Sehelai Kertas Tak Berharga - Semburat Sastra

Jumat, 30 Mei 2014

Sehelai Kertas Tak Berharga

            Apalah arti aku si sampah tak berguna. Namun mengapa aku selalu dijadikan alasan mereka untuk bertengkar. Apa aku berharga? Lantas mengapa mereka mencaciku seperti ini? Aku masih ingat ketika itu suasana terasa begitu riuh dan seolah aku adalah dalang dari semuanya.
            Dunia semakin gelap, sebagaimana pikiran – pikiran mereka yang semakin gelap. Sekelilingku juga terasa amat gelap. Bukan karena si pemilikku ini berbadan gelap, hanya saja aku telah berada dalam saku tipisnya sedari satu jam yang lalu. Tak ada oksigen yang masuk, untungnya aku tak memerlukan hal itu. Sepi, sunyi, sendiri, teman – temanku semua telah pergi berpindah tangan. Namun aku yakin, di luar tidak begitu.
           
“Kau satu – satunya yang kumiliki saat ini, entah cukup untuk apa,” keluhnya sungguh membuat hatiku sedikit teriris. Sudah kukatakan aku memang bukan apa – apa. Bulan semakin naik tepat di puncak langit, ia masih saja terpuruk dalam lamunannya. Kepalanya seperti sedang memutar rekaman masa lalu. Dahulu ia adalah sosok yang selalu dipuja-puja, serba ada. Namun bumi juga tak diam, ia selalu berotasi pada porosnya. Kini ia tak lagi berada di atas. Keserakahan bukan membuatnya lebih kaya, justru telah merenggut segala hal yang ia miliki. Jiwa telah ternodai.
            Tak berarti lah gengsi hidup di zaman sekarang. Manusia – manusia pencari nafkah itu banting tulang tiada hentinya. Acap kali tak ingat mana yang boleh dan mana yang tidak. Semua dilakukan hanya untuk mendapatkan umatku semata. Akhirnya si pengusaha kaya pun beralih menjadi pengusaha jalanan. Satu bulan sudah ia beralih profesi menjadi orang pengipas arang. Kudengar ia sering meneriakkan “Sate, Sate!” di waktu matahari mulai enggan menampakkan dirinya hingga digantikan oleh bulan.
            Hari berganti namun kulihat bulan tetap satu, berbeda dengan temanku yang ada disekitarku kini. Aku tak lagi sendiri. Ia juga belum memindahtangankan atau menukarku dengan yang lain. Aku senantiasa berada di dompet tipisnya. Entah karena memang nilaiku yang tak berharga atau ia terlanjur suka dengan gambar yang sering kudengar orang lain menyebutnya “monyet”. Yang jelas ini penampilanku. Walau terkadang orang menertawakannya, setidaknya aku masih saja mulus dan mengkilat. Tidak seperti teman – temanku yang lain, lusuh bahkan nyaris sobek.
            “Sudah kubilang harganya 4000,”
            “Loh Ko, bukannya biasa saya beli 3000?”
            “Ya itu kan biasanya, sekarang harga kecap sudah pada naik,”
            “3500 saja ya? Uang saya pas hanya tinggal segini,”
            “Tidak bisa. Cari di yang lain saja kalau tak mampu beli disini,”
            “Loh? Bukan saya yang tak mampu! Tapi disini memang terlalu mahal!”
            “Yang lain perasaan tidak ada yang komentar, hanya kamu saja! Lagi pula uang segitu mana cukup buat hidup di zaman sekarang! Hahaha,” “Kalaupun kamu ingin membayar 3500, ini masih kurang, lihat saja ini uang 500 zaman kapan?”
            “Kalau kau memang tak mau memberi, ya sudah tak perlu menghina!!!!” amarahnya benar – benar membeludak seperti bom tak terkendali. Aku yang sempat dilemparkan begitu saja tepat mengarah ke depan wajah lelaki tua sipit itu hanya bisa menjadi saksi bisu di antara pertengkaran dua manusia berkepala batu.
            Semburat cahaya memantul dari belati tajam hasil asahan. Tak tahu kemana mendaratnya. Aku tak bisa berbuat apa – apa selain menjadi alasan mereka untuk tetap saling memanah. Ragaku hampir hancur saat itu, lusuh sudah jelas seperti yang kukatakan pada teman – temanku.
            Esoknya, suara riuh rendah tidak ada hentinya sejak pagi. Si pemilik dompet tipis itu tak kudapati lagi. Batang hidungnya sekali pun. Kulihat barang – barang berserakan disertai tetesan cairan merah yang berbekas pada lantai.
            “Ya ampun, hanya karena uang 500 mereka sampai bertengkar heboh begitu,”
            “Iya Bu, sampai – sampai si Engko mati terbunuh,”
            “Zaman sekarang ini orang – orang memang sudah pada gila, kok bisa – bisanya lembar kertas bernilai 500 saja bikin nyawa hilang,”
***
“Wah ada uang nih. Bu, boleh kuambil ya?”
“Jangan, itu kan bukan punya kamu,”
“Tak apa – apa Bu, aku yakin tidak ada pemiliknya, aku temukan di dekat tong sampah,”
“Lumayan nih buat koleksi,” kiranya aku sudah pensiun dari tugasku untuk menjadi simbol tukar-menukar itu. Mungkin sekarang saatnya aku beristirahat. Menanti orang – orang untuk hanya sekedar melihat atau menempelkanku pada sebuah album lama. Sudah kukatakan berulang-kali bahwa aku bukanlah apa – apa. Aku hanya sehelai kertas tak berguna, namun setidaknya dalam jiwaku kini terkenang banyak kisah kenangan. Pernah kudengar, ada bangkai yang tak pernah hilang, yaitu bangkai sejarah. Jika orang – orang itu bersedia memungutku tanpa imbalan, setidaknya itu menandakan bahwa aku bisa termasuk ke dalamnya.

Tidak ada komentar:

@way2themes