Sketsa Cinta - Semburat Sastra

Jumat, 17 Desember 2010

Sketsa Cinta


Hari begitu cerah, matahari bersinar seperlunya dan angin pun seakan sangat bersahabat. Sungguh hari yang menyenangkan untuk orang-orang pergi keluar rumah. Jalan-jalan, belanja, pergi ke mall, nge’date atau apa lah. Tapi tidak untuk gadis yang satu ini, dia lebih senang menghabiskan waktu luangnya di rumah, bersama cat-cat dan kuas yang seringkali mengotori bajunya. Eh ternyata salah, tidak seperti biasanya kali ini dia mengekspresikan hobinya itu diluar rumah. Ya mungkin karena cuacanya memang sangat mendukung.
“Hey lagi ngapain tuh?” seorang lelaki mengagetkan gadis manis itu.
“Eh lo Yo, ngagetin aja! Gak liat apa gue lagi ngapain?” jawabnya.
“Haha sory. Wah lo tuh ya gak ada kerjaan lain apa selain ngelukis?” goda cowok manis ini.
“Ya emang ini hobi gue ko, lo juga tau sendiri kan.”
“Ya ya gue tahu. Sory deh Cintaaaa.”

Bukan so romantis atau apa, juga bukan karena mereka pacaran. Nama cewek manis ini memang Cinta, dan cowok yang bernama Dio ini adalah teman dekatnya sejak SMP. Mereka amat dekat, sudah seperti sodara, atau mungkin teman-teman banyak yang menyangka kalau mereka sepasang kekasih, tapi bukan! Mereka hanya teman dekat, ya.. teman dekat. Bahkan orangtuanya pun sudah saling mengenal. Karena mereka itu bersebelahan rumah alias tetanggaan, plus satu sekolah pula. Gimana gak deket coba?
“Yo, lo setuju kan sama rencana gue yang kemaren?”
“Rencana?”
“Iya.. masa lo lupa sih? Acara Promnight kan besok malem!”
Dio terdiam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Oh ya. Setuju ko.” Singkatnya Dio menjawab.
Lalu tak lama kemudian Dio pun meninggalkan Cinta sendirian disana, ya duduk sendirian di kursi taman tempat favorit mereka buat ngobrol. Entah mengapa Dio langsung terlihat murung ketika Cinta menanyakan tentang rencananya itu.
Akhirnya hari ini tiba, hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh siswa SMA 45 Jakarta ini, termasuk Cinta. Malam ini Cinta berpenampilan sangat menawan, memakai gaun selutut berwarna merah kecoklatan, dengan rambut dibiarkan terurai dan olesan blush on membuat lesung pipinya itu tambah manis, ditambah high heels coklat yang baru Ia beli kemarin membuat gadis tilang (tinggi langsing) ini tampak sempurna layaknya putri-putri dalam dongeng. Dio juga tak kalah kerennya, dia memakai kemeja abu dan ditutup oleh jas hitam indis ala cowok gaul jaman sekarang. Mereka berangkat bersama dari rumah memakai mobil Dio, persis seperti sepasang kekasih.
Tepat di tempat parkir sekolah mobil vores silver ini mendarat. Sesampainya disana mereka langsung menuju ke lapangan sekolah, yang tepatnya sekarang bukan terlihat seperti lapangan lagi. Melainkan seperti sebuah kafe terbuka atau apalah. Disekelilingnya diwarnai dengan pepohonan yang tertempel lampu-lampu kecil berwarna-warni, serta dilengkapi dengan panggung tentunya. Sebenarnya acara Promnight ini dikhususkan untuk kelas 3 dalam rangka acara perpisahan, namun rasanya kurang meriah kalau hanya dihadiri oleh satu angkatan saja, akhirnya kelas 1 dan 2 juga diikutsertakan.
“Aduh Yo, ko gue jadi deg-degan gini ya?” ucap Cinta.
“Hmm.. tenang-tenang. Lagian orangnya juga belum keliatan tuh!” ucap Dio santai.
“Kira-kira dia suka ga ya sama lukisan yang gue bikin ini? Mudah-mudahan aja dengan gue ngasih lukisan ini ke dia, dia bisa langsung ngerti apa maksud gue.”
“Ya semoga. Eh eh tuh kayanya cowok idaman lo udah dateng!” sambil menunjuk ke arah cowok yang Cinta tunggu-tunggu itu.
Choki namanya. Kapten basket ini adalah kakak kelas Cinta dari SMP, dan sekarang berlanjut di SMA. Badannya yang tegap terlihat sering berolahraga, wajahnya menawan, gayanya keren, supel pula membuat Cinta semakin kelepek-kelepek dibuatnya. Memang bukan Cinta namanya kalau dia gak nekat ngedeketin cowok idamannya ini, meski Kak Choki itu udah jadi idola banyak cewek-cewek di sekolahnya Cinta masih aja tetep ngeharepin. Sampai akhirnya Cinta bisa smsan sama cowok idamannya ini.
Dan berlanjut setelah cukup lama PDKT lewat sarana telepon genggam ini Cinta bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih nekat lagi. Di acara Promnight ini Cinta berencana untuk memberi sebuah lukisan kepada Kak Choki, sebagai tanda kasih sayang gitu maksudnya. Dia berharap yang dia lakukan ini tidak terbuang percuma.
“Hey udah lama disini Ta?” Kak Choki hampir saja membuat jantungnya copot. Cinta sangat senang bisa disapa seperti ini oleh pangeran impiannya.
“Eh ngga Kak. Baru 10 menit yang lalu ko.”
“Oh gitu ya. Sama siapa?”
“Ini sama Dio, temen aku.”
Cinta sangat bingung harus memulai pembicaraannya dari mana. Kanvas yang terpenuhi lukisannya itu telah ia pegang dari sejam yang lalu dia berangkat dari rumah. Dio masih terus berada disamping mendampinginya. Tapi tidak lama kemudian Dio pun pergi meninggalkan Cinta berdua dengan Kak Choki. Mungkin Dio tidak mau merusak acara mereka. Atau mungkin Dio memang sengaja tidak mau melihat moment ini.
“Kak..” suara Cinta amat pelan.
“Ya ..?” belum usai Kak Choki bicara, seseorang memanggil dirinya dari belakang.
Cinta langsung berlari pergi keluar tanpa peduli dengan lukisan yang tak sengaja telah ia jatuhkan. Dio yang melihat ini semua langsung menyusul ke arah mana Cinta pergi. Akhirnya Cinta berhenti di parkiran, di depan mobil sahabatnya yang ia tumpangi saat berangkat tadi.
“Ko pergi gitu aja?”
“Gue gak sanggup.”
“Ga sanggup? Maksudnya? Lo ga sanggup ngutarain perasaan lo ke dia?”
“Bukan itu masalahnya.”
“Terus? Apa gara-gara cewek yang tadi nyamperin Kak Choki?”
“Kita pulang aja sekarang oke?!!” sambil menarik tangan Dio supaya dia mau segera mengemudikan mobilnya.
“Cintaa!” terdengar suara seseorang yang tidak asing lagi baginya.
Cinta sangat kaget Kak Choki menghampirinya. Tapi belum sempat Cinta bicara...
“Ini. Makasih ya! Tapi maaf Kakak gak bisa terima ini.”
Setelah memberikan lukisan itu, Kak Choki langsung pergi. Semanis-manisnya senyum dia pada malam ini, tetap saja ini malam yang buruk buat Cinta. Lukisan ini bukan lukisan sembarangan, Cinta membuatnya seorang diri dengan sepenuh hati. Di atas kanvas tersebut terlukiskan seorang wanita dan seekor burung merpati yang sedang melihat ke arah seorang lelaki, terdengarnya memang lukisan biasa saja. Tapi kalau bisa diliat, emmmp lukisannya itu gak kalah saing sama lukisan karya Affandi. Lukisan itu punya makna tersendiri, juga makin menarik karena ada tambahan puisi yang amat puitis di bagian sampingnya. Namun sayang, lukisan itu ternyata terbuang percuma malam ini.
Beberapa detik kemudian, Kak Choki kembali beberapa langkah ke arah Cinta.
“Oh iya dan satu lagi, nama Kakak itu CHOKI bukan DIO. Inget ya Cinta!” kak Choki kembali tersenyum dan langsung membalikan badan.
Cinta juga Dio amat terperangah melihat ini. Apa maksud Kak Choki mengatakan seperti itu, fikir mereka. Setelah Cinta dan Dio perhatikan lukisan itu, Ya Tuhan... ternyata di lukisan Cinta itu tertera tulisan samar-samar bernama “D-I-O” ya.. DIO ! tulisan itu mereka dapati di pojok bawah sebelah kanan lukisan.
“Ko bisa ada nama gue?” herannya Dio.
Cinta benar-benar tidak bisa menjawabnya. Cinta benar-benar diam layaknya orang pura-pura bisu atau bahkan memang benar-benar bisu.
“Ta.. jawab dong!”
Sejenak suasana menjadi hening. Keduanya terdiam terpaku.
“Satu kalimat dari gue buat lo Yo... Cinta emang gak bisa bohonk.”
Ternyata orang yang Cinta sayangi selama ini adalah Dio. Yang selalu Cinta ingat itu adalah Dio, sahabatnya. Bukan Choki. Sampai-sampai saat ia berniat membuat lukisan untuk Choki pun yang dia tuliskan adalah nama Dio. Selama ini Cinta tidak pernah mau mengakui perasaannya, ia selalu menyangkal, karena status hubungan mereka yang sudah sahabatan lama ini tidak mungkin terpecah begitu saja. Cinta lebih mementingkan persahabatannya itu, sehingga ia tidak mau Dio tahu kalau Cinta selama ini mencintainya. Maka dari itu Cinta memperdalam perasaan sukanya ke Kak Choki. Padahal rasa suka yang Cinta miliki untuk Kak Choki tak sebanding dengan perasaan sayang Cinta kepada sahabatnya itu.
“Yo.. Sebenernya ................ “
“Ya ya.. gue kayanya ngerti maksud lo Ta. Gue juga punya perasaan yang sama kayak lo.”
Cinta hanya terdiam terheran.
“Tapi semuanya udah terlambat.”
“Maksudnya?”
“Mulai 2 hari kedepan gue gak bisa nemenin lo lagi. Maafin gue ya Ta!” dengan wajah masih menunduk, tak berani bertatap muka dengan Cinta.
“Emang lo mau pergi kemana Yo?”
“Bokap gue dipindah kerja. Otomatis kita sekeluarga juga harus ikut pindah.”
Air mata tak terasa mengalir melewati lesung pipi gadis ini. Ia benar-benar sedih mendengar itu semua. Spontan ia langsung memeluk sahabatnya itu.
“Tapi, dengan pindahnya gue, bukan berarti berakhirnya persahabatan kita kan !” Dio masih tetap tersenyum mencoba meyakinkan Cinta untuk tidak bersedih atas ini.
“Gue sayaaaaaang lo Yo! Pokonya apapun yang terjadi kita tetep sahabaaatttaaaan.”
“Okeoke. Eh nanti kalo disana gue udah punya kecengan baru, gue kabarin lo ya! Hahahaha”
“Yaaaaa jahat banget lo Yo.”
Akhirnya malam ini pun diakhiri dengan canda tawa mereka, dan senyum persahabatan tentunya.

Tidak ada komentar:

@way2themes