Dia Juga Sama - Semburat Sastra

Minggu, 06 Maret 2016

Dia Juga Sama

Kali ini aku ingin menceritakan seseorang..

Dia adalah sodaraku. Sodara sepupu dari kakak ibuku.

Sewaktu kecil, ia pernah mengalami demam tinggi dan sakit yang sampai membuat dirinya koma berbulan - bulan. Terlepas dari hal - hal mistis (ya, saat itu perusahaan kedua orang tuanya sedang begitu maju, tentu banyak orang yang merasa iri), dokter agak kesulitan mengobatinya.
Menurut apa yang diceritakan ibuku, kutangkap bahwa sejak kejadian itu lah, terjadi perubahan pada diri sepupuku. Perubahan yang aneh. Bahkan menyangkut pemikiran yang tak sejalan dengan usianya kala itu.
Beranjak dewasa, ia terus tumbuh seperti orang normal lainnya. Ya, fisiknya. Tapi tidak dengan pikirannya. Mungkin bisa dibilang ia masih seperti kanak2. Walau usianya belasan taun lebih tua dariku, tapi pemikiranku jauh lebih dewasa dibandingnya.
Yang ada dalam benaknya, hanyalah menjalani hidup yang mengalir apa adanya. Mungkin.
Terkadang penyakitnya kambuh. Ini bukan penyakit fisik, tapi penyakit yang sedikit mengusik jiwa.
Ahli medis mengatakan ia terbelakang. Maaf, sebenarnya aku tak ingin menyebutnya sama sekali. Karena memang tidak separah itu, semakin lama ia juga semakin tumbuh normal seperti yang lain. Kesabaran dan lingkungan lah yang mampu mengubahnya. Hingga ia juga bisa bekerja, walau kerja ala kadarnya di pabrik milik ayahnya sendiri.

Dan taukah kau apa yang sebenarnya ingin ku ceritakan? Ini adalah tentang dia yang begitu dekat dengan ibuku. Mungkin menganggap mamah adalah ibunya yang kedua. Tiap kali ia mendatangi rumah ini, ya hanya 1-2 hari mendapat libur kerja terkadang ia lebih menyempatkan untuk datang ke sini dari pada ke rumah orang tuanya sendiri. Padahal keberadaan rumah ini tentu lebih jauh dari jarak rumahnya sendiri. Ia selalu membawakanku oleh - oleh. Bukan yang mahal, bukan yang teristimewa. Sederhana. Biskuit, wafer atau cemilan lainnya.
Tapi sungguh, ini yang membuatku terharu. Ia begitu ingat kepadaku.
Bukan tentang buah tangannya yang sederhana dan murah. Tapi aku merasa, ini adalah bukti bahwa ia juga manusia terindah yang Allah ciptakan sama - sama seperti kita. Hanya bedanya,
Ia memiliki hati yang lebih tulus. Ia bisa menyayangi tanpa pamrih.
Sedangkan kita? Memberi karena ingin dipuji. Beribadah karena ingin terlihat baik. Iya, iya, tidak semua. Namun hanya saja... Seringkali ada perasaan kotor yang tidak sengaja tertanam dalam sudut jiwa kita.

Tidak ada komentar:

@way2themes