Terik
matahari terasa begitu panas dari biasanya bak raja yang sedang didera demam
tinggi. Sinarnya yang menerangi hiruk-pikuk kota ini nyaris membuat kulitku
mengeluarkan asap. Keringat bercucuran membasahi kening dan pelipisku.
Dari
pintu ke pintu, sudah hampir empat jam lamanya aku pergi kesana - kemari
mencari instansi yang membutuhkanku. Aku masih terus berjalan menyusuri
padatnya ibu kota sembari menenteng map yang berisi sertifikat - sertifikat
berhargaku. Layaknya segerombolan semut, mobil - mobil itu berjajar begitu
banyak menjulur ke belakang.
Tidak
ada alasan kuat untuk aku bekerja selain agar bisa menghidupi adik - adikku.
Hidup kami benar - benar berubah ketika abi
dan umi tak lagi bersama kami. Mereka
telah kembali ke tempat yang begitu suci.
Takdir
mengharuskanku untuk menjadi seseorang yang lebih kuat. Peranku yang sebelumnya
hanya sebagai seorang kakak tertua kini beralih menjadi orang-tua bagi adik -
adikku. Aku begitu menyayangi mereka. Sempat aku berjualan kue keliling untuk
mendapatkan beberapa lembar rupiah. Bukan aku tak mampu mencari pekerjaan lain,
namun memang sulit adanya mencari pekerjaan di zaman sekarang. Jadi kupikir
mengapa tidak aku salurkan hobiku menjadi suatu pekerjaan. Lagi pula aku tidak
terlalu suka menjadi seorang wanita karir.
Namun,
kini pikiranku berubah, aku harus bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik karena
biaya yang harus kukeluarkan untuk kedua adikku pun semakin besar.
Adzan
Dzuhur menggema dengan gagahnya tanda panggilan bagi setiap muslim untuk segera
menghadapkan dirinya pada Sang Illahi dan sejenak menghentikan segala urusan
dunianya. Segera aku beranjak menuju masjid terdekat.
Rakaat
demi rakaat telah kulalui hingga duduk mengucap dua kali salam. Ku lanjutkan bermunajat
kepada-Nya, tak terasa air mata membasahi pipi. Sejenak menghela nafas panjang
aku kembali melanjutkan perjalananku. Perjalanan menggapai tujuan dengan ridha Illahi.
Betapa
ironisnya hidup di zaman sekarang ini. Yang kaya semakin serakah dan yang
miskin semakin merana. Tetapi manusia senantiasa dihadapkan oleh pilihan,
berjuang atau terpuruk. Aku berusaha untuk senantiasa menjadi insan yang lebih
baik lagi di setiap waktunya. Islam –agamaku– mengajarkanku untuk senantiasa
berjuang dan pantang menyerah dalam segala hal kebaikan. Mungkin saat ini Sang
Maha Penyayang sedang memberiku suatu ujian. Ujian tanda kasih sayang-Nya
kepadaku.
***
Kakiku
tepat mendarat di depan sebuah pintu HRD di salahsatu perusahaan yang cukup
besar. Bacaan basmalah kulantunkan untuk mengawalinya. Kupanjatkan juga doa -
doa penenang hati dan kelancaran ujian.
Dua
minggu berlalu, akhirnya kudapati kabar baik yang telah lama kunanti. Alhamdulillah aku diterima sebagai salah
satu staf di perusahaan itu. Kuhembuskan nafas lega nan gembira. Sama halnya
denganku, kedua adikku pun merasakan kegembiraan yang teramat. Senyum di bibir
pertanda kebahagiaan menaungi.
Bumi
terus berotasi pada porosnya. Tak terasa hampir satu tahun lamanya aku mengabdi
di perusahaan ini. Sebuah perusahaan industri makanan. Atasan dan pegawai lain
juga sangat puas dengan kinerjaku selama ini. Aku berhasil membawa perubahan -
perubahan yang lebih baik, katanya. Alhamdulillah
ternyata dedikasiku tidak sia - sia.
