Masih Merah
Putih
Karya : Windi Ariesti Anggraeni
Merahmu masih
menyala
Putihmu tetap
ada dalam kesucian
Namun apalah
arti bila hanya Sang Saka
Tak disertai
dengan para pemegang kaya
Ilmu yang
luasnya melebihi samudra
Juga iman yang
tingginya nyaris menjulang angkasa
Namun apalah
daya realita berbicara
Sejuta insan
yang berikrar seolah benar
Segelintir
diantaranya bertopeng intan
Pudi berkilau
padahal ranjau
Sang penggembala
tak lagi memerhatikan dombanya
Hanya kepuasan
hati dan keserakahan dalam benaknya
Di atas
keterpurukan domba - domba
Yang mencari
seribu satu cara untuk mempertahankan hidup
Dirinya juga
anak dan pendamping hidupnya
Kemanakah
keadilan? Kesejahteraan?
Ikrar suci yang
telah dilantunkan dengan indah dan tegasnya
Tong kosong!
Begitu nyaring menyakiti saraf pendengarannya
Apa benar
pelajaran sejarahmu dulu dinyatakan lulus?
Lalu apa arti
dari darah-darah yang mengalir dan peluru yang menancap menghentikan detak
jantungnya?
Mereka insan
yang tak pernah berharap mendapat imbalan
Tak pernah jua ia
menyebut dirinya sebagai pahlawan
Bambu runcing
dan pakaian putih yang berubah menjadi merah ikut menjadi saksi bisu perjuangan
Tak ada nama
Sang Penggembala dan dombanya
Yang ada hanya
manusia – manusia mulia
Tak cukupkah
lantunan lagu Ibu Pertiwi untuk menyayat hati?
Alam yang begitu
melimpah ruah kekayaannya hancur karena pengabaian dan kelalaian
Memang tak mudah
mengemudikan bahtera kehidupan
Pernahkah kau
peduli kepada selain diri sendiri?
Sepintas seperti
bahagia, serba ada
Kemajuan nan
kemakmuran berkembang pesat dilihat kasat mata
Perubahan dari
masa ke masa
Ratusan gedung
menjulang tinggi ke langit
Ribuan kilometer
jalan raya melayang di udara
Ratusan ribu
kendaraan hilir-mudik menambah polusi setiap detik
Namun mata masih
tetap melihat dengan satu kornea
Tidak dengan
sebelahnya
Yang mungkin
bisa melihat bagaimana keadaan jutaan jiwa
Kembali pada
realita yang ada
Krisis moral
melanda
Tikus-tikus
mencuri ikan
Anehnya tak
pernah merasa kenyang
Perut buncit
tanda kerakusan
Semakin tandus
tanah air
Semakin tumpul
pikiran para pelakonnya
Tak sadar akan
jajahan
Cara pintar yang
begitu halus merasuk dalam naungan kehidupan
Sejurus pikirnya
hanya kesenangan
Tak memandang
jauh ke depan
Bom waktu
berputar perlahan
Menunggu sampai
tiba telinga mendengar dentuman
Haruskah begitu?
Membiarkan para
pejuang menangis dalam kekecewaan
Revolusi perlu
kendali
Kita hanya perlu
suatu perubahan
Jangan hanya
mengandalkan kawan
Ingat kawan bisa
jadi lawan
Berdikari guna
ciptakan kemerdekaan
Diikuti penataan
yang rapi dan benar
Diiringi para
pemegang bersih
Kaya ilmu iman
amal
Tak cukup pada
lisan seolah meyakinkan
Acap kali tak
ada bukti
Perlulah sejuta
aksi dilakoni
Bukan
menyudutkan hanya pada para petinggi
Maka perlu cakap
menyatukan miliaran pikiran
Bersatu-padu
walau beragam
Membangun jiwa
dan badan
Tak perlulah
merasa enggan
Hanya karena
sebuah alasan
Terlambat untuk
melakukan perbaikan
Percayalah tidak
ada suatu keterlambatan
Selama darah
masih merah
Tulang masih
putih
Dan Sang Saka
masih tegak berkibar
Indonesiku,
Indonesia kita, Indonesia Raya

Tidak ada komentar: