“Well
doneeeee!” Berakhirlah mimpi – mimpi burukku, tidak enaknya makanan yang
kumakan, dikejar deadline juga
dihantui dosen pembimbing dan penguji. Aku telah melewati masa – masa akhir
perjuangan meraih strata satu di kampusku, dua jam yang lalu aku telah berhasil
melahap enak semua pertanyaan dosen penguji atas skripsiku. Ya, hari sidang itu
tiba dan kini telah berhasil aku lewati dengan indah sebanding dengan apa yang
telah aku perjuangkan selama ini. Tinggal menunggu hari dimana aku memakai
kebaya dan jubah hitam lengkap dengan toganya.
“Hari
wisuda nanti mau ngajak siapa?” tanya Dita dengan maksud tertentu, menurutku.
“Ya
ajak orang tua, kakak, sama temen – temen gue yang pengen dateng lah.”
“Temen
doang?” tanyanya yang semakin membuatku yakin bahwa ia hanya ingin menggodaku.
“Heemm..
Mulai deh ya. Apaan sih, Dit. Liat aja ntar ya seseorang pasti bakal datang
dalam hidup gue.”
“Iya,
iya, canda kok. Haha, serius amat.”
Kami
kembali pada dunia masing – masing. Dita masih belum lega dengan masa sidangnya
karena dosen pengujinya hilang satu. Bukan ditelan bumi, namun hanya saja
beliau dikabarkan sakit dan terpaksa harus menundanya sampai besok. Anehnya,
kenapa beliau bisa tahu bahwa besok ia akan sembuh. Tapi itu tidak perlu repot
aku pikirkan, yang harus kupikirkan sekarang adalah bagaimana perjalananku
selanjutnya.
Piring
bulat yang dipenuhi dengan potongan tahu dan kupat lengkap dilumuri oleh bumbu
khasnya telah mendarat di depanku sejak lima menit yang lalu. Aku sibuk
membalas sms, bbm, dan media
komunikasi lainnya dari teman-temanku yang menanyakan kabar kesuksesan
sidangku, termasuk ibu. Kubalas spesial pada ibu, namun pada yang lainnya aku
hanya membalas dengan kalimat yang dicopy-paste.
Karena melihat lalat yang nampaknya mulai berterbangan mendekati makananku,
akhirnya kutinggalkan pesan – pesan itu dan segera melahap makanan yang sedari
tadi kubiarkan.
“Win,
udah ini lo mau kemana?” Dita yang ada di depanku memulai percakapannya.
“Mau
pulang.”
“Yaelah,
serius. Maksudnya lo udah punya persiapan kerja atau mau lanjut S-2?”
“Haha
ya elonya yang gak jelas pertanyaannya. Gak tau nih, belum yakin juga,” jawabku
ragu.
“Pengennya
sih gue lanjut S-2…” sambungku.
Sebenarnya sejak SMA aku telah berniat untuk melanjutkan
studiku sampai S-3, namun tentunya harus melalui beasiswa. Tak mungkin aku
membiarkan rambut kedua orangtuaku menjadi rontok karena memikirkan biaya
studiku yang pastinya lebih mahal dibandingkan studi S-1. Mimpiku juga tak
kalah, keinginanku sangat besar untuk bisa melanjutkan studi ke luar negeri.
“Jadi
diem-diem lo udah daftar beasiswa ke luar negeri??” matanya yang agak sipit
menjadi bulat nyaris keluar.
Tak
bisa aku melupakan respon sahabatku yang begitu kaget ketika aku bercerita
bahwa diam – diam aku sudah mendaftarkan diri untuk ikut seleksi beasiswa luar
negeri yang kudengar dari dosen waliku.
Tak
perlu tanggung – tanggung, bermimpi hanya untuk bisa dibalas tweet oleh pemilik akun @ohohmario,
tetapi cobalah bermimpi untuk bisa bertemu dan bersanding dengannya. Begitu
juga dengan cita – cita, jangan hanya bermimpi untuk bisa meraih beasiswa di
universitas terbaik di Indonesia, tetapi bermimpilah untuk bisa berada di
universitas terbaik di dunia.
Mimpi. Mimpilah setinggi langit,
setidaknya ketika kau jatuh, kau masih bisa tersangkut di menara atau pohon.
“Orang
tua lo emangnya bakalan setuju?” tanyanya sedikit ragu.
“Gue
yakin, kalo gue udah berhasil dapetin beasiswa itu, orang tua gue juga gak akan
mungkin ngelarang kok. Mereka juga pasti bangga.”
Boleh kan, kali ini aku menentukan
pilihanku sendiri. Dulu aku sudah mengalah pada Mama, Papa, dan Kakak untuk
tetap tinggal dan melanjutkan studi di kota kelahiranku ini dengan jurusan
pilihan kalian. Dan membuang jauh impian – impianku. Sekarang, tolong beri aku
kesempatan..
Tak
pernah aku merasa ragu untuk melakukan sesuatu yang kelak memang itu akan
menjadikanku lebih baik. Aku belajar keras untuk bisa lolos mendapatkan beasiswa
itu. Meski aku masih ragu negara mana yang harus kupilih. Pak Royo, dosenku
mengatakan bahwa ada tiga negara yang sudah pasti menyalurkan program
beasiswanya -Jepang, Jerman, Korea-. Dan tambahan darinya yang mengejutkan,
Thailand! Tapi beliau bilang itu masih belum pasti.
***
“Ya
ampun ada ya makhluk kayak gini,” ucapku sembari tak henti memandangi layar
laptop yang sedang memutar salah satu film remaja Thailand. Aku benar – benar
terpesona dengan wajah tampan dan senyum manis yang ada pada lelaki
Thailand-Jerman ini. Ia memerankan seorang cowok cool yang memiliki sejuta aksi tak terduga untuk meluluhkan hati
gadis yang ia cintai. Gadis hitam jelek kuper
yang berevolusi menjadi putih cantik dan lebih trendi. Cinta bisa mengubah
segalanya. Andai itu ada dalam kenyataan, terutama dalam hidupku. Ya Tuhan…
Jarang
sekali aku menyukai film bernuansa romance,
aku lebih menyukai film – film horor atau action
yang penuh teka-teki. Baru kali ini juga aku menyukai aktor dari Asia. Berbeda
dengan teman-temanku yang begitu tergila-gila dengan aktor-aktor tampan Asia,
khususnya Korea. Entah siapa nama – namanya pun aku lupa, terlalu rumit untuk
diingat. Tidak seperti yang satu ini, Mario Maurer. Namanya begitu mudah kuingat
sejak pertama kali aku mendapati nama asli dan biodatanya dari beberapa situs
di internet.
“Udah
jangan dipelototin mulu. Dosa loh. Haha..” tegur Dita yang berhasil mengedipkan
mataku yang sedari tadi sukses tak berkedip sekalipun. Sesekali aku anteng mengcapture screen setiap wajah close-upnya pada film – film yang telah
ku-download.
“Dia
seumur sama kakak gue loh, Dit! Gimana ya?” ucapku spontan ketika melihat biodata
yang berisi tanggal lahirnya, selisih lima tahun denganku.
“Gimana
apanya?”
“Ya
gimana kalo dia keburu nikah sama orang lain waktu gue lulus kuliah nanti?”
“Bhuahahahah,”
tawanya memecah keheningan malam. Dita benar – benar menertawakan pertanyaanku
yang padahal sama sekali aku tidak ingin membuatnya tertawa atau sengaja
menghiburnya.
“Tenang
aja, Win. Kalo jodoh gak akan kemana.” jawabnya sambil mengelus kepalaku. Jawaban
yang terdengar bijak namun dengan intonasi yang seolah mengejek.
Sebenarnya
malam itu ia sengaja berpindah tidur dari rumahnya ke kamarku untuk belajar
bersama. Esoknya akan ada ulangan bahasa Jerman! Kenapa bahasa asing yang kami
pelajari harus Jerman? Padahal Thailand kan lebih keren dan menantang.
Menantang untuk dipelajari karena tulisannya yang terlihat sama rumitnya dengan
huruf Jepang yang sering aku lihat pada komik Jepang online. Juga.. agar aku tidak kerepotan untuk berbincang dengan Kak
Mario bila suatu saat nanti takdir mempertemukan kita. Mungkin alasan yang
kedua lebih tepat dibanding alasanku yang pertama.
Tak
ada yang tidak mungkin memang, selama kita masih ada di dunia yang sama.
Kulihat kabarnya di media, ia pernah datang ke Indonesia dua kali. Yang kedua
karena menghadiri acara talkshow
sebuah film yang dimainkannya. Dan yang pertama, alasan yang masih belum aku
percaya sekaligus agak iri adalah dia datang kesini hanya karena untuk
menghadiri undangan acara ulang tahun salah seorang cewek penggemarnya. Entah
dibayar berapa. Oh.. yang jelas itu tetap sangat membuat iri para penggemar
lainnya, termasuk aku.
Masa
putih abu – abu itu kini telah berlalu, bahkan sampai puluhan film lain telah
kuputar dan kutonton bersama teman – teman kampusku. Tetap saja Mario Maurer
menjadi favoritku. Aktor yang tak akan pernah aku temui secara langsung, itu
kata teman – temanku, bukan kataku.
Berbulan
– bulan kemarin aku memang sempat melupakan dia. Jadwal target – targetku
sementara telah berhasil menyingkirkan tempelan foto Kak Mario dari
pandanganku. Hapalan teori – teori skripsiku juga tak kalah semangatnya
menggantikan posisi Kak Mario di dalam setiap mimpiku. Aku juga telah lama
tidak mencari tahu berita tentang dirinya di internet.
Wisuda
telah terlaksana. Ijazah dengan indeks prestasi memuaskan juga lengkap dengan
gelar dibelakang namaku telah kuterima.
Sekarang
aku kembali mengingatnya karena baru saja tadi ia mengingatkanku. Ia datang ke
mimpiku. Sebelumnya aku telah berdoa kepada Sang Maha Pemberi Hati,
pertemukanlah aku dengan jodohku. Apa itu ada hubungannya? Hah.. Aku bukan anak
SMA lagi, bukan anak putih abu yang bisa selalu berkhayal tinggi tanpa
mengingat secara realistis. Semakin dewasa aku semakin tahu bagaimana
sebenarnya hidup. Terlalu sempit jika aku hanya memikirkan keinginanku yang
terlalu berlebihan. Ya, mungkin berharap bisa bertemu dengan aktor luar negeri
tidak terlalu berlebihan, namun berharap bahwa ia adalah jodohku, itu yang
sangat berlebihan. Haha. Lagi pula belum tentu sifat aslinya sama baik seperti
dalam film – film fiksi yang kutonton itu.
***
“Udah
dipikirin mau milih kemana?”
“Udah
dong!” jawabku meyakinkan.
“Kemana?”
“Thailand,”
jawabku mantap. Namun ternyata sukses membuat Dita sedikit menyemburkan air
minuman dari mulutnya.
“Hahaha,
jangan bilang lo ke Thailand karena biar bisa ketemu Mario Maurer!”
“Ih
pinter banget sih, lo bisa baca
pikiran gue ya?” responku yang seolah tak memperdulikan lagi ejekannya.
“Kenapa
lo gak milih Korea aja? Ntar gue nitip salam buat Lee Min Hoo.”
Percakapan
bersama satu sahabatku yang selalu diselingi canda tawa itu berakhir ketika aku
telah dipanggil oleh Pak Royo.
Dua
minggu berlalu. Kudapati kabar gembira, entah gembira atau sedikit sedih. Aku
berhasil mendapatkan beasiswa! S-2 lengkap dengan S-3nya. Alhamdulillah.. Tak
henti aku bersyukur. Meski memang impian ke Thailand berakhir begitu saja..
Padahal satu bulan ini aku telah mencoba mempelajari bahasa Thailand dan
sedikit membaca – baca tentang keadaan disana. Namun, jauh hari Pak Royo telah
memberi kabar bahwa beasiswa Thailand ternyata tidak ada, aku bisa saja tetap
melanjutkan studi kesana tetapi dengan menanggung segala biayanya sendiri. Mana
mungkin. Akhirnya, aku memilih Jerman. Holy Roman Empire yang terkenal dengan
katredal tertinggi di Ulm ini tentu lebih jauh dibandingkan dengan kota
kelahiran Mario yang masih ada di wilayah Asia sama dengan negaraku.
Dan
takdir akan segera membawaku untuk sampai ke Negeri museum roti itu. Rasanya
memang tak mudah. Takut, gerogi, sedih, senang berkecamuk menjadi satu rasa
yang tak dapat kudefinisikan. Jangankan ke luar negeri, ke luar kota pun hanya
tiga kali aku pergi sendiri selebihnya selalu ada yang menemani, ke luar pulau
juga aku belum pernah.
Dengan
mengandalkan kemampuan bahasa Inggris dan sedikit bahasa Jerman yang pernah
kupelajari dulu di bangku SMA, aku akan segera terbang mengangkasa ke negeri
itu. Namun beruntung ternyata ada beberapa bulan yang disediakan untuk para
calon mahasiswa pemenang beasiswa dari negaraku untuk mempelajari bahasa
Jerman. Guna memudahkan kami dalam menjalani studi disana. Mario Maurer kembali
sedikit tersingkirkan dengan kesibukanku dan kefokusanku untuk menempuh jalan
baru.
***
Udara
yang tak jauh berbeda dengan tanah airku. Namun agak sedikit lebih panas, jelas
ini dekat dengan pantai. Satu semester telah kulalui disini, mulai hari ini aku
akan sedikit melakukan refreshing
bersama teman – temanku. Pantai Dunen, Cuxhaven yang tak begitu jauh dari
Hamburg tempatku mengemban ilmu. Andai 10 Euro cukup membuat aku sampai ke
rumahku tercinta dan kembali kesini, aku pasti akan lebih memilih untuk
menghabiskan seluruh waktu liburku untuk pulang kampung. Keadaan berbeda, namun
tak ada salahnya juga apabila aku menikmati pelanconganku selama di negeri ini.
Rasanya
ingin kulempar jauh handphone datar
yang sedang ada pada genggamanku ini. Namun setelah kupikir lagi, mana mungkin
aku membuangnya sedangkan aku telah susah payah menabung untuk bisa membelinya.
Namanya terpampang jelas di deretan situs yang muncul di layar datar ini dengan
tema hot news, ia dikabarkan akan
segera menikah dengan seorang Thai-China yang bukan aktris rupanya. Tapi Mario
tak pernah berkata banyak dan merespon pertanyaan – pertanyaan dari para
wartawan yang jelas super kepo itu.
Apa benar ia akan segera menikah? Sedih sekali rasanya. Meski aku tahu, itu
tetap tidak akan berpengaruh untukku. Sudah atau belumnya ia menikah dengan
wanita itu tidak akan berpengaruh terhadap jalan hidupku.
Pikiran
konyol lagi – lagi datang menghantui. “Dia lagi apa ya disana? Andai gue bisa
pergi ke negaranya.” gumamku tak sadar. Apa iya dua ikan cupangku ini tidak
akan pernah bisa mendarat di tangannya?
“Pasti
dia lagi mikirin calon his beautiful wifenya itu,” jawabnya asal.
Kirey teman dekatku semenjak kami menginjakkan kaki bersama di negeri ini.
“Merusak
suasana aja lu,” balasku sembari melemparkan kerikil kecil ke arahnya.
“Hahaha.”
Ia banyak memiliki kemiripan dengan Dita, sahabat yang sangat kurindukan.
Aku
dan Kirey asik saja bersenda gurau juga sesekali mengabadikan foto diatas tikar
yang dipasang dekat pesisir pantai, sementara yang lainnya bermain air dan juga
voli.
Nafas
bumi yang berhembus sesekali membuat helai kain penutup rambutku bergerak tertiup.
Matahari belum begitu mengeluarkan tenaganya untuk membakar kulit kami.
“Win,
win, liat deh itu cowok kayaknya moto – moto ke arah sini mulu,” ucap Kirey
memberitahu.
“Mana,
mana?” jawabku segera menoleh ke arah jari Kirey menunjuk, arah belakangku. Tak
kudapati seseorang yang sedang memotret disana. Hanya ada pohon dengan daun -
daunnya yang sesekali jatuh tertiup angin, juga orang – orang yang sedang
berusaha menyoklatkan kulitnya.
“Yah…
Udah pergi dia,” sambungnya cepat saat aku menoleh mencari – cari orang yang
dimaksud Kirey itu.
“Yah
lo kegeeran aja kali, siapa tahu
kebetulan aja pas lo liat ke arah dia, dia lagi motret ke arah sini,”
pernyataanku yang jelas - jelas sepertinya tidak diterima oleh Kirey.
Sebenarnya
aku agak penasaran juga dengan orang yang dimaksud oleh sahabatku itu, namun
segera aku buang jauh rasa penasaran itu karena aku harus segera kembali ke
penginapan. Kami menginap di tempat yang tidak begitu mahal, ya biaya yang
standar untuk mahasiswa seperti kami. Temanku tidak hanya orang se-Negara saja,
ada juga dari Malaysia, Singapore, Jerman asli, juga masih banyak yang lainnya.
Tidak mudah memang hidup di negeri orang, namun kecemasan itu sirna ketika kita
ingat bahwa kita tak sendiri disini. Dan bagaimana perjuangan kita untuk bisa meraih
cita – cita sampai harus berada di tempat ini.
Malam
yang justru terasa panas ini membuatku tak bisa dan tak ingin tidur. Kuputuskan
untuk bergegas ke luar hanya sekedar untuk mencari angin dan melepas kegerahanku.
Malam yang tak ramai tanpa Kirey menemaniku, ia sedang sibuk dengan mimpinya
yang benar – benar tak bisa kubuyarkan. Temanku yang lainnya pun terlihat
sangat pulas, mungkin mereka terlalu lelah karena tak hentinya bermain di bawah
sinar matahari dari matahari bertugas hingga kembali bersembunyi untuk
mengganti tugasnya dengan bulan. Bulan yang nampak bulat sempurna lengkap
dihiasi bintang – bintang yang sedang terpantul pada kedua kornea mataku
sekarang.
Beberapa kali aku mengusap-usapkan telapak
tangan kananku ke telapak tangan kiriku, begitu pun sebaliknya. Ternyata di
luar hembusan angin dingin menjadi lebih terasa keberadaannya dibandingkan
dengan di kamar penginapanku tadi. Sekelebat bayangan orang terlihat dari ujung
mata kananku. Ketika aku menoleh, hanya ada seseorang kudapati sedang berjalan
menuju ke lantai bawah. Dari balik punggungnya aku memandangnya jauh sampai
lenyap ditelan kegelapan. Laki – laki tinggi tegap nampaknya. Apa ia begitu
kedinginan sampai harus memakai jaket hitam setebal itu? Aneh.
***
Empat
hari sudah aku menikmati liburanku disini. Semenjak malam itu, aku jadi sering
bertemu dengan sosok lelaki misterius ini. Kupikir ia orang jahat yang sengaja
mencari mangsa di tengah hari liburan seperti ini, namun nyatanya tidak.
Kesimpulan sementaraku itu hadir saat aku sempat bertegur sapa dengannya.
“Kirey
pergi gak bilang – bilang ah!” gerutuku tanpa ada yang mendengar. Kekesalanku
membuat aku berbalik badan tak terkontrol dan menabrak seseorang. Seperti
adegan yang kulihat di filmnya saat ia memegang erat tangan gadis yang
mencintainya nyaris jatuh dari panggung. Bedanya, ini bukan orang yang kukenal
dan kami tidak sedang berada di atas panggung. Sempat aku memandang kedua mata
coklatnya, ya ampun!
“You’re almost fall to break your
neck!” ucapan dan suara yang rasanya pernah kudengar. Aku
segera melepaskan tangannya dan berdiri tegak.
“I’m sorry..”
jawabku gugup. Gugup sekali.
Meski
ia selalu mengenakan pakaian yang begitu tertutup hingga wajahnya pun tak dapat
kulihat, aku bisa merasakan dan yakin bahwa ada sinar wajah terang dibalik
pakaian gelapnya. Yaa meski sebenarnya aku pun pernah menyimpan kecurigaan
tentang adanya wajah seram dibalik kain seperti masker penutup wajahnya itu.
Tidak
terlalu sulit untuk aku berkomunikasi dengannya, ia menggunakan bahasa Inggris
yang hampir sembilan puluh persen mudah untuk aku mengerti. Jarang ia
menggunakan bahasa Jerman, sepertinya ia menghargaiku yang datang dari Asia. Belum
banyak yang kami ceritakan tentang riwayat masing – masing. Aku pun memang tak
mudah percaya untuk menceritakan segala hal tentangku pada orang asing yang
belum jelas dari mana asal-usulnya. Tetapi bicara dengannya cukup mengasikkan.
Ia keturunan Jerman, namun tidak menetap disini katanya. Ia hanya ingin mencari
angin segar dan melepas penat dari pekerjaannya untuk sementara disini. Aku
juga sempat menceritakan padanya tentang diriku yang telah begitu mengagumi dan
jatuh hati pada seorang aktor Asia, hingga impianku untuk pergi ke Thailand
yang terbuang dan terlempar kesini.
Pagi
yang cerah. Berawal dari candaan yang entah konyol atau tidak hingga aku dan
Kirey saling melempar bantal. Melempar selimut lengkap dengan gulingnya dan
segala apa yang bisa dilempar. Tertawa lepas hingga kami kejar – kejaran dan
tak tersadar aku telah beranjak keluar pintu kamar dengan kostum pakaian tidur
yang kusut, namun tetap rambutku tertutup.
Mulutku
seketika menganga dan mataku membulat sempurna nyaris keluar dari tempatnya.
Kudapati seorang pria yang juga berlari dari dalam pintu sebelah kamarku yang
entah apa alasannya. Rasanya hampir pingsan. Aku benar – benar kaget. Mengucek
mata dan menelan air ludahku sendiri memastikan bahwa aku telah bangun dari
mimpiku atau hanya sedang melindur. Ia hanya menempatkan telunjuk rampingnya di
depan bibir manisnya seolah mengisyaratkanku untuk tetap diam membisu, tak
berucap apalagi berteriak. Sebenarnya ia juga tak kalah kagetnya denganku,
terlihat dari mimik wajahnya yang jelas panik.
Dia.
Dia. Dia yang selama ini sering hadir di mimpiku. Mario.. Maurer!! ><
Kamu tak lagi menjadi bayangan semu
yang tak bisa kutangkap, kini kamu terpampang nyata terpantul indah pada kedua
kornea hitamku.
Pemilik
mata coklat yang memegang erat tanganku ketika hampir jatuh itu ternyata dia.
Orang yang selama ini membuat aku dianggap gila oleh teman – teman. Aaaa…. Senangnya
bukan kepalang, entah apa yang harus kulakukan. Yang jelas ia memintaku untuk
tidak menceritakan keberadaannya pada siapa – siapa.
“I haven’t got married. She’s
leaved me… I just want to forget all my problems that I have,”
jelasnya meyakinkan.
Ternyata
gosip yang kubaca di media sosial itu memang hanya benar gosip. Kak Mario belum
menikah dengan siapa pun. Meski kabar itu memang salah, tapi hubungan Kak Mario
dengan wanita itu sedikit ada benarnya. Wanita itu pacarnya, lebih tepatnya
sekarang adalah mantan, mereka hampir saja bertunangan. Namun wanita itu malah
pergi meninggalkan Kak Mario dan hanya menyisakan luka. Bodoh sekali, pikirku.
Bodoh karena wanita itu telah menyia-nyiakan lelaki yang mencintainya. Dan
bodoh karena Kak Mario tak memilihku, eh maksudku ia telah memilih wanita yang
salah untuk dicintai.
Kini
sudah dua minggu Kak Mario sengaja berdiam lama di tempat kelahiran ayahnya ini
untuk melupakan semua kenangan pahit itu sekaligus menghindar dari kejaran para
wartawan yang selalu mengganggunya setiap waktu. Situs itu tak berbohong, benar
adanya bahwa ia memang memiliki sifat yang begitu humble. Buktinya ia mau menerima keberadaanku, sebagai temannya,
penggemarnya, pendengar setianya, atau entahlah.
***
Kotak
surat tak sering aku buka. Benar saja isinya pasti hanya selebaran – selebaran
promosi bimbingan belajar atau kompetisi yang sama sekali tak kuminati, atau
juga surat – surat yang berisi tagihan. Ya tak semua yang kunikmati disini
adalah free.
Tiga
semester telah kulalui. Kenangan manis yang berakhir hambar itu masih terngiang
dalam ingatanku. Meski sesekali bisa terlupakan oleh kesibukkan dan kepadatan
jadwalku.
Berbulan
– bulan yang lalu aku merasa telah begitu dekat dan mengenalnya.
Hamburg-Bremerhaven-Cuxhaven tak hanya kulewati sekali. Namun, aku tidak
mengharapkan apapun pada nyatanya. Aku cukup sadar diri saat itu, di matanya
aku hanyalah seorang penggemar yang mempunyai satu rahasianya. Mungkin ia
sengaja berbuat baik padaku juga dengan maksud agar aku senantiasa bersedia
menyimpan rapi rahasianya itu dari media. Ia menghilang begitu saja. Padahal
pagi itu, aku sempat menyimpan di depan pintu kamarnya sebuah aquarium kecil
berisi dua ikan cupang yang telah kurawat hingga cukup besar untuk sengaja
kuberikan padanya. Aku kembali ke Hamburg tanpa ada ucap kata perpisahan. Hanya
sebuah tulisan yang kutinggalkan,
“Thanks for all this time. I’m so
happy.
Think of me as your friend, not
just as your fan.”
“Win,
liburan ini kita mau kemana nih? Cuxhaven
lagi yuk?” tanya Kirey yang begitu antusias ketika melihat website dari salah satu tempat penginapan disana yang sedang
memberikan harga promosi cukup lumayan.
“Nggak
ah,” jawabku malas.
“Loh
kenapa? Yah.. lo masih gak bisa lupain
cowok misterius itu ya?”
“Gue
mau pulang ke tanah air aja. Gue udah kangen… sama semuanya,” jawabku datar
sembari memerhatikan foto keluargaku yang sangat kurindukan.
Satu
minggu setelah percakapan itu, kini aku akan segera meluncur ke tempat yang
sangat aku rindukan.
Memang
benar, mimpi hanyalah mimpi. Harusnya aku sudah cukup senang dengan ini semua.
Kejadian yang benar – benar di luar dugaan. Dimulai dari pertemuan, canda-tawa,
dan luka, maksudku perpisahan dengan tanpa sebuah kata perpisahan. Mungkinkah
wanita itu berubah pikiran sehingga ia dapat kembali ke pelukannya?
***
Satu
bulan telah kunikmati keindahan dan sejuknya alam tercinta ini. Namun masih
saja aku belum bisa lupa dengan kenangan yang masih tersisa disana.