Namun
semakin hari aku merasakan pekerjaanku semakin banyak. Terkadang aku harus
sampai lembur untuk menyelesaikannya.
Senja
merah di ufuk barat, matahari mulai enggan memunculkan dirinya. Langit tampak
jingga. Dengan langkah kaki yang terburu - buru aku berjalan menyusuri jalan
kecil menuju rumahku ditemani dinginnya menjelang malam.
Sejenak
langkahku terputus ketika aku berpapasan dengan seseorang yang menyapaku.
"Baru
pulang?" tanya pria berkopiah dan memakai baju koko ini.
"Ya
... begitulah," jawabku sedikit malu.
"Sudah
lama saya tidak pernah melihatmu ke masjid. Ya .. Untuk sekedar pengajian dan
berkumpul dengan santri dan santriwati yang ada di pesantren."
"Oh
iya.. kebetulan aku selalu dipenuhi dengan pekerjaan kantor setiap harinya.
Bahkan tidak jarang aku lembur."
Sejenak
ia terdiam mendengar jawabanku.
"Kamu
banyak berubah ya.." ucapnya hati - hati.
"Ya
sudah.. Saya duluan ya, sebentar lagi waktu magribh. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam," jawabku tanpa
menghiraukan perkataannya tadi.
Kurebahkan
tubuh yang lemas ini di atas tempat tidur empukku. Betapa lelahnya hari ini.
Tetapi walaupun begitu aku tetap semangat menjalaninya. Aku harus bisa menjadi
wanita karir yang sukses. Ini kulakukan untuk kehidupan masa depanku dan kedua
adikku kelak.
Kucoba
memejamkan mata. Tiba - tiba seketika aku teringat dengan perkataannya tadi.
Yusuf, seorang pria yang memiliki nama seperti nabi yang dikenal dengan
keshalehan dan ketampanannya. Adalah ia salah satu santri yang tak aneh lagi
mendapat juara umum di pesantren saat angkatan kami dulu. Setelah lulus, banyak
santri dan santriwati yang merantau kuliah ke universitas islam juga umum,
termasuk aku dan Yusuf. Namun, jalan kami berbeda. Setelah meraih strata satu
Yusuf kembali ke pesantren dan mengabdi menjadi pengurus sekaligus pengajar
disana.
Apa
benar pernyataan yang dikatakannya tadi? Apa yang berubah dari diriku?
***
Kembali
aku berada dalam suasana penat dan hirupan udara yang tak bersih lagi. Tak
dipungkiri lagi –ibu kota– memang banyak mengalami perubahan dari masa ke masa.
Ratusan gedung menjulang tinggi ke langit, ribuan kilometer jalan raya melayang
di udara, ratusan ribu kendaraan hilir-mudik menambah polusi setiap harinya,
seolah mereka berada dalam kemewahan semata. Gaya hidup sederhana telah hilang
menjadi lebih glamor. Di samping itu, jutaan jiwa masih berada dalam
keterpurukan, mencari seribu satu cara untuk mendapatkan rupiah. Halal atau haram
bukan lagi pertimbangan, yang terpenting hanyalah pendamping hidup dan sang buah
hatinya dapat makan. Entah mereka masih mengenal agama dan Tuhan-nya atau
tidak.
Krisis
moral semakin melanda umat manusia. Materi telah menjadi sesuatu yang penting
dalam hidup, aku pun menyadari itu.
***
"Zahwa,
tolong cepat uruskan proposal mengenai penggusuran tanah yang akan dipakai
untuk pembangunan pabrik baru kita!" ucap pria gagah setengah sipit ini.
Ia Pak Rama, atasanku.
Sebenarnya
beberapa hari ini aku begitu gundah-gulana. Aku bingung bagaimana hal terbaik
yang harus kulakukan untuk menghadapi ini. Perusahaan yang menampungku ini akan
melakukan cara apapun untuk mendapatkan aset tanah Kampung Damai, itu daerah
dimana aku tinggal selama hampir 22 tahun. Sebenarnya kampung yang cukup luas
nan asri ini bukan pertama kalinya diminati oleh perusahaan - perusahaan besar
untuk dijadikan lahan industri.
Sungai
mengalir jernih, udara segar nan bersih, bangunan kokoh rumah Allah, bangungan
tempat diajarkannya kebaikan ilmu juga agama, tanaman hijau terbentang luas,
rumah - rumah mungil yang nyaman, semuanya akan hilang jikalau sertifikat
berharga berpindah-tangan.
Atasanku
tahu bahwa aku tinggal disana, maka aku turut diberi peran yang penting dalam
hal itu.
***
Suara
lirih dan getar handphone-ku memutus
langkah pulangku sejenak. Kulihat di layarnya tertera sebuah nama yang sangat
kukenal, Annisa.
"Kak,
aku sedang di Rumah Sakit yang waktu itu Kak. Cepat kesini!" ucapnya penuh
kepanikan.
"Rumah
Sakit? Siapa yang sakit Nisa?"
"Kak
Azam Kak, nanti kuceritakan jelasnya."
Segera
kukejar Annisa dan Azam, kedua adikku yang pasti sedang membutuhkanku. Aku merasakan
betapa lambannya taksi yang sedang kutumpangi. Waktu seakan sedang memburuku.
Aku
berlari kecil menuju koridor Rumah Sakit. Guyuran tangisan langit amat lebat
diiringi gemuruh yang sesekali menghentikan detak jantungku. Langkahku tepat
terhenti dan menjejakkan kaki di depan sebuah pintu rawat inap nomor 010.
Kudapati adikku –Azam– sedang terkulai lemah di atas kasur putih dengan selang
oksigen melekat di indera penciumannya.
Tanpa
diminta –Annisa– langsung menceritakan apa sebenarnya yang terjadi pada Azam.
"Kak
Azam mencoba balapan liar, tetapi ternyata temannya yang menjadi lawannya itu
berbuat curang, sebelumnya ia telah merusaki mesin dan rem motor yang Kak Azam
tumpangi tanpa sepengetahuan orang lain. Dan akhirnya Kak Azam kecelakaan.
Begitu yang diceritakan temannya padaku tadi Kak," jelas Annisa.
"Astagfirullah..." Seketika hatiku
bergetar mendengarnya.
Hari
berganti. Kaca - kaca jendela membiaskan sinarnya seolah mempersilahkan sang
matahari untuk masuk menerangi juga menghangatkan seisi ruangan. Kulihat Azam
yang telah merasa baikan. Walau aku tak kuasa menanyakan hal ini, namun rasanya
lebih tak kuasa lagi jika aku menahannya dalam hati.
"Sejak
kapan kamu berani ikut bermain hal yang tak ada gunanya?" tanyaku tegas.
"Aku
hanya mencoba sekali Kak. Sungguh... Itu pun terpaksa, karena aku tak mungkin
mengalah terus pada temanku itu. Ia dan teman-temannya sering mem-bully-ku. Seolah mereka iri terhadap
setiap apa yang aku alami dan miliki. Kesabaran aku habis Kak," jelasnya
mencoba meyakinkan.
"Bukan
sabar namanya jikalau masih ada batasnya. Kamu salah! Bukan begitu caranya
untuk menghadapi orang yang seperti itu! Apakah pernah kakak mengajarimu untuk
berlaku sok jagoan? Menyelesaikan
sesuatu dengan otot? Kamu sudah mahasiswa harusnya bisa berfikir lebih dewasa!"
Sejenak
ia terdiam dan menatapku dalam. Matanya mulai berkaca - kaca.
