Dia Si Aneh - Semburat Sastra

Selasa, 01 Januari 2013

Dia Si Aneh


Hujan di pagi hari ini begitu deras. Mengingatkanku akan dirinya yang dulu. Dulu saat kita masih berteman baik. Aku masih duduk termangu di atas sofa empuk di kamarku sambil memperhatikan liontin yang sedang berada dalam genggamanku. Hingga tiba-tiba saja bayangannya hadir terlihat dari pelupuk mata ini. Dan hanya aku yang dapat merasakannya.
          Lembut belaian kasihmu takkan terganti. Aku ingat. Saat kamu hendak mengantarku pulang, menumpangi motor kesayanganmu, padahal sore itu hujan turun dengan derasnya. Dan padahal diluar sana masih banyak supir angkutan umum yang akan bersedia memberhentikan mobilnya untuk aku tumpangi. Entah mengapa aku pun lebih memilih bersama denganmu di bawah langit yang menangis. Tiba-tiba kau lepaskan jaketmu lalu memberikannya untukku, aku menolak, karena aku tidak perlu mendouble jaketku dan aku tahu kamu pasti kedinginan. Tapi kamu masih saja memaksa hingga akhirnya aku menyerah dengan tatapan itu. Sejujurnya aku tak tega mengenakan dua jaket ini untuk melindungi tubuhku dari tangisan hujan, sedangkan kamu melawan cipratan air dan hembusan angin itu hanya dengan sehelai kain seragam yang tebalnya tak melebihi 0,01 inch. Aku heran, padahal hujan masih saja belum berhenti, tetapi aku sudah bisa melihat pelangi itu terbentuk. Pelangi yang indah. Di matamu. Lalu ketika motor yang ku tumpangi telah mendarat tepat di depan rumahku, kamu tidak langsung pergi begitu saja, kamu menunggu sampai langit berhenti menangis. Entah itu modus atau…
            Lamunanku terpecah seketika aku dikagetkan oleh bunyi dering handphoneku. Nyaris saja aku hanyut dalam nostalgia cerita SMA-ku yang begitu konyol dan rasanya wajar jika aku masih saja mengingatnya.
            6 Messages Received
            2 Missed Call
            Terbaca jelas di layar handphoneku. Enam pesan itu berasal dari pengirim yang sama.
            “Hari ini jadi kan lo bantuin gue? Gue jemput jam 8 ya?”
            “Bales deh plis!”
            “Lo lagi ngapain sih Je? Angkat telpon gue!!”
            Isi pesan itu berulang-ulang. Nampaknya sahabatku yang satu ini sudah tak sabar menunggu balasan sms dariku. Aku bergegas mengetik balasan sms untuknya sebelum terlambat. Sebelum ia murka. Ting.. Tong.. tepat saat jempolku mendarat diatas tombol Send bel rumahku berbunyi tanda ada orang yang datang. Aku segera menuju ke pintu yang tak asing lagi dan segera menyambut hangat orang yang datang dari balik pintu itu. Ternyata dugaanku benar, Karin telah ada di hadapanku sekarang. Tentu dengan raut wajah yang kesal, dan aku hanya membalasnya dengan senyuman ringan.
Tak lama kemudian hujan pun reda dan kami langsung menuju ke mobil Karin. Aku pasrah saja mengikuti kemana ia pergi. Yang jelas hari ini ia memintaku untuk membantunya mensukseskan acara surprise di hari ulang tahun pacarnya ini. Untuk menebus rasa bersalahku tadi, akhirnya aku bersedia mengikutinya tanpa banyak berkomentar. Padahal hari ini rasanya aku ingin bersantai saja di rumah bersama tempat tidur dan bantal kesayangan.
