Hujan di pagi hari ini begitu deras.
Mengingatkanku akan dirinya yang dulu. Dulu saat kita masih berteman baik. Aku
masih duduk termangu di atas sofa empuk di kamarku sambil memperhatikan liontin
yang sedang berada dalam genggamanku. Hingga tiba-tiba saja bayangannya hadir
terlihat dari pelupuk mata ini. Dan hanya aku yang dapat merasakannya.
Lembut belaian kasihmu takkan
terganti. Aku ingat. Saat kamu hendak mengantarku pulang, menumpangi motor
kesayanganmu, padahal sore itu hujan turun dengan derasnya. Dan padahal diluar
sana masih banyak supir angkutan umum yang akan bersedia memberhentikan
mobilnya untuk aku tumpangi. Entah mengapa aku pun lebih memilih bersama
denganmu di bawah langit yang menangis. Tiba-tiba kau lepaskan jaketmu lalu
memberikannya untukku, aku menolak, karena aku tidak perlu mendouble jaketku dan aku tahu kamu pasti
kedinginan. Tapi kamu masih saja memaksa hingga akhirnya aku menyerah dengan
tatapan itu. Sejujurnya aku tak tega mengenakan dua jaket ini untuk melindungi
tubuhku dari tangisan hujan, sedangkan kamu melawan cipratan air dan hembusan
angin itu hanya dengan sehelai kain seragam yang tebalnya tak melebihi 0,01
inch. Aku heran, padahal hujan masih saja belum berhenti, tetapi aku sudah bisa
melihat pelangi itu terbentuk. Pelangi yang indah. Di matamu. Lalu ketika motor
yang ku tumpangi telah mendarat tepat di depan rumahku, kamu tidak langsung
pergi begitu saja, kamu menunggu sampai langit berhenti menangis. Entah itu modus
atau…
Lamunanku terpecah seketika aku
dikagetkan oleh bunyi dering handphoneku.
Nyaris saja aku hanyut dalam nostalgia cerita SMA-ku yang begitu konyol dan
rasanya wajar jika aku masih saja mengingatnya.
6 Messages Received
2 Missed Call
Terbaca jelas di layar handphoneku. Enam pesan itu berasal dari
pengirim yang sama.
“Hari ini jadi kan lo bantuin gue? Gue
jemput jam 8 ya?”
“Bales deh plis!”
“Lo lagi ngapain sih Je? Angkat
telpon gue!!”
Isi pesan itu berulang-ulang. Nampaknya
sahabatku yang satu ini sudah tak sabar menunggu balasan sms dariku. Aku bergegas
mengetik balasan sms untuknya sebelum terlambat. Sebelum ia murka. Ting..
Tong.. tepat saat jempolku mendarat diatas tombol Send bel rumahku berbunyi tanda ada orang yang datang. Aku segera menuju
ke pintu yang tak asing lagi dan segera menyambut hangat orang yang datang dari
balik pintu itu. Ternyata dugaanku benar, Karin telah ada di hadapanku
sekarang. Tentu dengan raut wajah yang kesal, dan aku hanya membalasnya dengan
senyuman ringan.
Tak lama kemudian hujan pun reda dan kami
langsung menuju ke mobil Karin. Aku pasrah saja mengikuti kemana ia pergi. Yang
jelas hari ini ia memintaku untuk membantunya mensukseskan acara surprise di hari ulang tahun pacarnya
ini. Untuk menebus rasa bersalahku tadi, akhirnya aku bersedia mengikutinya
tanpa banyak berkomentar. Padahal hari ini rasanya aku ingin bersantai saja di
rumah bersama tempat tidur dan bantal kesayangan.
Perjalanan yang cukup lama ini membiarkanku
terbang melayang - layang bersamanya dalam ingatan. Kamu lagi. Aku mengingatnya.