"Kakak
memang tidak pernah mengajariku seperti itu. Tapi bahkan.. Kakak juga tidak
pernah mengajari apa - apa kepadaku.. sejak Kakak sibuk dengan urusan Kakak
sendiri! Bagaimana bisa aku menceritakan semua masalahku dan meminta solusinya
kepada Kakak jika Kakak sendiri tidak pernah meluangkan waktunya untukku dan
Nisa? Kakak yang sekarang bukan yang kukenal seperti dulu!"
Seketika
lidahku kelu membisu. Hingga bulir-bulir air mata pun mengalir tak terbendung.
Suasana bergeming.
Ya
Allah.. Aku benar menyadari bahwa diriku telah berubah. Apa iya aku telah
terjebak dalam fananya dunia ini? Teganya aku menelantarkan sesuatu yang lebih
berharga di atas kesibukkanku. Aku juga rela meninggalkan semua kebiasaan
baikku di rumah-Mu demi karirku. Sebenarnya aku kerja banting tulang seperti
ini karena apa? Karena mereka alasanku untuk berjuang. Tapi mengapa akhirnya
seperti ini? Aku terlalu buta... Sampai akhirnya keistiqamahanku tergoyahkan.
***
Aku
belum bisa memutuskan untuk berhenti bekerja selama aku masih ada dalam masa
kontrak. Lagi pula aku belum terpikir untuk memulai pekerjaan yang baru.
Tak
sengaja kudengar percakapan Pak Rama bersama seseorang di telepon, sepertinya
ia rekan kerjanya. Tersentak aku kaget ketika Pak Rama mengatakan bahwa ia akan
mengimpor mesin - mesin canggih untuk dipakai di pabriknya dalam jumlah yang
cukup banyak. Padahal yang kuketahui selama ini, perusahaan kami tidak terlalu
banyak menggunakan mesin karena lebih memprioritaskan tenaga kerja manusia. Aku
tak mengerti. Bagaimana nasib para pekerja itu nanti jika semua pekerjaan
mereka diambil-alih oleh mesin?
"Saya
akan segera mem-PHK mereka," ucapnya tegas dengan wajah tanpa dosa.
"Apa
tidak sebaiknya dipikirkan lagi dengan baik, Pak?" tanya Pak Nuh, seorang
wakil direktur yang cukup muda.
"Tidak.
Keputusan saya sudah bulat. Lagi pula kualitas kerja mereka itu makin lama
makin menurun. Hanya bisa merugikan perusahaan nantinya!"
"Tapi
Pak.. Menurut saya..."
"Apa
lagi sih? Kamu pikir saja, ini zaman
modern, sudah saatnya kita menggunakan alat - alat yang modern pula, canggih!
Sekarang coba kamu sebutkan apa keuntungan kita memakai tenaga kerja seperti
mereka?" tanyanya yang sedikit angkuh.
Sejenak
ia terdiam dan sedikit menghela nafas panjang.
"Mesin
- mesin itu mungkin memang canggih, bisa bekerja lebih rapi dan instan. Tapi
mereka hanya benda mati yang tak punya indera perasa. Berbeda dengan mereka
para pekerja yang selama ini selalu bekerja disertai doa. Doa untuk kesuksesan
produk kita, kelancaran dalam pembuatannya, keselamatan para pegawai, juga doa
- doa kebaikan lainnya. Kalau Bapak tahu, kekuatan doa itu lebih canggih dari
kecanggihan apapun!"
Kata
demi kata yang terlontarkan dari bibirnya sungguh menggetarkan hati nan
membangkitkan jiwa yang mati. Aku benar - benar sependapat dengan ucapan Pak
Nuh. Ternyata di samping orang - orang yang telah lupa, masih terdapat
seseorang yang senantiasa ingat pada-Nya. Perasaanku agak sedikit tenang ketika
mengetahui bahwa Pak Nuh berada di posisi kontra. Aku yakin, beliau pasti tak
akan membiarkan para manusia pencari nafkah itu digantikan oleh mesin - mesin
impor.
