Percaya Tidak (2) - Semburat Sastra

Minggu, 15 Mei 2011

Percaya Tidak (2)

......next.....

Suatu hari di pagi yang cerah, Cica tiba-tiba menceritakan sesuatu kepadaku. Pasti cerita tentang Kak Irgi, pikirku. Dan ternyata dugaanku tak salah. Tapi cerita Cica ini cukup terdengar aneh di telingaku. Cica mengatakan bahwa Kak Irgi nampak aneh, aneh dalam tingkah laku maksudnya. Awalnya Kak Irgi memang terlihat seperti sedang mendekati Cica alias PDKT. Tapi lama-kelamaan Kak Irgi malah menanyakan orang lain, yaitu Ardy, sahabat kami juga. Aku dan Cica tidak tahu maksud Kak Irgi menanyakan tentang Ardy tersebut, mungkin mereka punya masalah atau entah apa kami tidak tahu. Tapi hal itu membuat aku sangat tertarik untuk mengetahuinya, ada apakah gerangan.

“Dy, kamu kenal sama yang namanya Kak Irgi?” to do point aku langsung bertanya kepada Ardytanpa basa-basi.

“Irgi mana?” jawabnya singkat.

“Kakak kelas kita. Jangan pura-pura gak tahu deh.”

Ardy sempat terdiam. Dan meninggalkanku tanpa bicara sepatah kata pun. Ahh, tingkah Ardy yang seperti itu membuat aku semakin penasaran. Ardy orangnya memang tertutup, bahkan banyak teman yang bilang dia tipe cowok yang dingin. Tapi tidak biasanya dia bersikap seperti ini, kalau ada masalah biasanya ia selalu cerita kepadaku atau Cica. Namun akhir-akhir ini kami memang terasa agak menjadi jauh.

Ting.. tong.. ting… tong

Bel pulang pun telah berbunyi. Aku berniat ingin menanyakan hal itu lagi ke Ardy, kebetulan Ardy juga sekelas denganku. Tapi belum sempat aku mengajaknya bicara, Ardy telah pergi keluar kelas seolah-olah menghindariku. Saat di tengah perjalanan pulang, aku bertemu dengan Kak Irgi. Bukan bertemu, lebih tepatnya aku melihat Kak Irgi tapi dia tidak melihatku.

“Lagi ngapain Kak Irgi sendirian di taman?” aku bicara sendiri.

Dan ternyata yang aku lihat salah, Kak Irgi bukan sendirian melainkan ada orang lain di hadapannya. Dan yang membuat mataku tak percaya melihatnya, orang lain itu adalah ARDY! Mereka sedang berbicara empat mata. Tapi sepertinya ada yang berbeda dengan mereka. Ya Tuhan, tidak! Aku benar-benar tak percaya melihat ini! Kak Irgi memegang tangan Ardy! Bukan seperti seorag lelaki dengan seorang lelaki. Tetapi . . . seperti seorang lelaki yang sedang memegang kekasihnya dengan penuh kasih saying. Oh tiiddaaaakk. Aku langsung beranjak pergi melanjutkan perjalanan pulang, aku sangat berharap semua itu hanyalah mimpi. Aku pun berlari ingin cepat mendarat di kasur empukku.

“Ardy?” smsku kepada Ardy.

Lima menit kemudian 1 pesan baru terlihat di layar hapeku.

“Kamu gak perlu mikirin tentang Kak Irgi lagi.” balasnya.

Aku tak mengerti apa maksud Ardy. Ini sungguh misterius. Membuat hati ini bertanya-tanya. Lalu aku balas lag isms Ardy.

“Maksud kamu apa Dy? :o”

Satu jam, dua jam, tiga jam, sampai aku terlelap tidur Ardy tak membalas smsku lagi. Inginku segera menelponnya, tapi sayangnya pulsaku tak cukup untuk menelpon.

Keesokan harinya, pagi-pagi sudah terjadi kehebohan di sekolahku. Konon katanya kehebohan itu berasal dari kejelekan yang telah di perbuat oleh siswa di sekolahku, teman sekelasku bahkan.

“Ya ampun Na, gak nyangka banget. Liat deh!” sembari menangis Cica menyodorkan majalah sekolah kami kepadaku. Tak percaya atas apa yang aku lihat. Di majalah itu aku melihat ada foto Kak Irgi dan Ardy, di atasnya di beri judul “Pelajar GAY tidak Patut di contoh !!”.

Ya Tuhan … apa maksud ini semua? Air mataku mulai menetes tak tahan melihat kenyataan ini. Di majalah itu tertuliskan tentang 2 orang lelaki yang di duga saling mencintai. Sungguh jijik aku melihatnya. Orang yang selama ini aku cintai, yang jadi pujaan hatiku, ternyata seorang … aahh .. seorang GAY ! Dia seorang GAY ! terlebih lagi, dia “menjalin cinta” dengan sahabatku, Ardy. Sungguh amat teramat kecewa hati ini. Ini semua benar-benar seperti mimpi. Tak pernah terbayang sedikit pun olehku bahwa Kak Irgi seseorang yang mempunyai kebiasaan anormal ! Bukan hanya aku, tapi mungkin semua orang, semua orang yang kenal dengan Kak Irgi dan juga Ardy. Aku masih menangis, dan sulit untuk berhenti. Hati ini benar-benar sakit, kecewa! Tak kubayangkan kalau teman-temanku tahu tentang kekonyolanku selama ini terhadap Kak Irgi, mungkin mereka akan menertawakanku atau malah kasihan ? Entahlah, aku tak sudi membayangkannya.

Beberapa menit setelah air mataku mulai tak emnetes lagi, terdengar hapeku berbunyi. Satu pesan baru terlihat di layar hapeku. Dari Ardy.

“Kamu pasti udah tau semuanya. Tapi asal kamu tau Na, aku sama sekali gak kaya Kak Irgi. Aku masih jadi lelaki normal yang kamu kenal Na. Aku harap kamu bisa percaya aku. Maaf juga, dari awal aku tidak menceritakan tentang Kak Irgi ini ke kamu, karena aku pun baru tau kemarin-kemarin bahwa kamu menyukainya.”

Sedikit lega membaca sms dari Ardy itu. Tapi aku belum siap untuk berkomunikasi dengannya. Smsnya tak aku balas.

Sejak kejadian itu, Kak Irgi tidak pernah terlihat lagi di sekolah. Aku pun sudah tidak mengharapkan lagi ingin bertemu dengannya. Aku benar-benar akan melupakannya !! lalu bagaimana dengan Ardy? Ardy dikabarkan pindah sekolah ke Solo. Ya .. mungkin meskipun Ardy bukan seorang GAY, tidak menutup kemungkinan kalau seisi sekolah menyangkanya sebagai seorang Gay. Aku bisa mengerti dengan keadaan Ardy, aku percaya kepada sahabatku itu.

Tidak ada komentar:

@way2themes