Hari itu hari ulang tahunmu, hari paling special sepanjang sejarah dalam
hidupmu. Dan aku igin mewujudkan hal itu. Aku ingin memberikan hal teristimewa
untukmu. Akhirnya kejutan itu pun berhasil aku berikan untukmu. Tak lupa aku
pun memberikan sebuah kado yang dengan susah payah aku memikirkannya, kado apa
yang pas untukmu. Aku senang sekali ketika melihat sorot matamu memancarkan
rasa bahagia. Namun, rasanya ada yang berbeda. Ternyata… aku melihat sorot
matamu memancarkan kebahagiaan ketika ada seseorang yang mengucapkan ‘Selamat
Ulang Tahun’ untukmu. Hanya mengucapkan ‘Selamat Ulang Tahun’. Aku melihatmu
yang senang bukan kepalang mendapat ucapan itu darinya. Dia mungkin seseorang
yang baru. Jika aku tahu itu dari awal, mungkin aku tak perlu susah payah
mencari kado yang pas untukmu dan merencanakan kejutan untukmu, cukup saja aku
meminta kepada gadis itu untuk mengucapkan ‘Selamat Ulang Tahun’ kepadamu tepat
pada pukul 12 malam. Mungkin kamu akan jauh lebih senang.
Aku tersadar ketika tiba-tiba tubuhku
terdorong ke depan karena terguncang oleh pengereman yang mendadak. “Zeinaaa lo
dengerin gue gak sih?” gerutu Karin dengan nada khasnya. Tanpa sadar ternyata
sepanjang jalan tadi dia bercerita kepadaku, mungkin dengan maksud mengajak
bicara, tapi nyatanya tak ada respon sama sekali. Lagi-lagi dia kesal padaku. Namun
aku berhasil membuatnya tertawa dengan lelucon-lelucon yang ku lontarkan.
Misi telah berhasil dilaksanakan. Akhirnya Karin
merasa lega dengan usahanya yang berbuah hasil terbaik. Karin telah asyik
dengan dunianya yang seolah hanya dihuni oleh dirinya dan Andre pacarnya. Aku merasa
menjadi kambing yang tuli. Aku meninggalkan mereka berdua, meski pandangaku
masih bisa jelas melihat mereka, setidaknya aku tidak bisa menguping apa yang
sedang mereka bicarakan.
Aku duduk terbaring diatas tempat duduk di
teras balkon sambil menengadahkan wajahku ke arah langit biru yang indah. Lalu memejamkan
mata, rasanya begitu tenang. Tetapi sesekali terdengar di telingaku suara canda
tawa Karin dan Andre. Hal itu membuatku teringat tentang dirinya. Lagi.
Lucu. Aku jadi ingat kapan pertama kali aku
merasaka kenyamanan itu. Merasa nyaman saat ada di dekatmu. Sampai pada suatu
saat kamu mengatakannya. Kamu bilang kamu sayang padaku lebih dari sekedar
teman. Aku pikir kamu bercanda. Karena memang seringkali kita bicara dalam
konteks candaan. Tapi kamu selalu mengatakan “Apa ini kelihatan bercanda?” aku
jawab dalam hati “Sejujurnya, sama sekali tidak.” Seringkali aku menggunakan
ikatan batinku ketika menjawab pertanyaanmu yang sulit untuk aku ungkapkan.
Saat itu aku hanya bisa merasakan
kebingungan. Kamu meminta jawaban. Dan aku hanya bisa memintamu untuk menunggu.
Ada banyak alasan yang membuatku seperti itu. Bahkan bukan karena aku tak
sayang. Tapi aku yakin kamu tak akan pernah mengerti. Karena aku tahu kamu
paling tidak suka menunggu. Maka dari itu, aku ingin tahu seberapa besar
sabarmu untukku? Seberapa setiakah kamu? Aku ingin kamu meyakinkanku. Aku tak
semudah itu percaya sepenuhnya terhadap seseorang hanya atas kata-kata yang ia
ungkapkan.
Aku bingung, sebenarnya apa yang aku sukai
dari dirimu. Kamu bukan laki-laki yang bisa merangkai kata-kata mutiara indah
di setiap bait puisi, kamu bukan penyanyi handal yang mengeluarkan suara
merdunya special untukku, kamu juga bukan pemain gitar yang keren yang di
setiap petikan nadanya tertuju special hanya untukku, kamu juga bukan orang
pintar yang bisa menguasai semua pelajaran, bahkan tak sedikit orang yang tak
suka dengan salah satu sifatmu, termasuk aku. Aku heran. Kamu itu… hanya kamu.
Tak terasa ternyata aku telah tertidur di
teras balkon rumah Karin. Ku lihat jam tangan menunjukkan waktu dimana aku
harus segera pulang.
Ku lemparkan tubuh yang lemas ini ke atas
tempat tidurku. Rasanya nyaman sekali. Seketika mataku tertuju pada benda
berbentuk persegi panjang di atas meja belajarku. Tiba-tiba saja tersirat di
benakku untuk membuka laptop itu dan menyambungkannya dengan internet. Aku mengetik
email dan passwordku di kolom sign in
di salah satu media sosial ternama. Sudah lama aku tak melakukan hal ini. Ku membuka
bagian messages, luar biasa kamu
menduduki peringkat pertama sebagai akun yang paling banyak bertukar messages denganku. Kamu laki-laki yang simpel.
Bukan tipe cowok yang suka bertele-tele merangkai kata mutiara untuk seorang
wanita. Singkat, padat, dan kadang tidak jelas, suka setengah-setengah, ketus,
dan mungkin masih banyak yang dapat aku simpulkan dari sikapmu. Sikapmu yang
seringkali membuat aku merasa jengkel, bukan, tapi… geregetan, ya mungkin
semacam itulah istilahnya. Aku baca satu-persatu isi pesan itu, sesekali aku
tersenyum malu, sesekali aku tertawa, namun sesekali aku juga menyimpan raut
sedih pada wajahku. Aku tersenyum ketika membaca…
“Cepat tidur! Jangan begadang!” dia bilang
“Lo juga begadang.” Aku bilang
“Kalau gue ya biarin.”
“Kok gitu?”
“Karena gue ga akan sakit kaya lo. Cepet sana”
Tuh kan dia ketus. Tapi itu cara dia
menunjukkan perhatiannya kepadaku. Aku juga tertawa ketika…
“Akhir-akhir ini gue jarang liat lo makan.”
“Gue ga punya makanan.”
“Gue kasih. Mau apa?”
“Gak ah. Gue males makan.”
“Kenapa? Lo takut gendut?”
“Diem lo.”
“Ga usah diet ! Lo tetep cantik ko. Gue tetep
suka lo, meski gendut dan pendek.”
Jleb -_-
Dan kata terakhir yang membuatku teringat
akan kekecewaan itu adalah “Terlalu lama. Aku bosan.” Kata-kata terakhir yang
ada pada messages itu.
Aku bingung. Sejak saat itu, saat aku
memintamu untuk menunggu. Kamu tidak pernah mengatakan apapun lagi kepadaku. Lama-kelamaan
sikap manismu pun hilang. Bahkan seringkali kamu menunjukkan sikap yang tak aku
sukai. Kamu sakit hati ? Apa kamu ingin aku merasakan sakit hati juga ?
Bicaralah. Aku tak akan mengerti jelas jika kamu hanya terus bersikap aneh,
memberontak, menghakimi. Apa ada seseorang yang baru ? Tapi aku yakin saat itu
bahwa kamu bukan tipikal orang yang mudah berpaling. Tatapan itu meyakinkan.
Aku heran. Rasanya sulit sekali pintu ini terbuka
ketika orang lain yang mengetuk. Tapi, dengan kamu.. pintu ini bagaikan kisi
membiaskan cahaya. Apa kamu juga begitu ? Lalu bagaimana dengan hubungan kita ?
Tok.. Tok.. Tok.. Ibu mengetuk pintu
kamarku dan tanpa dipersilahkan pintunya sudah terbuka. Ibu bilang ada tamu
yang datang untukku, ku pikir Karin tapi Ibu bilang ia seorang pria. Ibu sengaja
membuatku merasa penasaran dengan tidak menyebutkan namanya. Padahal aku yakin
Ibu pasti tahu. Aku bergegas keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan rasa
penasaran dan sejenak berusaha melupakan lamunan-lamunanku tadi. Aku heran,
hari ini aku sering sekali melamun, melamunkan orang yang sama. Dia mengikuti
alam pikiranku dalam bayangan semu.
Akhirnya aku mendarat tepat di ruang tamu. Aku
melihat siapa yang ada dihadapanku. Tersentak aku kaget. Itu dia.

Tidak ada komentar: