Masih Merah Putih - Semburat Sastra

Rabu, 28 Mei 2014

Masih Merah Putih


Masih Merah Putih
Karya : Windi Ariesti Anggraeni

Merahmu masih menyala
Putihmu tetap ada dalam kesucian
Namun apalah arti bila hanya Sang Saka
Tak disertai dengan para pemegang kaya
Ilmu yang luasnya melebihi samudra
Juga iman yang tingginya nyaris menjulang angkasa
Namun apalah daya realita berbicara
Sejuta insan yang berikrar seolah benar
Segelintir diantaranya bertopeng intan
Pudi berkilau padahal ranjau
Sang penggembala tak lagi memerhatikan dombanya
Hanya kepuasan hati dan keserakahan dalam benaknya
Di atas keterpurukan domba - domba
Yang mencari seribu satu cara untuk mempertahankan hidup
Dirinya juga anak dan pendamping hidupnya
Kemanakah keadilan? Kesejahteraan?
Ikrar suci yang telah dilantunkan dengan indah dan tegasnya
Tong kosong! Begitu nyaring menyakiti saraf pendengarannya
Apa benar pelajaran sejarahmu dulu dinyatakan lulus?
Lalu apa arti dari darah-darah yang mengalir dan peluru yang menancap menghentikan detak jantungnya?
Mereka insan yang tak pernah berharap mendapat imbalan
Tak pernah jua ia menyebut dirinya sebagai pahlawan
Bambu runcing dan pakaian putih yang berubah menjadi merah ikut menjadi saksi bisu perjuangan
Tak ada nama Sang Penggembala dan dombanya
Yang ada hanya manusia – manusia mulia
Tak cukupkah lantunan lagu Ibu Pertiwi untuk menyayat hati?
Alam yang begitu melimpah ruah kekayaannya hancur karena pengabaian dan kelalaian
Memang tak mudah mengemudikan bahtera kehidupan
Pernahkah kau peduli kepada selain diri sendiri?
Sepintas seperti bahagia, serba ada
Kemajuan nan kemakmuran berkembang pesat dilihat kasat mata
Perubahan dari masa ke masa
Ratusan gedung menjulang tinggi ke langit
Ribuan kilometer jalan raya melayang di udara
Ratusan ribu kendaraan hilir-mudik menambah polusi setiap detik
Namun mata masih tetap melihat dengan satu kornea
Tidak dengan sebelahnya
Yang mungkin bisa melihat bagaimana keadaan jutaan jiwa
Kembali pada realita yang ada
Krisis moral melanda
Tikus-tikus mencuri ikan
Anehnya tak pernah merasa kenyang
Perut buncit tanda kerakusan
Semakin tandus tanah air
Semakin tumpul pikiran para pelakonnya
Tak sadar akan jajahan
Cara pintar yang begitu halus merasuk dalam naungan kehidupan
Sejurus pikirnya hanya kesenangan
Tak memandang jauh ke depan
Bom waktu berputar perlahan
Menunggu sampai tiba telinga mendengar dentuman
Haruskah begitu?
Membiarkan para pejuang menangis dalam kekecewaan

Revolusi perlu kendali
Kita hanya perlu suatu perubahan
Jangan hanya mengandalkan kawan
Ingat kawan bisa jadi lawan
Berdikari guna ciptakan kemerdekaan
Diikuti penataan yang rapi dan benar
Diiringi para pemegang bersih
Kaya ilmu iman amal
Tak cukup pada lisan seolah meyakinkan
Acap kali tak ada bukti
Perlulah sejuta aksi dilakoni
Bukan menyudutkan hanya pada para petinggi
Maka perlu cakap menyatukan miliaran pikiran
Bersatu-padu walau beragam
Membangun jiwa dan badan
Tak perlulah merasa enggan
Hanya karena sebuah alasan
Terlambat untuk melakukan perbaikan
Percayalah tidak ada suatu keterlambatan
Selama darah masih merah
Tulang masih putih
Dan Sang Saka masih tegak berkibar
Indonesiku, Indonesia kita, Indonesia Raya

Tidak ada komentar:

@way2themes