[Tak Perlu] Mengejar Bayangan (2) - Semburat Sastra

Senin, 19 September 2016

[Tak Perlu] Mengejar Bayangan (2)

Masih tentang ceritaku. Yang kutahu pasti kamu tidak sengaja membacanya. Atau kalau bukan karena kamu yang tidak sengaja mengklik tautan di salah satu akun sosmedku, mungkin aku sendiri yang nyuruh kamu untuk baca.
Tentulah aku merasa kisah ini tidak penting buat kalian. Karena ini semacam biografi tentang seorang yang terkenal pun tidak. Biasa saja. Sama seperti kalian. Cuma bedanya, aku di sini yang ngetik. Dan kalian yang baca.

Sebenarnya aku hanya ingin menulis sesuatu yang bisa memberikan manfaat kepada setiap yang membacanya. Bukan membuat tulisan yang menjadi "sia-sia" apalagi hanya menjadi puing - puing tawa. Tawa karena lucu sih gak apa-apa, menghibur, apalagi bagi kalian yang lagi galau atau gak ada kerjaan. Tapi jangan sampai, tawa itu karena "Cih, ini tulisan apaan sih, gak penting bener". Tawa meremehkan. Kamu tau kan ekspresi si Mama tirinya Cinderella waktu bilang ke Cinderella kalau dia gak mungkin bisa dateng ke pesta dan menjadi pemilik sepatu kaca? Kalau gak tau ya gak apa-apa, aku pun cuma asal aja memberi contoh.
Oke, abaikan aja. Yang penting ini blog saya, dan selama blog ini gratis, saya gak akan nyia-nyiain kesempatan buat sharing dengan kalian. Haha (gratis)

Ya, plusnya, semoga apa yang kalian baca bisa sedikit memberikan suatu hal yang berguna. Dalam hidup kalian. Apapun itu.

...

Jadi, saat masa putih abu, di situlah sedikit saya merasa banyak terjadi perubahan. Sebenarnya belum banyak. Tapi cukuplah untuk mengubah seorang anak perempuan yang tadinya jahiliyah, menjadi sedikit sadar tentang kewajibannya bila telah menginjak masa baligh. Ya, kelas 1 semester 2 kalau tidak salah, aku baru mulai berkerudung. Setelah sebelumnya di SMP pun sebenarnya suka berkerudung, tapi hari Jum'at aja.

Kenapa bisa?
Padahal tidak ada satu pun orang yang menyuruh. Apalagi memaksa.
Usia SMA masih dianggapnya "gapapa masih muda ini, nanti aja kalau udah ibu2, barulah pake kerudung". Aku sering dengar pernyataan begitu.

Jadi awalnya, kalau aku benar (tidak salah kan benar), waktu itu seperti biasa kalau bulan Ramadhan suka dapat libur. Dan Alhamdulillah papaku selalu menyuruh untuk mengikuti kegiatan pesantren kilat. Tapi menginap. Beberapa hari. Kegiatan pesantren berjalan seperti biasa, sama seperti yang kuikuti dari zaman SD atau SMP. Aku hanya ingat, disitu aku sempat mendapat juara 3 lomba pidato. Hehe lumayan.. Juara tingkat paskil (pesantren kilat).
Dan saat itu, bukan aku mendapatkan kajian tentang hijab lantas aku bertekad untuk jadi berhijab. Bukan.
Tapi entah mengapa, sepulang paskil, saat besoknya (atau beberapa hari kemudian mungkin) saat aku mau berangkat sekolah, aku tiba2 ingin mengenakan kerudung. Tapi kuakui, saat itu, memang, aku melihat rambutku sedang tidak bagus untuk dilihat. Jadi mungkin aku mendapatkan ide untuk memakai kerudung. Karena memakai kerudung, aku jadi tidak perlu repot untuk merapikan si rambut.

Besoknya, aku memakai kerudung lagi. Aku ingat, aku sempat bilang pada kakakku "Temen2 tadi bilang di sekolah katanya aku lebih pantes pake kerudung".
Kakakku yang saat itu gak pake kerudung, cuma merespon biasa aja. Aku lupa responnya apa, tapi sepertinya dia tidak terlalu mensupportku untuk memakai kerudung.

Besoknya, besoknya, dan terus hingga besok besok besoknya lagi. Aku memakai kerudung ke sekolah. Kecuali hari Sabtu. Bukan karena Sabtu hari libur untuk berkerudung. Tapi, saat itu, aku tidak memiliki seragam pramuka yang panjang. Jadi tangannya pendek.
Dan saat itu, Rapi, salah satu teman dekatku mengingatkan, aku harus mulai pake kerudung terus. Mungkin dia ingin aku bisa menjadi temannya sampai surga. "Masa karena gak ada seragam aja, kerudungnya dilepas", Benar juga. Sebelum sempat beli seragam pramuka yang baru, akhirnya aku pakai jaket ke sekolah, dan memakai kerudung. Kukira solusi seperti itu bisa bertahan lama, tapi nyatanya tidak. Karena sudah tau kan, kalau di sekolah itu, tidak boleh pakai jaket. Kecuali yang sakit. Yang sakit pun, harusnya tidak berada di sekolah, tapi di rumah. Atau rumah sakit.
Akhirnya, beberapa hari kemudian, lengkaplah sudah setiap hari ke sekolah aku memakai kerudung. Ya, setelah membeli seragam pramuka yang panjang tentunya.
Tapi, belum saat main. Alasannya karena.. Mungkin belum terbiasa. Dan melihat temanku kebanyakan seperti itu. Pakai kerudung, cuma saat sekolah. Sekolah bubar, main, ya kerudungnya ikut bubar. Bahkan ada yang sampai sekarang saat kuliah, temanku benar-benar menanggalkan hijabnya. Baik saat main, maupun saat ke kampus.

Hingga suatu hari saat matahari masih bersinar, saat seperti biasa aku hendak main (jalan2) dengan kakakku, aku tidak memakai kerudung (karena sebenarnya aku sedikit ada rasa tidak enak dengan kakakku yang tidak memakai kerudung. Aku takut disangka so'so'an lebih islami dari dia). Tapi tanpa banyak berkata, saat beranjak ke luar rumah, kakakku tiba2 bilang "Kok gak pake kerudung? Pake aja kerudungnya. Masa ke sekolah doang pake kerudungnya." Kakakku memang bisa dibilang tomboy saat itu, tidak terlalu mementingkan penampilan, suka basket, dan otomatis banyak bergaul dengan cowo2. Berkerudung belum menjadi pilihannya saat itu. Tapi dia, tetap berusaha menjadi umat yang baik dengan menyuruh adiknya untuk memakai kerudung. Kemana pun.

Sejak saat itulah. Aku mulai tidak canggung lagi untuk memakai kerudung. Ke sekolah maupun ke luar rumah.
Padahal sebelumnya, boro2 kepikiran. Kalau kamu lihat lemari bajuku saat itu, masih banyak dipenuhi oleh baju2 lengan pendek hingga dress imut selutut. Sejak saat itu, aku meninggalkannya.

-------------------
Hidayah memang bisa datang kapan saja, dan dari mana saja. Aku tau, kamu yang saat ini belum berkerudung, pasti memiliki sejuta alasan.
"Belum siap." Belum siap tampil beda? Belum siap menyembunyikan mahkota yang selama ini membuatmu terlihat sangat cantik? Dipuji banyak orang?
"Belum dapet hidayah nih." Lantas mau diam? Memangnya hidayah akan datang ketika kita hanya diam?
Yang aku rasakan, hidayah itu bukan ditunggu, tapi harus dijemput. Ketika kita merasa ia tidak datang juga, berarti ada yang salah dengan kita. Bisa jadi, tempat kita belum tepat, ia ingin datang di lain tempat. Mari cari tempat itu. Mari cari  lingkungan yang baik dan bergabung bersamanya. Kita tidak akan berubah bila tidak bergerak untuk berpindah.

Tapi aku tidak bisa memaksa. Karena yang aku rasa, sesuatu yang datangnya dari hati, atas kemauan sendiri, itu bisa bertahan begitu lama. Kebaikan yang dilakukan atas dasar kesadaran sendiri tidak akan ditinggalkan begitu saja. Berbeda dengan apa yang dilakukan hanya karena disuruh, apalagi dipaksa orang.
-------------

Eh tapi tidak dengan baju lengan pendek, mereka masih kupakai, lalu kubalut dengan cardigan. Lalu dipadukan dengan celana panjang jeans ketat.

Ya, saat itu, pemahamanku masih tentang "seorang muslimah harus pakai kerudung" dan belum sampai ke "kerudung yang seperti apa?".

Yang penting rambut harus tertutup. Cukup sampai di situ.

To be continued....

------
Kalian pasti masih bertanya. Di mana letak 'bayangan' yang akan kuceritakan sebagaimana judul.

Tidak ada komentar:

@way2themes