Perjalanan yang cukup lama ini membiarkanku terbang melayang - layang bersamanya dalam ingatan. Kamu lagi. Aku mengingatnya. Hari itu hari ulang tahunmu, hari paling special sepanjang sejarah dalam hidupmu. Dan aku igin mewujudkan hal itu. Aku ingin memberikan hal teristimewa untukmu. Akhirnya kejutan itu pun berhasil aku berikan untukmu. Tak lupa aku pun memberikan sebuah kado yang dengan susah payah aku memikirkannya, kado apa yang pas untukmu. Aku senang sekali ketika melihat sorot matamu memancarkan rasa bahagia. Namun, rasanya ada yang berbeda. Ternyata… aku melihat sorot matamu memancarkan kebahagiaan ketika ada seseorang yang mengucapkan ‘Selamat Ulang Tahun’ untukmu. Hanya mengucapkan ‘Selamat Ulang Tahun’. Aku melihatmu yang senang bukan kepalang mendapat ucapan itu darinya. Dia mungkin seseorang yang baru. Jika aku tahu itu dari awal, mungkin aku tak perlu susah payah mencari kado yang pas untukmu dan merencanakan kejutan untukmu, cukup saja aku meminta kepada gadis itu untuk mengucapkan ‘Selamat Ulang Tahun’ kepadamu tepat pada pukul 12 malam. Mungkin kamu akan jauh lebih senang.
Aku tersadar ketika tiba-tiba tubuhku terdorong ke depan karena terguncang oleh pengereman yang mendadak. “Zeinaaa lo dengerin gue gak sih?” gerutu Karin dengan nada khasnya. Tanpa sadar ternyata sepanjang jalan tadi dia bercerita kepadaku, mungkin dengan maksud mengajak bicara, tapi nyatanya tak ada respon sama sekali. Lagi-lagi dia kesal padaku. Namun aku berhasil membuatnya tertawa dengan lelucon-lelucon yang ku lontarkan.
Misi telah berhasil dilaksanakan. Akhirnya Karin merasa lega dengan usahanya yang berbuah hasil terbaik. Karin telah asyik dengan dunianya yang seolah hanya dihuni oleh dirinya dan Andre pacarnya. Aku merasa menjadi kambing yang tuli. Aku meninggalkan mereka berdua, meski pandangaku masih bisa jelas melihat mereka, setidaknya aku tidak bisa menguping apa yang sedang mereka bicarakan.
Aku duduk terbaring diatas tempat duduk di teras balkon sambil menengadahkan wajahku ke arah langit biru yang indah. Lalu memejamkan mata, rasanya begitu tenang. Tetapi sesekali terdengar di telingaku suara canda tawa Karin dan Andre. Hal itu membuatku teringat tentang dirinya. Lagi.
Lucu. Aku jadi ingat kapan pertama kali aku merasaka kenyamanan itu. Merasa nyaman saat ada di dekatmu. Sampai pada suatu saat kamu mengatakannya. Kamu bilang kamu sayang padaku lebih dari sekedar teman. Aku pikir kamu bercanda. Karena memang seringkali kita bicara dalam konteks candaan. Tapi kamu selalu mengatakan “Apa ini kelihatan bercanda?” aku jawab dalam hati “Sejujurnya, sama sekali tidak.” Seringkali aku menggunakan ikatan batinku ketika menjawab pertanyaanmu yang sulit untuk aku ungkapkan.
Saat itu aku hanya bisa merasakan kebingungan. Kamu meminta jawaban. Dan aku hanya bisa memintamu untuk menunggu. Ada banyak alasan yang membuatku seperti itu. Bahkan bukan karena aku tak sayang. Tapi aku yakin kamu tak akan pernah mengerti. Karena aku tahu kamu paling tidak suka menunggu. Maka dari itu, aku ingin tahu seberapa besar sabarmu untukku? Seberapa setiakah kamu? Aku ingin kamu meyakinkanku. Aku tak semudah itu percaya sepenuhnya terhadap seseorang hanya atas kata-kata yang ia ungkapkan.
Aku bingung, sebenarnya apa yang aku sukai dari dirimu. Kamu bukan laki-laki yang bisa merangkai kata-kata mutiara indah di setiap bait puisi, kamu bukan penyanyi handal yang mengeluarkan suara merdunya special untukku, kamu juga bukan pemain gitar yang keren yang di setiap petikan nadanya tertuju special hanya untukku, kamu juga bukan orang pintar yang bisa menguasai semua pelajaran, bahkan tak sedikit orang yang tak suka dengan salah satu sifatmu, termasuk aku. Aku heran. Kamu itu… hanya kamu.
Tak terasa ternyata aku telah tertidur di teras balkon rumah Karin. Ku lihat jam tangan menunjukkan waktu dimana aku harus segera pulang.
Ku lemparkan tubuh yang lemas ini ke atas tempat tidurku. Rasanya nyaman sekali. Seketika mataku tertuju pada benda berbentuk persegi panjang di atas meja belajarku. Tiba-tiba saja tersirat di benakku untuk membuka laptop itu dan menyambungkannya dengan internet. Aku mengetik email dan passwordku di kolom sign in di salah satu media sosial ternama. Sudah lama aku tak melakukan hal ini. Ku membuka bagian messages, luar biasa kamu menduduki peringkat pertama sebagai akun yang paling banyak bertukar messages denganku. Kamu laki-laki yang simpel. Bukan tipe cowok yang suka bertele-tele merangkai kata mutiara untuk seorang wanita. Singkat, padat, dan kadang tidak jelas, suka setengah-setengah, ketus, dan mungkin masih banyak yang dapat aku simpulkan dari sikapmu. Sikapmu yang seringkali membuat aku merasa jengkel, bukan, tapi… geregetan, ya mungkin semacam itulah istilahnya. Aku baca satu-persatu isi pesan itu, sesekali aku tersenyum malu, sesekali aku tertawa, namun sesekali aku juga menyimpan raut sedih pada wajahku. Aku tersenyum ketika membaca…
“Cepat tidur! Jangan begadang!” dia bilang
“Lo juga begadang.” Aku bilang
“Kalau gue ya biarin.”
“Kok gitu?”
“Karena gue ga akan sakit kaya lo. Cepet sana”
Tuh kan dia ketus. Tapi itu cara dia menunjukkan perhatiannya kepadaku. Aku juga tertawa ketika…
“Akhir-akhir ini gue jarang liat lo makan.”
“Gue ga punya makanan.”
“Gue kasih. Mau apa?”
“Gak ah. Gue males makan.”
“Kenapa? Lo takut gendut?”
“Diem lo.”
“Ga usah diet ! Lo tetep cantik ko. Gue tetep suka lo, meski gendut dan pendek.”
Jleb -_-
Dan kata terakhir yang membuatku teringat akan kekecewaan itu adalah “Terlalu lama. Aku bosan.” Kata-kata terakhir yang ada pada messages itu.
Aku bingung. Sejak saat itu, saat aku memintamu untuk menunggu. Kamu tidak pernah mengatakan apapun lagi kepadaku. Lama-kelamaan sikap manismu pun hilang. Bahkan seringkali kamu menunjukkan sikap yang tak aku sukai. Kamu sakit hati ? Apa kamu ingin aku merasakan sakit hati juga ? Bicaralah. Aku tak akan mengerti jelas jika kamu hanya terus bersikap aneh, memberontak, menghakimi. Apa ada seseorang yang baru ? Tapi aku yakin saat itu bahwa kamu bukan tipikal orang yang mudah berpaling. Tatapan itu meyakinkan.
Aku heran. Rasanya sulit sekali pintu ini terbuka ketika orang lain yang mengetuk. Tapi, dengan kamu.. pintu ini bagaikan kisi membiaskan cahaya. Apa kamu juga begitu ? Lalu bagaimana dengan hubungan kita ?
Tok.. Tok.. Tok.. Ibu mengetuk pintu kamarku dan tanpa dipersilahkan pintunya sudah terbuka. Ibu bilang ada tamu yang datang untukku, ku pikir Karin tapi Ibu bilang ia seorang pria. Ibu sengaja membuatku merasa penasaran dengan tidak menyebutkan namanya. Padahal aku yakin Ibu pasti tahu. Aku bergegas keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan rasa penasaran dan sejenak berusaha melupakan lamunan-lamunanku tadi. Aku heran, hari ini aku sering sekali melamun, melamunkan orang yang sama. Dia mengikuti alam pikiranku dalam bayangan semu.
Akhirnya aku mendarat tepat di ruang tamu. Aku melihat siapa yang ada dihadapanku. Tersentak aku kaget. Itu dia.

Tidak ada komentar:

@way2themes