***
Sebelum
fajar menyingsing aku telah bergegas membersihkan rumah beserta isinya. Lama aku
tak melakukan hal ini sejak disibukkan oleh tugas - tugas kantorku. Namun pekan
ini aku sengaja luangkan waktu untuk kedua adikku. Meski hanya sekedar untuk
bersenda-gurau dan bertukar cerita. Azam juga telah kembali ke rumah dengan
kondisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Sudah tidak ada perang dingin
diantara kami. Agamaku mengajarkan kepada umatnya untuk saling memaafkan.
Canda
tawa memecah kesunyian. Namun tiba - tiba terdengar suara ricuh orang - orang
yang sepertinya berasal dari luar halaman rumah.
"Nak
Zahwa, kok bisa - bisanya sih mau
mengambil tanah kami? Bahkan masjid serta pesantren!" ucap salah satu
warga dengan antusiasnya.
"Maaf
Pak, maksud Bapak apa ya?" tatapku heran.
"Jangan
pura - pura tidak tahu Nak Zahwa. Pokoknya kami sangat kecewa!"
"Loh?
Saya bukan pura - pura tetapi saya memang benar - benar tidak tahu. Memang iya
saya bekerja di perusahaan yang menginginkan tanah kalian saat ini, tetapi saya
tidak pernah sedikit pun mendukung rencana mereka," ucapku mencoba
menjelaskan. Berharap penjelasanku dapat diterima oleh mereka.
"Sudah,
sudah! Para warga sekalian bagaimana kalau kita membicarakannya di tempat dan
waktu yang lebih terkondisikan? Tidak baik jika berlaku seperti ini. Lebih baik
kita ke Pak RT saja," lerai salah seorang warga yang suaranya tak asing
lagi bagi indera pendengaranku, Yusuf.
Aku
begitu heran dengan sikap warga terhadapku. Mengapa tiba – tiba seperti ini? Tidak
ada angin, tidak ada hujan tiba – tiba badai menerpa membawa batu - batu.
***
Sebagaimanapun
ia disembunyikan, kebenaran pasti akan terungkap. Aku hanya berusaha untuk
selalu bersikap jujur dan enggan berprasangka atau menduga - duga tanpa bukti
nyata. Burung pun memberi kabar bahwa perkataan tak sejalan dengan kenyataan.
Benar adanya bahwa ada orang lain di balik ini semua, bukan aku pelakunya.
Ternyata Pak RT sendiri yang telah berniat untuk memperjualbelikan sertifikat -
sertifikat tanah milik warga, termasuk sertifikat pesantren milik abi dan tanah
wakaf yang kini telah dibangun masjid. Ia berada dalam pengaruh seorang
petinggi di perusahaanku, Pak Rama.
Tuduhan
warga kepadaku bukanlah hanya ketidaksengajaan semata melainkan ada orang yang
sengaja memitnahku. Aliran darahku seketika terhenti setelah mengetahui bahwa ternyata
Pak Rama adalah teman abi semasa dulu. Ia senantiasa berusaha untuk
menghancurkan abi karena iri terhadap setiap apa yang abi miliki termasuk
kebahagiaannya, katanya. Mungkin itu satu alasan mengapa ia melakukan hal ini
kepadaku. Pak Nuh, mungkin sengaja Allah mengirimkannya untukku, beliau seolah
menjadi pahlawan dalam hal ini. Serupa dengan Nabi Nuh yang dengan izin Allah
dapat menyelamatkan umatnya ke atas kapal yang terbuat dari papan dan pasak saat
bumi menyemburkan mata air yang meluap menimbulkan bencana.
Kukira
tidak ada udang di balik batu. Namun nyatanya bukan hanya ada, tetapi ia telah
bersarang. Kemana wibawa para pemimpin itu? Dihanyutkan kemana ikrar - ikrar
yang telah mereka lantunkan sewaktu diangkat dulu? Seharusnya pemimpin adalah
orang yang sanggup berkhidmat, melayani apa – apa yang diperlukan oleh orang –
orang yang dipimpinnya. Bukan hanya mau melakukan sesuatu demi sesuatu yang
menguntungkan dirinya sendiri. Mereka telah men-Tuhankan benda yang dianggap
dapat merubah segalanya. Secarik kertas alat tukar-menukar itu rupanya sedang
tertawa melihat kelakuan para pemakainya.
***
Seminggu berlalu, kantor tempatku
bekerja mendadak lengang. Kami masih dalam keadaan duka, bukan atas
meninggalnya seseorang melainkan atas dijebloskannya ke jeruji besi seseorang
yang kami anggap pemimpin selama ini. Pak Rama terbukti sebagai seorang
koruptor. Sebegitu serakahnya beliau sampai melupakan segalanya. Padahal yang
kulihat selama ini, ia adalah seorang yang cerdas juga pantang menyerah. Namun
ternyata memang benar adanya bahwa kayanya ilmu harus senantiasa diiringi
dengan kuatnya iman. Karena ilmu tanpa iman itu akan lumpuh dan sia - sia.
“Aku
menyesal.. Aku menyesal karena telah enggan mengenal Tuhanku!” pekiknya untuk
terakhir kali sebelum memasuki jeruji besi. Kini ia bagaikan pohon kurma yang
tumbang beserta akar – akarnya atas ulahnya sendiri.
***
Aku
telah melakukan kesalahan yang berbuah kesadaran. Dulu aku terlalu buru - buru,
terlalu cepat memutuskan. Hingga akhirnya aku terjatuh pada tempat yang tidak
seharusnya. Mungkin sempat aku lupa bahwa di atas langit masih ada langit yang
abadi.
Ampuni
aku Ya Rabb.. Kini aku sadar bahwa hal yang duniawi mungkin bisa dengan mudah
didapatkan, tetapi keridhaan-Mu itu
yang sulit untuk didapatkan.
Tetapi
aku yakin, ini bukanlah hal yang harus aku berlarut – larut untuk menyesalinya.
Aku hanya perlu mengambil hikmah dan pelajaran dari ini semua. Juga berjanji
untuk tidak melakukan kesalahan yang sama, melakukan hal seceroboh itu tanpa
berpegang teguh pada agama. Insyaallah
aku sebagai hamba-Mu akan senantiasa mengikuti segala perintah-Mu yang jelas
nyata tertuang dalam Al Quran dan Al Hadis.
***
Suara adzan yang lepas nan merdu,
mengalun syahdu, mengundang keheningan dan kekhusyukan siapa pun yang
mendengar. Aku dan kedua adikku melaksanakan tiga rakaat ini berjamaah di
Masjid At-Taqwa.
Sudah lebih dari tiga minggu aku
melakukan kegiatan rutinku di Pesantren Darul Hikmah, pesantren peninggalan abi.
Aku menjadi salah satu pengajar sekaligus pengurus disini. Aku rasa ini tempat
terbaik yang harus aku singgahi. Melakukan pekerjaan sembari menggapai ridha Illahi.
“Allah senantiasa membukakan pintu
tobat untuk umat-Nya yang bersungguh hati. Asalkan selama ajal belum menjemput dan
roh belum sampai hulqum (tenggorokan).
Dan janganlah kita menunda tobat, karena taswif
adalah tanda orang yang tidak beruntung,” kutipan dakwah seorang ustadz yang
sangat kukenali, Yusuf.
***
Kelak
aku ingin berada di taman – taman dan sungai – sungai yang amat indah, di
tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa.. bersama orang – orang yang
aku sayangi dan cintai.
Selalu
teringat kata - kata abi yang sering
diucapkannya padaku “Genggamlah dunia di tanganmu, tetapi jangan kau genggam
terlalu erat. Dan.. letakkanlah akhirat lekat di hatimu. Teguhkan keimananmu.”
“Serupa
menggenggam pisau, –andaipun ia tumpul– jika kaugenggam dengan sangat erat, ia
tetap akan menjadi malapetaka bagimu. Begitu juga dunia.”

Tidak ada komentar: