenyataan. Benar adanya bahwa ada orang lain di balik ini semua, bukan aku pelakunya. Ternyata Pak RT sendiri yang telah berniat untuk memperjualbelikan sertifikat - sertifikat tanah milik warga, termasuk sertifikat pesantren milik abi dan tanah wakaf yang kini telah dibangun masjid. Ia berada dalam pengaruh seorang petinggi di perusahaanku, Pak Rama.
Tuduhan warga kepadaku bukanlah hanya ketidaksengajaan semata melainkan ada orang yang sengaja memitnahku. Aliran darahku seketika terhenti setelah mengetahui bahwa ternyata Pak Rama adalah teman abi semasa dulu. Ia senantiasa berusaha untuk menghancurkan abi karena iri terhadap setiap apa yang abi miliki termasuk kebahagiaannya, katanya. Mungkin itu satu alasan mengapa ia melakukan hal ini kepadaku. Pak Nuh, mungkin sengaja Allah mengirimkannya untukku, beliau seolah menjadi pahlawan dalam hal ini. Serupa dengan Nabi Nuh yang dengan izin Allah dapat menyelamatkan umatnya ke atas kapal yang terbuat dari papan dan pasak saat bumi menyemburkan mata air yang meluap menimbulkan bencana.
Kukira tidak ada udang di balik batu. Namun nyatanya bukan hanya ada, tetapi ia telah bersarang. Kemana wibawa para pemimpin itu? Dihanyutkan kemana ikrar - ikrar yang telah mereka lantunkan sewaktu diangkat dulu? Seharusnya pemimpin adalah orang yang sanggup berkhidmat, melayani apa – apa yang diperlukan oleh orang – orang yang dipimpinnya. Bukan hanya mau melakukan sesuatu demi sesuatu yang menguntungkan dirinya sendiri. Mereka telah men-Tuhankan benda yang dianggap dapat merubah segalanya. Secarik kertas alat tukar-menukar itu rupanya sedang tertawa melihat kelakuan para pemakainya.
***
            Seminggu berlalu, kantor tempatku bekerja mendadak lengang. Kami masih dalam keadaan duka, bukan atas meninggalnya seseorang melainkan atas dijebloskannya ke jeruji besi seseorang yang kami anggap pemimpin selama ini. Pak Rama terbukti sebagai seorang koruptor. Sebegitu serakahnya beliau sampai melupakan segalanya. Padahal yang kulihat selama ini, ia adalah seorang yang cerdas juga pantang menyerah. Namun ternyata memang benar adanya bahwa kayanya ilmu harus senantiasa diiringi dengan kuatnya iman. Karena ilmu tanpa iman itu akan lumpuh dan sia - sia.
“Aku menyesal.. Aku menyesal karena telah enggan mengenal Tuhanku!” pekiknya untuk terakhir kali sebelum memasuki jeruji besi. Kini ia bagaikan pohon kurma yang tumbang beserta akar – akarnya atas ulahnya sendiri.
***
Aku telah melakukan kesalahan yang berbuah kesadaran. Dulu aku terlalu buru - buru, terlalu cepat memutuskan. Hingga akhirnya aku terjatuh pada tempat yang tidak seharusnya. Mungkin sempat aku lupa bahwa di atas langit masih ada langit yang abadi.
Ampuni aku Ya Rabb.. Kini aku sadar bahwa hal yang duniawi mungkin bisa dengan mudah didapatkan, tetapi keridhaan-Mu itu yang sulit untuk didapatkan.
Tetapi aku yakin, ini bukanlah hal yang harus aku berlarut – larut untuk menyesalinya. Aku hanya perlu mengambil hikmah dan pelajaran dari ini semua. Juga berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama, melakukan hal seceroboh itu tanpa berpegang teguh pada agama. Insyaallah aku sebagai hamba-Mu akan senantiasa mengikuti segala perintah-Mu yang jelas nyata tertuang dalam Al Quran dan Al Hadis.
***
            Suara adzan yang lepas nan merdu, mengalun syahdu, mengundang keheningan dan kekhusyukan siapa pun yang mendengar. Aku dan kedua adikku melaksanakan tiga rakaat ini berjamaah di Masjid At-Taqwa.
            Sudah lebih dari tiga minggu aku melakukan kegiatan rutinku di Pesantren Darul Hikmah, pesantren peninggalan abi. Aku menjadi salah satu pengajar sekaligus pengurus disini. Aku rasa ini tempat terbaik yang harus aku singgahi. Melakukan pekerjaan sembari menggapai ridha Illahi.
            “Allah senantiasa membukakan pintu tobat untuk umat-Nya yang bersungguh hati. Asalkan selama ajal belum menjemput dan roh belum sampai hulqum (tenggorokan). Dan janganlah kita menunda tobat, karena taswif adalah tanda orang yang tidak beruntung,” kutipan dakwah seorang ustadz yang sangat kukenali, Yusuf.
***
Kelak aku ingin berada di taman – taman dan sungai – sungai yang amat indah, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa.. bersama orang – orang yang aku sayangi dan cintai.
Selalu teringat kata - kata abi yang sering diucapkannya padaku “Genggamlah dunia di tanganmu, tetapi jangan kau genggam terlalu erat. Dan.. letakkanlah akhirat lekat di hatimu. Teguhkan keimananmu.”
“Serupa menggenggam pisau, –andaipun ia tumpul– jika kaugenggam dengan sangat erat, ia tetap akan menjadi malapetaka bagimu. Begitu juga dunia.”

Tidak ada komentar:

@way2themes