“Winaaa..
ayo jadi pergi kan? Ini bener – bener kesempatan emas buat lo!” ajaknya penuh
semangat sembari menarik – narik lenganku yang masih saja betah menempel di
kasur empuk ini. Ia mengajakku untuk menghadiri salah satu acara fenomenal yang
mengharuskanku untuk menghadirinya, katanya. Meski tak yakin dan masih ragu, akhirnya
aku ikuti juga keinginannya.
Di
perjalanan sempat – sempatnya aku mengecek e-mail.
Ada e-mail masuk dari Kirey, itu
dikirim satu bulan yang lalu, tepat saat aku terbang kesini.
“Win, lo mungkin gak percaya sama
yang gue omongin ini. Seseorang dateng kesini nyari lo, Win. Dia bilang dia
nyari lo ke Cuxhaven tapi gak ada, dan akhirnya dia bisa sampai disini. Ada
yang harus dia sampaikan katanya. Tapi gue bilang lo udah balik ke Indonesia.
Cowok impian lo itu ternyata bener – bener nyata. Sori Win kalo selama ini gue
selalu menertawakan lo. Gue yakin kalian pasti bakalan bisa ketemu lagi.”
***
Acara talkshow
ini sudah terlebih dahulu dimulai sebelum kedatangan kami. Tak percaya aku
melihat sosok yang sedang duduk di kursi di atas panggung sana. Rasanya ingin
aku berlari ke arahnya dan memintanya untuk menjelaskan mengapa dulu ia pergi
begitu saja.
*percakapannya udah
diterjemahkan ceritanya*
“Waktu
itu aku tiba – tiba dipanggil untuk meluncurkan album perdanaku. Mereka
memproses hasil rekamanku. Aku sangat senang sekaligus bingung.”
“Bingung
kenapa?” tanya seorang presenter wanita
dengan bahasa Inggrisnya.
“Aku
harus meninggalkan seseorang di Jerman.”
“Wah
apakah kamu sudah memiliki hubungan spesial dengan seorang wanita Jerman?”
“Ah,
tidak. Dia bukan orang Jerman. Justru dia yang membuatku untuk bisa sampai
kesini.”
“Maksudnya? Apakah ada hubungannya dengan kedatangan
ketiga kalinya kamu ke Indonesia?”
“Ya…..
Aku sengaja kembali kesini untuk memastikan
cintaku yang tertinggal di hati seorang gadis Indonesia,” tatapan kedua kornea
mata coklatnya memandangku lekat – lekat sambil melemparkan senyuman manisnya
yang begitu memesona.
Aku
hanya tertegun melihatnya.. Dan…. bulir-bulir air mata haru menetes tanpa
direncanakan seolah mengerti kata hati.
***
Sebuah album foto unik dan dua ikan cupang telah menjadi
saksi bisu perkenalan kami. Dalam diam ia berhasil mengumpulkan banyak bidikan
foto wajahku. Lelaki misterius yang disebutkan Kirey waktu itu adalah dia yang
sedang tertarik untuk mengambil foto seorang gadis Indonesia dengan helai kain
yang tak pernah lepas dari kepalanya. Dia juga yang diam – diam memotretku saat
sedang menikmati angin malam. Juga setiap pertemuan kami yang kukira dia hanya
menganggapnya biasa saja. Dua ikan cupang yang kuberikan pun nyatanya telah
sempat ia bawa. Hal yang paling ia sesali adalah saat ia harus segera kembali
ke Thailand tanpa berpamitan padaku. Lagu – lagu yang ia ciptakan sekaligus
nyanyikan itu ia akui terinspirasi dari pertemuan kami. Hingga akhirnya
julukannya sebagai penyanyi kini bisa lebih diakui.
Aksi tak terduga dan penuh kejutan ini ternyata tidak
hanya ada pada peran yang ia mainkan di filmnya saja. Tetapi juga dalam nyata. Hal
yang paling membuatku tak menyangka. Ternyata ia telah memutuskan untuk
berpindah keyakinan, kini sejalan denganku. Ya Tuhanku…
Sesempurna
inikah?
Air
mata haru tak terbendung tak tertahankan lagi.
Apakah
ini masih mimpi?

Tidak ada komentar: