Bertemu Denganmu (?) Mimpi. (@ohohmario) - Semburat Sastra

Rabu, 28 Mei 2014

Bertemu Denganmu (?) Mimpi. (@ohohmario)


“Well doneeeee!” Berakhirlah mimpi – mimpi burukku, tidak enaknya makanan yang kumakan, dikejar deadline juga dihantui dosen pembimbing dan penguji. Aku telah melewati masa – masa akhir perjuangan meraih strata satu di kampusku, dua jam yang lalu aku telah berhasil melahap enak semua pertanyaan dosen penguji atas skripsiku. Ya, hari sidang itu tiba dan kini telah berhasil aku lewati dengan indah sebanding dengan apa yang telah aku perjuangkan selama ini. Tinggal menunggu hari dimana aku memakai kebaya dan jubah hitam lengkap dengan toganya.
“Hari wisuda nanti mau ngajak siapa?” tanya Dita dengan maksud tertentu, menurutku.
“Ya ajak orang tua, kakak, sama temen – temen gue yang pengen dateng lah.”
“Temen doang?” tanyanya yang semakin membuatku yakin bahwa ia hanya ingin menggodaku.
“Heemm.. Mulai deh ya. Apaan sih, Dit. Liat aja ntar ya seseorang pasti bakal datang dalam hidup gue.”
“Iya, iya, canda kok. Haha, serius amat.”
Kami kembali pada dunia masing – masing. Dita masih belum lega dengan masa sidangnya karena dosen pengujinya hilang satu. Bukan ditelan bumi, namun hanya saja beliau dikabarkan sakit dan terpaksa harus menundanya sampai besok. Anehnya, kenapa beliau bisa tahu bahwa besok ia akan sembuh. Tapi itu tidak perlu repot aku pikirkan, yang harus kupikirkan sekarang adalah bagaimana perjalananku selanjutnya.
Piring bulat yang dipenuhi dengan potongan tahu dan kupat lengkap dilumuri oleh bumbu khasnya telah mendarat di depanku sejak lima menit yang lalu. Aku sibuk membalas sms, bbm, dan media komunikasi lainnya dari teman-temanku yang menanyakan kabar kesuksesan sidangku, termasuk ibu. Kubalas spesial pada ibu, namun pada yang lainnya aku hanya membalas dengan kalimat yang dicopy-paste. Karena melihat lalat yang nampaknya mulai berterbangan mendekati makananku, akhirnya kutinggalkan pesan – pesan itu dan segera melahap makanan yang sedari tadi kubiarkan.
“Win, udah ini lo mau kemana?” Dita yang ada di depanku memulai percakapannya.
“Mau pulang.”
“Yaelah, serius. Maksudnya lo udah punya persiapan kerja atau mau lanjut S-2?”
“Haha ya elonya yang gak jelas pertanyaannya. Gak tau nih, belum yakin juga,” jawabku ragu.
“Pengennya sih gue lanjut S-2…” sambungku.
            Sebenarnya sejak SMA aku telah berniat untuk melanjutkan studiku sampai S-3, namun tentunya harus melalui beasiswa. Tak mungkin aku membiarkan rambut kedua orangtuaku menjadi rontok karena memikirkan biaya studiku yang pastinya lebih mahal dibandingkan studi S-1. Mimpiku juga tak kalah, keinginanku sangat besar untuk bisa melanjutkan studi ke luar negeri.
“Jadi diem-diem lo udah daftar beasiswa ke luar negeri??” matanya yang agak sipit menjadi bulat nyaris keluar.
Tak bisa aku melupakan respon sahabatku yang begitu kaget ketika aku bercerita bahwa diam – diam aku sudah mendaftarkan diri untuk ikut seleksi beasiswa luar negeri yang kudengar dari dosen waliku.
Tak perlu tanggung – tanggung, bermimpi hanya untuk bisa dibalas tweet oleh pemilik akun @ohohmario, tetapi cobalah bermimpi untuk bisa bertemu dan bersanding dengannya. Begitu juga dengan cita – cita, jangan hanya bermimpi untuk bisa meraih beasiswa di universitas terbaik di Indonesia, tetapi bermimpilah untuk bisa berada di universitas terbaik di dunia.
Mimpi. Mimpilah setinggi langit, setidaknya ketika kau jatuh, kau masih bisa tersangkut di menara atau pohon.
“Orang tua lo emangnya bakalan setuju?” tanyanya sedikit ragu.
“Gue yakin, kalo gue udah berhasil dapetin beasiswa itu, orang tua gue juga gak akan mungkin ngelarang kok. Mereka juga pasti bangga.”
Boleh kan, kali ini aku menentukan pilihanku sendiri. Dulu aku sudah mengalah pada Mama, Papa, dan Kakak untuk tetap tinggal dan melanjutkan studi di kota kelahiranku ini dengan jurusan pilihan kalian. Dan membuang jauh impian – impianku. Sekarang, tolong beri aku kesempatan..
Tak pernah aku merasa ragu untuk melakukan sesuatu yang kelak memang itu akan menjadikanku lebih baik. Aku belajar keras untuk bisa lolos mendapatkan beasiswa itu. Meski aku masih ragu negara mana yang harus kupilih. Pak Royo, dosenku mengatakan bahwa ada tiga negara yang sudah pasti menyalurkan program beasiswanya -Jepang, Jerman, Korea-. Dan tambahan darinya yang mengejutkan, Thailand! Tapi beliau bilang itu masih belum pasti.
***
“Ya ampun ada ya makhluk kayak gini,” ucapku sembari tak henti memandangi layar laptop yang sedang memutar salah satu film remaja Thailand. Aku benar – benar terpesona dengan wajah tampan dan senyum manis yang ada pada lelaki Thailand-Jerman ini. Ia memerankan seorang cowok cool yang memiliki sejuta aksi tak terduga untuk meluluhkan hati gadis yang ia cintai. Gadis hitam jelek kuper yang berevolusi menjadi putih cantik dan lebih trendi. Cinta bisa mengubah segalanya. Andai itu ada dalam kenyataan, terutama dalam hidupku. Ya Tuhan…
Jarang sekali aku menyukai film bernuansa romance, aku lebih menyukai film – film horor atau action yang penuh teka-teki. Baru kali ini juga aku menyukai aktor dari Asia. Berbeda dengan teman-temanku yang begitu tergila-gila dengan aktor-aktor tampan Asia, khususnya Korea. Entah siapa nama – namanya pun aku lupa, terlalu rumit untuk diingat. Tidak seperti yang satu ini, Mario Maurer. Namanya begitu mudah kuingat sejak pertama kali aku mendapati nama asli dan biodatanya dari beberapa situs di internet.
“Udah jangan dipelototin mulu. Dosa loh. Haha..” tegur Dita yang berhasil mengedipkan mataku yang sedari tadi sukses tak berkedip sekalipun. Sesekali aku anteng mengcapture screen setiap wajah close-upnya pada film – film yang telah ku-download.
“Dia seumur sama kakak gue loh, Dit! Gimana ya?” ucapku spontan ketika melihat biodata yang berisi tanggal lahirnya, selisih lima tahun denganku.
“Gimana apanya?”
“Ya gimana kalo dia keburu nikah sama orang lain waktu gue lulus kuliah nanti?”
“Bhuahahahah,” tawanya memecah keheningan malam. Dita benar – benar menertawakan pertanyaanku yang padahal sama sekali aku tidak ingin membuatnya tertawa atau sengaja menghiburnya.
“Tenang aja, Win. Kalo jodoh gak akan kemana.” jawabnya sambil mengelus kepalaku. Jawaban yang terdengar bijak namun dengan intonasi yang seolah mengejek.
Sebenarnya malam itu ia sengaja berpindah tidur dari rumahnya ke kamarku untuk belajar bersama. Esoknya akan ada ulangan bahasa Jerman! Kenapa bahasa asing yang kami pelajari harus Jerman? Padahal Thailand kan lebih keren dan menantang. Menantang untuk dipelajari karena tulisannya yang terlihat sama rumitnya dengan huruf Jepang yang sering aku lihat pada komik Jepang online. Juga.. agar aku tidak kerepotan untuk berbincang dengan Kak Mario bila suatu saat nanti takdir mempertemukan kita. Mungkin alasan yang kedua lebih tepat dibanding alasanku yang pertama.
Tak ada yang tidak mungkin memang, selama kita masih ada di dunia yang sama. Kulihat kabarnya di media, ia pernah datang ke Indonesia dua kali. Yang kedua karena menghadiri acara talkshow sebuah film yang dimainkannya. Dan yang pertama, alasan yang masih belum aku percaya sekaligus agak iri adalah dia datang kesini hanya karena untuk menghadiri undangan acara ulang tahun salah seorang cewek penggemarnya. Entah dibayar berapa. Oh.. yang jelas itu tetap sangat membuat iri para penggemar lainnya, termasuk aku.
Masa putih abu – abu itu kini telah berlalu, bahkan sampai puluhan film lain telah kuputar dan kutonton bersama teman – teman kampusku. Tetap saja Mario Maurer menjadi favoritku. Aktor yang tak akan pernah aku temui secara langsung, itu kata teman – temanku, bukan kataku.
Berbulan – bulan kemarin aku memang sempat melupakan dia. Jadwal target – targetku sementara telah berhasil menyingkirkan tempelan foto Kak Mario dari pandanganku. Hapalan teori – teori skripsiku juga tak kalah semangatnya menggantikan posisi Kak Mario di dalam setiap mimpiku. Aku juga telah lama tidak mencari tahu berita tentang dirinya di internet.
Wisuda telah terlaksana. Ijazah dengan indeks prestasi memuaskan juga lengkap dengan gelar dibelakang namaku telah kuterima.
Sekarang aku kembali mengingatnya karena baru saja tadi ia mengingatkanku. Ia datang ke mimpiku. Sebelumnya aku telah berdoa kepada Sang Maha Pemberi Hati, pertemukanlah aku dengan jodohku. Apa itu ada hubungannya? Hah.. Aku bukan anak SMA lagi, bukan anak putih abu yang bisa selalu berkhayal tinggi tanpa mengingat secara realistis. Semakin dewasa aku semakin tahu bagaimana sebenarnya hidup. Terlalu sempit jika aku hanya memikirkan keinginanku yang terlalu berlebihan. Ya, mungkin berharap bisa bertemu dengan aktor luar negeri tidak terlalu berlebihan, namun berharap bahwa ia adalah jodohku, itu yang sangat berlebihan. Haha. Lagi pula belum tentu sifat aslinya sama baik seperti dalam film – film fiksi yang kutonton itu.
***
“Udah dipikirin mau milih kemana?”
“Udah dong!” jawabku meyakinkan.
“Kemana?”
“Thailand,” jawabku mantap. Namun ternyata sukses membuat Dita sedikit menyemburkan air minuman dari mulutnya.
“Hahaha, jangan bilang lo ke Thailand karena biar bisa ketemu Mario Maurer!”
“Ih pinter banget sih, lo bisa baca pikiran gue ya?” responku yang seolah tak memperdulikan lagi ejekannya.
“Kenapa lo gak milih Korea aja? Ntar gue nitip salam buat Lee Min Hoo.”
Percakapan bersama satu sahabatku yang selalu diselingi canda tawa itu berakhir ketika aku telah dipanggil oleh Pak Royo.
Dua minggu berlalu. Kudapati kabar gembira, entah gembira atau sedikit sedih. Aku berhasil mendapatkan beasiswa! S-2 lengkap dengan S-3nya. Alhamdulillah.. Tak henti aku bersyukur. Meski memang impian ke Thailand berakhir begitu saja.. Padahal satu bulan ini aku telah mencoba mempelajari bahasa Thailand dan sedikit membaca – baca tentang keadaan disana. Namun, jauh hari Pak Royo telah memberi kabar bahwa beasiswa Thailand ternyata tidak ada, aku bisa saja tetap melanjutkan studi kesana tetapi dengan menanggung segala biayanya sendiri. Mana mungkin. Akhirnya, aku memilih Jerman. Holy Roman Empire yang terkenal dengan katredal tertinggi di Ulm ini tentu lebih jauh dibandingkan dengan kota kelahiran Mario yang masih ada di wilayah Asia sama dengan negaraku.
Dan takdir akan segera membawaku untuk sampai ke Negeri museum roti itu. Rasanya memang tak mudah. Takut, gerogi, sedih, senang berkecamuk menjadi satu rasa yang tak dapat kudefinisikan. Jangankan ke luar negeri, ke luar kota pun hanya tiga kali aku pergi sendiri selebihnya selalu ada yang menemani, ke luar pulau juga aku belum pernah.
Dengan mengandalkan kemampuan bahasa Inggris dan sedikit bahasa Jerman yang pernah kupelajari dulu di bangku SMA, aku akan segera terbang mengangkasa ke negeri itu. Namun beruntung ternyata ada beberapa bulan yang disediakan untuk para calon mahasiswa pemenang beasiswa dari negaraku untuk mempelajari bahasa Jerman. Guna memudahkan kami dalam menjalani studi disana. Mario Maurer kembali sedikit tersingkirkan dengan kesibukanku dan kefokusanku untuk menempuh jalan baru.
***
Udara yang tak jauh berbeda dengan tanah airku. Namun agak sedikit lebih panas, jelas ini dekat dengan pantai. Satu semester telah kulalui disini, mulai hari ini aku akan sedikit melakukan refreshing bersama teman – temanku. Pantai Dunen, Cuxhaven yang tak begitu jauh dari Hamburg tempatku mengemban ilmu. Andai 10 Euro cukup membuat aku sampai ke rumahku tercinta dan kembali kesini, aku pasti akan lebih memilih untuk menghabiskan seluruh waktu liburku untuk pulang kampung. Keadaan berbeda, namun tak ada salahnya juga apabila aku menikmati pelanconganku selama di negeri ini.
Rasanya ingin kulempar jauh handphone datar yang sedang ada pada genggamanku ini. Namun setelah kupikir lagi, mana mungkin aku membuangnya sedangkan aku telah susah payah menabung untuk bisa membelinya. Namanya terpampang jelas di deretan situs yang muncul di layar datar ini dengan tema hot news, ia dikabarkan akan segera menikah dengan seorang Thai-China yang bukan aktris rupanya. Tapi Mario tak pernah berkata banyak dan merespon pertanyaan – pertanyaan dari para wartawan yang jelas super kepo itu. Apa benar ia akan segera menikah? Sedih sekali rasanya. Meski aku tahu, itu tetap tidak akan berpengaruh untukku. Sudah atau belumnya ia menikah dengan wanita itu tidak akan berpengaruh terhadap jalan hidupku.
Pikiran konyol lagi – lagi datang menghantui. “Dia lagi apa ya disana? Andai gue bisa pergi ke negaranya.” gumamku tak sadar. Apa iya dua ikan cupangku ini tidak akan pernah bisa mendarat di tangannya?
“Pasti dia lagi mikirin calon his beautiful wifenya itu,” jawabnya asal. Kirey teman dekatku semenjak kami menginjakkan kaki bersama di negeri ini.
“Merusak suasana aja lu,” balasku sembari melemparkan kerikil kecil ke arahnya.
“Hahaha.” Ia banyak memiliki kemiripan dengan Dita, sahabat yang sangat kurindukan.
Aku dan Kirey asik saja bersenda gurau juga sesekali mengabadikan foto diatas tikar yang dipasang dekat pesisir pantai, sementara yang lainnya bermain air dan juga voli.
Nafas bumi yang berhembus sesekali membuat helai kain penutup rambutku bergerak tertiup. Matahari belum begitu mengeluarkan tenaganya untuk membakar kulit kami.
“Win, win, liat deh itu cowok kayaknya moto – moto ke arah sini mulu,” ucap Kirey memberitahu.
“Mana, mana?” jawabku segera menoleh ke arah jari Kirey menunjuk, arah belakangku. Tak kudapati seseorang yang sedang memotret disana. Hanya ada pohon dengan daun - daunnya yang sesekali jatuh tertiup angin, juga orang – orang yang sedang berusaha menyoklatkan kulitnya.
“Yah… Udah pergi dia,” sambungnya cepat saat aku menoleh mencari – cari orang yang dimaksud Kirey itu.
“Yah lo kegeeran aja kali, siapa tahu kebetulan aja pas lo liat ke arah dia, dia lagi motret ke arah sini,” pernyataanku yang jelas - jelas sepertinya tidak diterima oleh Kirey.
Sebenarnya aku agak penasaran juga dengan orang yang dimaksud oleh sahabatku itu, namun segera aku buang jauh rasa penasaran itu karena aku harus segera kembali ke penginapan. Kami menginap di tempat yang tidak begitu mahal, ya biaya yang standar untuk mahasiswa seperti kami. Temanku tidak hanya orang se-Negara saja, ada juga dari Malaysia, Singapore, Jerman asli, juga masih banyak yang lainnya. Tidak mudah memang hidup di negeri orang, namun kecemasan itu sirna ketika kita ingat bahwa kita tak sendiri disini. Dan bagaimana perjuangan kita untuk bisa meraih cita – cita sampai harus berada di tempat ini.
Malam yang justru terasa panas ini membuatku tak bisa dan tak ingin tidur. Kuputuskan untuk bergegas ke luar hanya sekedar untuk mencari angin dan melepas kegerahanku. Malam yang tak ramai tanpa Kirey menemaniku, ia sedang sibuk dengan mimpinya yang benar – benar tak bisa kubuyarkan. Temanku yang lainnya pun terlihat sangat pulas, mungkin mereka terlalu lelah karena tak hentinya bermain di bawah sinar matahari dari matahari bertugas hingga kembali bersembunyi untuk mengganti tugasnya dengan bulan. Bulan yang nampak bulat sempurna lengkap dihiasi bintang – bintang yang sedang terpantul pada kedua kornea mataku sekarang.
 Beberapa kali aku mengusap-usapkan telapak tangan kananku ke telapak tangan kiriku, begitu pun sebaliknya. Ternyata di luar hembusan angin dingin menjadi lebih terasa keberadaannya dibandingkan dengan di kamar penginapanku tadi. Sekelebat bayangan orang terlihat dari ujung mata kananku. Ketika aku menoleh, hanya ada seseorang kudapati sedang berjalan menuju ke lantai bawah. Dari balik punggungnya aku memandangnya jauh sampai lenyap ditelan kegelapan. Laki – laki tinggi tegap nampaknya. Apa ia begitu kedinginan sampai harus memakai jaket hitam setebal itu? Aneh.
***
Empat hari sudah aku menikmati liburanku disini. Semenjak malam itu, aku jadi sering bertemu dengan sosok lelaki misterius ini. Kupikir ia orang jahat yang sengaja mencari mangsa di tengah hari liburan seperti ini, namun nyatanya tidak. Kesimpulan sementaraku itu hadir saat aku sempat bertegur sapa dengannya.
“Kirey pergi gak bilang – bilang ah!” gerutuku tanpa ada yang mendengar. Kekesalanku membuat aku berbalik badan tak terkontrol dan menabrak seseorang. Seperti adegan yang kulihat di filmnya saat ia memegang erat tangan gadis yang mencintainya nyaris jatuh dari panggung. Bedanya, ini bukan orang yang kukenal dan kami tidak sedang berada di atas panggung. Sempat aku memandang kedua mata coklatnya, ya ampun!
“You’re almost fall to break your neck!” ucapan dan suara yang rasanya pernah kudengar. Aku segera melepaskan tangannya dan berdiri tegak.
“I’m sorry..” jawabku gugup. Gugup sekali.
Meski ia selalu mengenakan pakaian yang begitu tertutup hingga wajahnya pun tak dapat kulihat, aku bisa merasakan dan yakin bahwa ada sinar wajah terang dibalik pakaian gelapnya. Yaa meski sebenarnya aku pun pernah menyimpan kecurigaan tentang adanya wajah seram dibalik kain seperti masker penutup wajahnya itu.
Tidak terlalu sulit untuk aku berkomunikasi dengannya, ia menggunakan bahasa Inggris yang hampir sembilan puluh persen mudah untuk aku mengerti. Jarang ia menggunakan bahasa Jerman, sepertinya ia menghargaiku yang datang dari Asia. Belum banyak yang kami ceritakan tentang riwayat masing – masing. Aku pun memang tak mudah percaya untuk menceritakan segala hal tentangku pada orang asing yang belum jelas dari mana asal-usulnya. Tetapi bicara dengannya cukup mengasikkan. Ia keturunan Jerman, namun tidak menetap disini katanya. Ia hanya ingin mencari angin segar dan melepas penat dari pekerjaannya untuk sementara disini. Aku juga sempat menceritakan padanya tentang diriku yang telah begitu mengagumi dan jatuh hati pada seorang aktor Asia, hingga impianku untuk pergi ke Thailand yang terbuang dan terlempar kesini.
Pagi yang cerah. Berawal dari candaan yang entah konyol atau tidak hingga aku dan Kirey saling melempar bantal. Melempar selimut lengkap dengan gulingnya dan segala apa yang bisa dilempar. Tertawa lepas hingga kami kejar – kejaran dan tak tersadar aku telah beranjak keluar pintu kamar dengan kostum pakaian tidur yang kusut, namun tetap rambutku tertutup.
Mulutku seketika menganga dan mataku membulat sempurna nyaris keluar dari tempatnya. Kudapati seorang pria yang juga berlari dari dalam pintu sebelah kamarku yang entah apa alasannya. Rasanya hampir pingsan. Aku benar – benar kaget. Mengucek mata dan menelan air ludahku sendiri memastikan bahwa aku telah bangun dari mimpiku atau hanya sedang melindur. Ia hanya menempatkan telunjuk rampingnya di depan bibir manisnya seolah mengisyaratkanku untuk tetap diam membisu, tak berucap apalagi berteriak. Sebenarnya ia juga tak kalah kagetnya denganku, terlihat dari mimik wajahnya yang jelas panik.
Dia. Dia. Dia yang selama ini sering hadir di mimpiku. Mario.. Maurer!! ><
Kamu tak lagi menjadi bayangan semu yang tak bisa kutangkap, kini kamu terpampang nyata terpantul indah pada kedua kornea hitamku.
Pemilik mata coklat yang memegang erat tanganku ketika hampir jatuh itu ternyata dia. Orang yang selama ini membuat aku dianggap gila oleh teman – teman. Aaaa…. Senangnya bukan kepalang, entah apa yang harus kulakukan. Yang jelas ia memintaku untuk tidak menceritakan keberadaannya pada siapa – siapa.
“I haven’t got married. She’s leaved me… I just want to forget all my problems that I have,” jelasnya meyakinkan.
Ternyata gosip yang kubaca di media sosial itu memang hanya benar gosip. Kak Mario belum menikah dengan siapa pun. Meski kabar itu memang salah, tapi hubungan Kak Mario dengan wanita itu sedikit ada benarnya. Wanita itu pacarnya, lebih tepatnya sekarang adalah mantan, mereka hampir saja bertunangan. Namun wanita itu malah pergi meninggalkan Kak Mario dan hanya menyisakan luka. Bodoh sekali, pikirku. Bodoh karena wanita itu telah menyia-nyiakan lelaki yang mencintainya. Dan bodoh karena Kak Mario tak memilihku, eh maksudku ia telah memilih wanita yang salah untuk dicintai.
Kini sudah dua minggu Kak Mario sengaja berdiam lama di tempat kelahiran ayahnya ini untuk melupakan semua kenangan pahit itu sekaligus menghindar dari kejaran para wartawan yang selalu mengganggunya setiap waktu. Situs itu tak berbohong, benar adanya bahwa ia memang memiliki sifat yang begitu humble. Buktinya ia mau menerima keberadaanku, sebagai temannya, penggemarnya, pendengar setianya, atau entahlah.
***
Kotak surat tak sering aku buka. Benar saja isinya pasti hanya selebaran – selebaran promosi bimbingan belajar atau kompetisi yang sama sekali tak kuminati, atau juga surat – surat yang berisi tagihan. Ya tak semua yang kunikmati disini adalah free.
Tiga semester telah kulalui. Kenangan manis yang berakhir hambar itu masih terngiang dalam ingatanku. Meski sesekali bisa terlupakan oleh kesibukkan dan kepadatan jadwalku.
Berbulan – bulan yang lalu aku merasa telah begitu dekat dan mengenalnya. Hamburg-Bremerhaven-Cuxhaven tak hanya kulewati sekali. Namun, aku tidak mengharapkan apapun pada nyatanya. Aku cukup sadar diri saat itu, di matanya aku hanyalah seorang penggemar yang mempunyai satu rahasianya. Mungkin ia sengaja berbuat baik padaku juga dengan maksud agar aku senantiasa bersedia menyimpan rapi rahasianya itu dari media. Ia menghilang begitu saja. Padahal pagi itu, aku sempat menyimpan di depan pintu kamarnya sebuah aquarium kecil berisi dua ikan cupang yang telah kurawat hingga cukup besar untuk sengaja kuberikan padanya. Aku kembali ke Hamburg tanpa ada ucap kata perpisahan. Hanya sebuah tulisan yang kutinggalkan,
“Thanks for all this time. I’m so happy.
Think of me as your friend, not just as your fan.”
“Win, liburan ini kita mau kemana nih? Cuxhaven lagi yuk?” tanya Kirey yang begitu antusias ketika melihat website dari salah satu tempat penginapan disana yang sedang memberikan harga promosi cukup lumayan.
“Nggak ah,” jawabku malas.
“Loh kenapa? Yah.. lo masih gak bisa lupain cowok misterius itu ya?”
“Gue mau pulang ke tanah air aja. Gue udah kangen… sama semuanya,” jawabku datar sembari memerhatikan foto keluargaku yang sangat kurindukan.

Satu minggu setelah percakapan itu, kini aku akan segera meluncur ke tempat yang sangat aku rindukan.
Memang benar, mimpi hanyalah mimpi. Harusnya aku sudah cukup senang dengan ini semua. Kejadian yang benar – benar di luar dugaan. Dimulai dari pertemuan, canda-tawa, dan luka, maksudku perpisahan dengan tanpa sebuah kata perpisahan. Mungkinkah wanita itu berubah pikiran sehingga ia dapat kembali ke pelukannya?
***
Satu bulan telah kunikmati keindahan dan sejuknya alam tercinta ini. Namun masih saja aku belum bisa lupa dengan kenangan yang masih tersisa disana.
“Winaaa.. ayo jadi pergi kan? Ini bener – bener kesempatan emas buat lo!” ajaknya penuh semangat sembari menarik – narik lenganku yang masih saja betah menempel di kasur empuk ini. Ia mengajakku untuk menghadiri salah satu acara fenomenal yang mengharuskanku untuk menghadirinya, katanya. Meski tak yakin dan masih ragu, akhirnya aku ikuti juga keinginannya.
Di perjalanan sempat – sempatnya aku mengecek e-mail. Ada e-mail masuk dari Kirey, itu dikirim satu bulan yang lalu, tepat saat aku terbang kesini.
“Win, lo mungkin gak percaya sama yang gue omongin ini. Seseorang dateng kesini nyari lo, Win. Dia bilang dia nyari lo ke Cuxhaven tapi gak ada, dan akhirnya dia bisa sampai disini. Ada yang harus dia sampaikan katanya. Tapi gue bilang lo udah balik ke Indonesia. Cowok impian lo itu ternyata bener – bener nyata. Sori Win kalo selama ini gue selalu menertawakan lo. Gue yakin kalian pasti bakalan bisa ketemu lagi.”
***
            Acara talkshow ini sudah terlebih dahulu dimulai sebelum kedatangan kami. Tak percaya aku melihat sosok yang sedang duduk di kursi di atas panggung sana. Rasanya ingin aku berlari ke arahnya dan memintanya untuk menjelaskan mengapa dulu ia pergi begitu saja.
*percakapannya udah diterjemahkan ceritanya*
“Waktu itu aku tiba – tiba dipanggil untuk meluncurkan album perdanaku. Mereka memproses hasil rekamanku. Aku sangat senang sekaligus bingung.”
“Bingung kenapa?” tanya seorang presenter wanita dengan bahasa Inggrisnya.
“Aku harus meninggalkan seseorang di Jerman.”
“Wah apakah kamu sudah memiliki hubungan spesial dengan seorang wanita Jerman?”
“Ah, tidak. Dia bukan orang Jerman. Justru dia yang membuatku untuk bisa sampai kesini.”
“Maksudnya?  Apakah ada hubungannya dengan kedatangan ketiga kalinya kamu ke Indonesia?”
“Ya…..
 Aku sengaja kembali kesini untuk memastikan cintaku yang tertinggal di hati seorang gadis Indonesia,” tatapan kedua kornea mata coklatnya memandangku lekat – lekat sambil melemparkan senyuman manisnya yang begitu memesona.
Aku hanya tertegun melihatnya.. Dan…. bulir-bulir air mata haru menetes tanpa direncanakan seolah mengerti kata hati.
***
            Sebuah album foto unik dan dua ikan cupang telah menjadi saksi bisu perkenalan kami. Dalam diam ia berhasil mengumpulkan banyak bidikan foto wajahku. Lelaki misterius yang disebutkan Kirey waktu itu adalah dia yang sedang tertarik untuk mengambil foto seorang gadis Indonesia dengan helai kain yang tak pernah lepas dari kepalanya. Dia juga yang diam – diam memotretku saat sedang menikmati angin malam. Juga setiap pertemuan kami yang kukira dia hanya menganggapnya biasa saja. Dua ikan cupang yang kuberikan pun nyatanya telah sempat ia bawa. Hal yang paling ia sesali adalah saat ia harus segera kembali ke Thailand tanpa berpamitan padaku. Lagu – lagu yang ia ciptakan sekaligus nyanyikan itu ia akui terinspirasi dari pertemuan kami. Hingga akhirnya julukannya sebagai penyanyi kini bisa lebih diakui.
            Aksi tak terduga dan penuh kejutan ini ternyata tidak hanya ada pada peran yang ia mainkan di filmnya saja. Tetapi juga dalam nyata. Hal yang paling membuatku tak menyangka. Ternyata ia telah memutuskan untuk berpindah keyakinan, kini sejalan denganku. Ya Tuhanku…
Sesempurna inikah?
Air mata haru tak terbendung tak tertahankan lagi.
Apakah ini masih mimpi?

Tidak ada komentar:

@way2themes